Ilustrasi seseorang duduk termenung dengan cahaya lembut, melambangkan proses menghadapi stres sehat dan membangun ketahanan emosional.

(Sebuah POV bagaimana hidup bersama stres sehat dan ketahanan menghadapi ketidaknyamanan)

Pulang kantor, suami cerita soal percakapan di radio: Gen Z disebut generasi yang paling sadar mental health. Lebih aware dibanding generasi sebelumnya.
Dari situ diskusi kami melebar panjang—dan jujur, aku punya pendapat tersendiri soal ini.

Menurutku, ada benarnya kalau Gen Z disebut sebagai si paling sadar mental health.

Tapi pertanyaannya sebenarnya bukan
“Siapa yang paling sadar?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Kenapa ini bisa terjadi? What changed?”

Karena sesuatu memang berubah.
Dan perubahan itu tidak datang dari satu arah saja.


Stigma Dulu Beratnya… Masya Allah

Sebagai seseorang yang masuk dunia psikologi di tahun 90-an, aku lihat betul gimana dunia mental health dulu itu… berat.

Zaman aku kuliah, kalau bilang aku mahasiswa psikologi, responsnya begini:

“Pi-si-ko-lo-gi? Yang ngurus orang gila itu ya?”

atau

“Mbak bisa baca saya dong ya? Tahu saya orangnya gimana gitu dong ya?”

Ya Allah…
Berasa sia-sia SKS psikodiagnostik 1 sampai 7 itu cuma buat dianggap dukun bersertifikat PTN ternama.
Hiks. Arrgh.

Sementara sekarang?

Semua orang bebas bicara mental health.
Layanannya makin terjangkau.
Profesional makin banyak.
Edukasi makin mudah.

Dan itu bagus.
Serius. Bagus banget.


Tapi… Ada Juga Fenomena Lain

Di sisi lain, kita juga melihat hal-hal seperti:

Sedikit capek → burnout.
Diminta revisi → toxic.
Ada konflik sedikit → abuse.
Kesal dikit → healing dulu.

Sebagian orang memakai istilah mental health untuk hal-hal yang sebenarnya masih sangat wajar dalam kehidupan manusia.

Dan ini membuat banyak orang tua bingung:

“Ini beneran masalah mental health atau… mereka cuma belum terbiasa menghadapi ketidak-nyamanan?”


Stres, Distres dan Kenapa Perlu Dibedakan

Dalam psikologi:

Stres itu normal.
Bahkan perlu.

Stres membantu kita fokus, waspada dan perform lebih baik.

Yang berbahaya adalah distres
stres yang rasanya overwhelming, bikin otak blackout, hati sesak…
seolah-olah dunia runtuh sekarang juga.

Nah, sebagian Gen Z dan remaja hari ini tumbuh di dunia yang:

jauh lebih nyaman,
lebih stabil secara fisik,
lebih full of convenience.

Dan kemudahan memang secara natural tidak membangun ketahanan.

Awareness-nya naik.
Tapi kapasitas menanggung ketidaknyamanan tidak otomatis bundling.

Ini bukan salah mereka.
Ini hasil dari struktur zaman mereka tumbuh.
Sebuah konteks sosial, bukan anomali.


Kenapa Awareness Meningkat, Tapi Ketahanan Tidak?

Inilah paradoksnya.

Kesadaran mental health meningkat…
tapi ketahanan menghadapi stres tidak ikut naik.

Kenapa?

Karena ketahanan emosional tidak tumbuh dari teori.
Tidak tumbuh dari edukasi.
Tidak tumbuh dari konten-konten mental health.

Ketahanan tumbuh dari menghadapi kesulitan versi sachet:

nunggu dijemput dan ga bisa WA,
dimarahi guru,
nilai raport merah,
kalah lomba,
jatuh dari sepeda,
berantem sama teman,
ditolak ikut geng,
kehilangan mainan,
salah langkah → belajar lagi.

Bukan trauma besar.
Bukan tragedi.
Tapi gesekan kecil yang membangun otot batin.

Sekarang?

Kesulitan versi sachet makin jarang,
karena dunia makin instan dan steril dari ketidaknyamanan.

Kita terlalu cepat menolong.
Terlalu cepat menyelamatkan.
Terlalu cepat menyelesaikan.

Awareness-nya naik,
tapi otot batinnya tidak ikut terbentuk.

Dan di situlah gap-nya.
Gap yang kemudian terlihat dalam cara generasi hari ini menghadapi tekanan kecil—
yang terasa seperti kiamat kecil.

Namun kabar baiknya.
Menurut salah satu teori tentang stres…

Toleransi terhadap stres itu bukan bawaan lahir.
Bukan takdir.
Bukan sifat bawaan orok.

Ia skill.
Sesuatu yang bisa dipelajari.
Bisa dilatih.
Bisa tumbuh… pelan-pelan.


Bagaimana Meningkatkan Stress Tolerance?

Ini bukan teori kuliah.
Bukan tugas rumah.
Cuma cara-cara kecil yang bisa dilakukan siapa pun…

Cara paling sederhana adalah pause.
Berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Lima detik saja bisa menyelamatkan kita dari kata-kata yang akan disesali.

Disambung dengan menenangkan tubuh terlebih dahulu.
Karena manusia itu satu sistem.
Ketika tubuh tenang, pikiran ikut jernih.
Minum hangat, mandi sebentar, tarik napas pelan, berjalan sebentar.
Itu bukan kabur. Itu grounding.

Kalau emosi masih penuh, mengalihkan diri sebentar sangat membantu.
Bukan lari, tapi memberi jarak aman agar reaksi kita tidak meledak.

Dan pada akhirnya akan selalu ada momen ketika kita perlu bilang pada diri sendiri:

“Ini memang nggak sesuai bayanganku. But I can pivot.”

Itulah radical acceptance.
Bukan pasrah, tapi berhenti bertarung dengan hal-hal di luar kendali…
supaya energi bisa dipakai untuk melangkah maju, bukan melawan yang mustahil.

Stress tolerance dibangun dari hal-hal sachet seperti ini.
Bukan agar hidup bebas dari rasa sakit,
tapi supaya kita tidak hancur hanya karena hidup menuntut sedikit lebih banyak dari kita.


Jadi, Salahkah Gen Z? Tentu Tidak.

Yang terjadi adalah ketidakseimbangan:

Awareness → meningkat.
Ketahanan → tidak ikut tumbuh.

Padahal keduanya harus jalan beriringan.
Karena kesehatan mental bukan hanya tentang mengenali luka,
tapi juga tentang terus hidup dengan baik bersama luka– tanpa harus kalah olehnya.

Dan bicara soal ritme, tentang kecepatan yang tidak perlu sama,
tentang bagaimana setiap orang punya “pace” yang berbeda,
aku pernah menulis satu refleksi kecil tentang anak yang memilih tidak ikut berlari—tentang bagaimana arah lebih penting dari seberapa cepat kita sampai.
Kalau kamu sedang butuh bacaan yang pelan dan menenangkan, kamu bisa mampir ke sana.


Pada Akhirnya… Kita Semua Sedang Belajar Tumbuh

Hidup tidak menuntut meminta kita menjadi generasi terkuat. Hidup cuma minta kita menjadi manusia yang:

cukup lentur untuk bertahan,
cukup berani menghadapi ketidaknyamanan,
cukup jujur membedakan kapan kita butuh bantuan;
dan kapan kita sebenarnya hanya butuh latihan.

Karena bicara mental health bukan bicara tentang hidup tanpa stres.
Tapi lebih adalah kemampuan menari di tengah gelombang dunia.

Dan kalau kita ingin generasi setelah kita tumbuh lebih sehat,
Tugas kita adalah memberi ruang aman untuk salah, gagal, jatuh dan bangun lagi; dari versi sachetan sampai grosiran—
tanpa langsung diberi label “rapuh,” “lebay,” atau “toxic.”

Itu semua dimulai dari kita.
Dari cara kita merespons stres,
bukan dari seberapa sering kita membicarakannya.


Coba renungkan deh malam ini:
Dalam 24 jam terakhir…

kapan kamu menghindari ketidaknyamanan,
dan kapan kamu berani tinggal sebentar di dalamnya?

Jawaban kecil itu bisa jadi cermin paling jujur
tentang seberapa siap “otot batinmu” menghadapi hidup hari ini.

Dan kalau terasa belum kuat?
Wajar.
Cuman perlu latihan.
Yang boleh kamu mulai malam ini juga.


2 responses to “Ketika Awareness Naik Tapi Ketahanan Tidak: Renungan tentang Stres Sehat dan Ketidaknyamanan”

  1. Marianto Audrey Avatar
    Marianto Audrey

    terima kasih sharing moment dan ilmu nya mbak fanny, sangat menginspirasi dan membuat otak nge-freeze sebentar untuk sekedar bisa istirahat dari pikiran yg berisik

    Liked by 1 person

  2. Ketika Awareness Bukan Lagi Sekadar “Tahu Namanya”: Sebuah Catatan Tentang Labeling dan Kedewasaan Emosional – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] ketahanan, dan generasi—dengan perspektif baru yang membuka mata. Tulisan sebelumnya bisa diintip di sini. […]

    Like

Leave a reply to Marianto Audrey Cancel reply