Masih Belajar Jadi Manusia

Refleksi, Renungan, dan Realita—Tanpa Basa-basi, Tanpa Topeng

Halo, saya Fanny Herdina. Selamat datang di teras pemikiran saya.

Saya seorang psikolog yang sehari-harinya berkutat dengan manusia: perilakunya, kebingungannya, mimpinya, patah hatinya, dan kadang… kelucuannya.
Saya juga seorang ibu tiga anak dengan karakter yang tidak pernah kehabisan plot twist.
Seorang istri yang sedang terus belajar sabar dan syukur (kadang lewat jalur cepat, kadang lewat Bekasi).
Seorang pendidik yang terjun ke lapangan, mengajar anak-anak dhuafa yang mengajarkan saya ulang tentang hidup.
Seorang konsultan yang terbiasa duduk di depan kandidat sambil membaca bagaimana kata, intonasi dan jeda napas mereka menyimpan cerita.

Dan dari semua peran itu, saya belajar satu hal:

Hidup itu bukan sekadar berjalan—tapi mengerti makna di balik langkahnya.

Di blog ini, kamu tidak akan membaca dongeng yang manis, motivasi murahan atau nasihat yang terlalu ngawang-ngawang. Bisa jadi juga bukan panduan how-to yang langsung bisa dipraktekkan. Saya percaya setiap kita punyak hak menginterpretasi kejadian dan mengambil pelajaran dengan caranya sendiri.

Instead, yang akan kamu temukan adalah:
• kejujuran, kadang menyentil, kadang meneduhkan
• cerita-cerita sehari-hari yang kelihatannya sepele tapi ternyata membuka pikiran
• refleksi tentang parenting, mental health, hubungan manusia, dan ketidaksempurnaan kita
• insight psikologi yang dibahas dengan bahasa manusia (bukan bahasa textbook)
• dan tentu saja, bumbu humor khas emak-emak yang sudah kenyang makan asam garam hidup

Saya menulis tentang hal-hal kecil yang sering kita lewatkan:
Tentang anak yang mempertahankan valuenya saat ditawari burger.
Tentang Bekasi yang mengajarkan sabar.
Tentang privilege yang bisa jadi super-power atau bumerang.
Tentang orang yang sengaja menabrakkan Alphardnya sendiri demi ego 10 detik.
Tentang manusia yang sering lupa bahwa perasaan itu nyata… tapi tidak selalu valid.
Tentang suami, tentang istri, tentang kehilangan, tentang memaafkan.
Tentang bagaimana jatuh itu lumrah dan bangun itu pilihan.

Saya percaya setiap orang punya cerita yang layak disuarakan.
Saya percaya kebaikan itu selalu bisa dilatih.
Saya percaya kesadaran diri adalah karunia.
Saya percaya kebodohan manusia kadang lucu, kadang menyakitkan, tapi selalu bisa jadi bahan belajar.
Dan saya percaya… bahwa kita semua sedang berjuang menjadi manusia—sebisa kita.

Tempat ini saya buat sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, sekaligus ruang untuk kita berjalan bersama:
pelan-pelan, jujur-jujur, apa adanya.

Selamat datang di ruang saya.
Semoga setiap tulisan di sini menyentuh satu sisi dari hidupmu—dan membuatmu sedikit lebih kuat, lebih waras, dan lebih bersyukur.
💛

Kalau sudah siap, mari mulai membaca.
Dan hati-hati… beberapa tulisan mungkin menampar.
Dengan lembut dan penuh cinta, tentu saja.