Tentang Usaha, Iman & Melepaskan Hasil
Aku lupa tepatnya tahun berapa, tapi aku masih ingat betul kejadiannya.
Kami dalam perjalanan pulang ke Bintaro dari Ancol. Waktu itu sekitar jam 4-5 sore, di luar langit teduh, matahari mulai bersiap-siap istirahat. Suasana di dalam mobil sedikit sendu. Kami baru saja pulang dari salah satu lomba matematika yang cukup besar di Indonesia. Dan anak sulung kami tidak mendapatkan medali apa pun. Selain sebutan finalis tentunya, karena ini adalah perjalan akhir dari rangkain tahapan lomba yang sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya.

Waktu pertama kali dia lolos di tahap awal, sesungguhnya kami gak menyangka. Dia baru kelas 3 SD waktu itu. Kami masih dalam tahap eksplorasi bakat dan minatnya. Kebetulan sekolahnya mengikuti lomba ini dan semua anak diikutkan babak penyisihannya. Dan saat Miss Meitha menyampaikannya ke kami, pikiran kami cuma, “Is this his track?”
Jadi kami ikuti terus prosesnya, penyisihan, kota, propinsi sampai nasional sulung kami lolos. Pagi itu datanglah kami ke Ancol. Sampai lokasi, kembali kaget, karena yang datang jumlahnya mungkin ribuan. Sebagian diantar bis, sebagian lagi diantar mobil sekolah. Kami ngobrol dengan sebagian wali murid. Ada guru yang datang dari Papua. Ada serombongan orang tua dari Jawa Timur, Lampung dan banyak lagi daerah di luar Pulau Jawa. Wow, besar juga rupanya lomba ini. Ini pertama kali kami ikut lomba sebesar ini.
Ketika tiba pengumuman, si sulung yang pendiam rupanya berharap besar. Namun sampai medali terakhir diumumkan, namanya tak kunjung juga disebut. Segera setelah nama terakhir disebut, kulihat wajahnya yang kehilangan cahaya. Matanya meredup, lalu mulai berair. Kupeluk pelan laki-laki kecilku, kuajak jalan ke mobil, tempat ayah dan adeknya menunggu. Langkahnya gontai, tangisnya tidak bersuara. Ibu mana yang kuat melihat anaknya menangis seperti itu?
Tapi airmataku kuhapus sebelum dia melihat. Leherku yang serak menahan tangis, kubersihkan dari dahak yang ada. Lalu tetap dengan nada netral dan wajah penuh harapan, kubilang,
“Sedih boleh, tapi jangan lama-lama. You’ve done your best kan? Finalis lo mas. Kalau misalnya diranking, mas G ada di ranking puluhan mungkin senasional. Sementara yang ikut lomba ribuan. Kita coba tahun depan lagi ya.”
Dari kecil sulung kami memang old soul. Kepalanya banyak bergulat sama pikiran-pikiran reflektifnya sendiri. Dia masih nangis walaupun pelan selama perjalanan Ancol sampai Bintaro. Kebayang kan berapa lama itu? Kami berusaha menghibur dengan memberinya privilege boleh memilihkan makan malam hari itu for his effort selama bulan bulan terakhir. Dia menanggapinya dengan datar. Tapi lalu dengan suara pelan, dia bilang satu kalimat yang membuat saya gak akan pernah lupa. Begini katanya.
“Kenapa kalah bu?
Katanya kalau udah usaha, pasti ada hasilnya.
Ini Allah yang bikin kan bu? Kenapa Allah bikin G kalah?”
Sebuah pertanyaan yang membuatku super hati-hati melakukan framing atas kekalahan dan kemenangan sejak saat itu. Kami ingin anak anak tumbuh jadi manusia yang pantang menyerah. Tapi kami juga ingin anak-anak paham porsinya sebagai hamba Allah. Bahwa pada akhirnya, Allah yang bikin keputusan, bukan kita, bukan manusia. Dan alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan bagiku menjawabnya saat itu. Dengan sedikit gemetar, kujawab,
“Allah kalau mau bikin mas G menang atau kalah itu gampang mas.
Allah itu Maha Kuasa.
Kalau Allah mau mas G menang, dibikinlah jurinya ngantuk, salah kasih nilai, jadi lebih tinggi deh nilai mas G.
Kalau Allah mau mas G kalah, dibikinlah jurinya galak, salah sedikit, coret, salah sedikit coret. Kalah deh. “
“Kok gitu? Jadi gak perlu belajar dong G.”
Dalam hati kubilang, tenang Fan, tenang. Jawaban ini sudah kuprediksi. Dan sudah kuantisipasi jawabannya. Kulanjutkan jawabanku.
“Gini mas.
Mas pikir kalau mas menang lomba itu, karena mas paling pinter?
Bukan mas.
Bisa jadi ada yang lebih pinter, tapi gak tahu ada info lomba ini.
Bisa jadi ada yang masuk final, tapi gak bisa ikut karena ibunya masuk rumah sakit.
Kalau dia ikut, sebenernya dia yang menang bukan mas G.
Jadi menang kalah itu cuman giliran mas.
Bukan penanda siapa yang paling pinter.
Soal kalah juga sama.
Mas pikir kalau mas G kalah, artinya mas lebih bodoh dari yang lain? Gak.
Ada banyak yang bikin orang menang atau kalah.
Bisa jadi dia udah ikut lomba jauh lebih banyak dari mas G.
Mas baru berapa kali ikut lomba?
Dia mungkin udah puluhan kali, hampir menyerah, sama Allah dikasih kemenangan.
Biar dia kembali semangat.
Atau ayahnya habis meninggal, dikasih menang sama Allah sebagai hiburan.
Menang kalah itu cuman giliran mas, Allah yang kasih.
Tapi effort dan ilmunya selamanya punya mas G, gak akan ada yang bisa ambil”
Percakapan sesungguhnya jauh lebih panjang. Tapi aku ingat betul pertanyaan itu disampaikan dia di fly over dekat pom bensin Shell Bintaro. Sedihnya masih ada, tapi rupanya sebagian dari kata-kataku ada yang menyembuhkan harga dirinya. Sehingga wajah melorotnya tidak terlalu kentara lagi. Sejak itu mantra itu selalu kuulang,
“Allah kalau mau bikin kamu menang atau kalah mah gampang.
Menang kalah itu giliran.”
Fast forward di minggu-minggu belakangan. Dia kembali bergelut dengan lomba-lombanya. Kali ini satu lomba cukup bergengsi yang dia sungguh-sungguh persiapkan. Pelaksanaannya online pas libur lebaran. Dia sampai bersedia ditinggal di rumah karena lomba ini sementara kami serumah pergi jalan-jalan pagi. Aku ingat sumringahnya dia turun dari kamarnya setelah selesai mengerjakan soal-soal itu.
Ketika pengumuman keluar, ternyata dia gak lolos masuk ke babak final. Karena dia di boarding, aku gak bisa lihat ekspresinya. Tapi aku yakin, wajah melorotnya jauh lebih terkendali kali ini karena kematangan usianya. Namun kesedihannya pasti berkali lipat. Aku lihat effortnya yang luar biasa untuk lomba ini. Dan biasanya dia selalu bisa menjelaskan kenapa dia gagal di satu lomba. Lalu dengan mudah menerima hasilnya meskipun kecewa. Tapi tidak kali ini. And as his mom, I could feel that.
Aku berusaha meraba, what should I do? Fisikku mungkin tetap bergerak tapi hatiku sedang dalam kondisi full pause.
Dia sungguh gelisah, gak paham di mana kesalahannya sampai gak lolos. Dengar salah satu pendapat temanku, dia minta aku banding sama hasil pengumumannya untuk mendapatkan kepastian. Hmm, di sini aku agak ragu. Should I? Should I not?
Lalu kuputuskan aku akan coba jalur banding. Bukan untuk mengubah hasil, tapi lebih memberi kejelasan, jawaban buat si sulung. Minimal kami jadi tahu kesalahannya di mana dan menjadikannya pelajaran. Bismillah.
Dalam proses banding terungkap bahwa bukan nilai yang membuatkan tidak masuk babak final. Tapi dia tidak mematuhi salah satu aturan administrasi yang ada, sehingga langsung didiskualifikasi. Kukejar lagi prosesnya untuk lebih detail. Masih gak terima, proses banding masih kulanjutkan. Kubilang, kalau memang ada kekeliruan dari awal, kenapa gak diingatkan? Minimal di awal harus diingatkan, itu argumenku.
Setelah melalui proses banding yang panjang, pihak penyelenggara akhirnya sepakat menerima bandingku. Fiuh. Kupikir perjuanganku berakhir di sini. Tapi tunggu dulu.
Si sulung diputuskan tidak didiskualifikasi tapi dikenai penalti atas kesalahan administrasinya. Aku menghormati keputusan penyelenggara. Kupikir mereka cukup bijak menyelesaikan masalah ini. Mengakui kesalahan dari pihaknya yang lalai dalam mengingatkan, namun juga tetap meminta si sulungku untuk bertanggung-jawab atas kesalahannya. Fair enough.
Setelah dikenai penalti, ternyata nilainya tak cukup lagi masuk ke babak final. Ah. Hanya sampai ke waiting list, yaitu daftar finalis cadangan-lah, sebut saja begitu. Hanya bisa ikut final kalau tidak semua finalis di atasnya mendaftar ulang. Allahu akbar!
Lagi-lagi teoriku tentang menang kalah diuji. Di awal Allah bikin dia kalah, hanya karena urusan administrasi. Bukan soal nilai bahkan. Bukan soal siapa lebih pintar. Kesalahan administrasi sederhana.
Aku gak tahu lagi harus berdoa apa. Mana ada anak yang masuk final lomba se-bergengsi ini, lalu memutuskan tidak mendaftar ulang? Kecil sekali harapannya, kataku ke suami. Suami mengiyakan. Lalu kami sampaikan fakta ini ke sulung. Katanya, ‘Iya iya, G paham kok. Gak masuk juga gak papa. Makasih (sudah berusaha banding).”
Hatiku agak berdesir membaca ucapan terima kasihnya. Laki-laki kecilku menjelma jadi laki-laki dewasa yang berusaha menerima tanggung jawab atas keteledorannya. Di sisi lain, kuharap dia sadar bahwa ibunya akan selalu hadir, ada, percaya dan memperjuangkannya.
Keputusan banding itu datang hari Selasa, soal sulung masuk waiting list. Dan (lagi-lagi) kami harus menunggu sampai Kamis, untuk memastikan apakah akhirnya si sulung boleh ikut final atau tidak. Selasa Rabu Kamis terasa lambat berjalan. What a week, gitu keluhku diam-diam.
Tapi kami, aku-suami-sulung, sudah sungguh-sungguh pasrah. Kecil sekali kemungkinannya, begitu berulang kami katakan. Kami gak punya hati buat mendoakan para finalis gak bisa daftar ulang. Toh kuyakin, mereka sama effortnya sama sulungku dalam lomba ini. Pasrah. Allah yang menentukan menang kalah, itu kataku dalam hati.
Lalu Kamis siang itu, si sulung lewat chat-nya bilang,
“Eh eh bu, G dapat chat katanya suruh daftar ulang buat final.”
Haaaaah. Apaaaa?
Seruku lewat chat berikutnya.
Pastikan dulu, kubilang.
Harus daftar ulang, ok daftar ulang dulu.
Udah resmi belum?
Udah, kata si sulung.
G udah join grupnya kok.
Aman. Ini udah resmi.
Gitu chat terakhirnya.
Kali ini aku yang nangis. Sesenggukan di kamarku sendiri. Yaa Allah, Yaa Allah, gak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kusampaikan kabar ini ke temanku, yang mengusulkan banding waktu itu. Katanya, “Sujud syukur.” Begitu singkat padat jelas. Dalam limpahan rasa bersyukurku itu, aku ga sempat bilang apa apa selain alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Allah Maha Tahu gimana kondisi hatiku siang itu.
Suamiku di grup keluarga kami bilang, “Itu doa ibumu mas.”
Dan di grup yang sama kutulis lagilah kalimat sakti itu.
“Allah gampang kan mas kalau mau bikin menang kalah.
Kejadian ya, yang menang gak harus yang skornya lebih tinggi.”
What a week.
Kalau saja tubuh manusia itu diibaratkan komputer, kupikir dia akan hang di minggu ini karena kejadian ini. Alhamdulillah, tubuhku buatan Allah. Jadi reaksi yang muncul cuman ketek basah, air mata mengalir dan mata bengkak karena gak tahu lagi harus berkata apa.
Aku gak tahu nanti hasil finalnya gimana. Tentunya aku berharap dia dapat medali sesuai effort yang dia lakukan. Tapi kalau pun gak, menurutku ini salah satu pengalaman lomba terbaik buat kami sekeluarga. Karena di lomba ini kami belajar tentang effort itu urusan kami yang harus terus diupayakan. Tapi hasil itu urusan Allah yang harus diikhlaskan. Dan menyeimbangkan keduanya adalah tugas berat makhluk beriman, yang harus terus-menerus diusahakan.
Good luck mas G.
Dan mungkin,
di semua perjalanan ini,
bukan cuma kamu yang sedang belajar.

