Foto lembut berlatar jalan setapak di pagi hari, dengan sosok orang tua dan anak berjalan berdampingan — bukan berlari. Melambangkan proses tumbuh perlahan, penuh arah, dan penuh kasih.

Di sekolah si sulung, hampir tiap minggu — kalau nggak tiap hari — ada aja kabar teman-temannya yang ikut lomba ini, jadi finalis itu, bahkan memenangkan lomba lain.
Hampir setiap minggu.

Sementara si sulung terlihat santai saja.
Dia picky banget soal lomba yang mau diikutinya.
Walau kelihatannya nggak terganggu dengan kondisi sekitarnya, sesekali kalau dia pulang dari asrama, aku tetap merasa perlu ngecek kesehatannya — bukan fisik, tapi mentalnya.

Jadi, aku tanya pelan:

“Kamu nggak mau ikut lomba X, Mas? Teman-temanmu yang math fans pada ikut, lho.”

Dia jawab santai,

“Nggak, Ibu tenang aja. G tahu apa yang G lakukan. G tahu apa yang G inginkan.”


Remaja dan Keberanian untuk Tidak Ikut Balapan

Dengar jawabannya, hatiku sempat mencelos — tapi juga bahagia.
Dia sudah tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.
Dia fokus pada dirinya sendiri.

Mungkin ini tanda masa remajanya mulai menanjak menuju kedewasaan.

Menurut Erik Erikson, masa remaja adalah tahap Identity vs Role Confusion — masa di mana anak mulai bertanya, “Siapa aku?” dan “Apa yang membuatku berarti?”
Dalam proses itu, mereka akan sering membandingkan diri — bukan karena tidak percaya diri, tapi karena sedang mencari cermin untuk memahami dirinya sendiri.


Insecurity Itu Normal, Tapi Panik Orang Tua Sering Kali Tidak Perlu

Yang menarik, anak-anak berbeda cara menghadapinya.
Si sulung tampaknya sudah lebih tenang.
Tapi si tengah… masih berproses.

Pernah suatu malam, dia bilang,

“Kakak mau kayak Kak M, Bu. Dia jago banget, keren banget main gitarnya.”

Atau lain waktu,

“Menurut Ibu, Kakak ini cantik nggak sih? Objektif ya, Bu. Kadang pengin kayak si N, semua orang di sekolah bilang dia cantik.”

Kalimat-kalimat seperti ini… familiar banget, kan?


Luka Lama Orang Tua, Jangan Jadi Cermin Anak

Aku ingat masa remajaku sendiri — insecurity itu memang makanan sehari-hari.
Bahkan sebagian rasanya masih terbawa sampai sekarang.

Sebagai orang tua, kadang yang panik duluan tuh kitanya.
Setiap kali dengar anak lain menang lomba atau lihat postingan teman-teman si sulung yang aktif banget, rasanya langsung ingin tanya dalam hati:

“Kok anakku nggak kayak gitu, ya?”

Padahal bisa jadi bukan anak yang sedang tertinggal,
tapi kita yang sedang dikejar bayang-bayang masa lalu
masa saat kita sendiri dulu pengen lebih diakui, pengen lebih dibanggakan.

Kita ingin memperbaikinya lewat anak-anak kita.
Padahal yang mereka butuh bukan itu.
Mereka butuh ruang untuk tumbuh dengan irama mereka sendiri.


Tugas Orang Tua: Menahan Diri untuk Tidak Ikut Balapan

Kecemasan orang tua itu manusiawi.
Kita ingin anak berkembang, tapi sering lupa bahwa perkembangan itu punya ritme yang berbeda-beda.

Menurut Self-Determination Theory (Deci & Ryan),
yang dibutuhkan manusia bukan dorongan terus-menerus untuk berprestasi,
tapi tiga hal sederhana:

  • Autonomy: ruang untuk memilih dan menentukan sendiri arah hidupnya
  • Competence: keyakinan bahwa ia mampu belajar dan berkembang dengan kecepatannya sendiri
  • Relatedness: rasa diterima dan didukung tanpa syarat

Dan mungkin itulah yang sedang kupelajari sebagai orang tua: menemani, bukan mendorong;
mendengar, bukan mengarahkan.

Kadang dorongan kita yang niatnya baik malah terasa seperti tekanan bagi mereka.
Karena (bisa jadi) tanpa sadar, kita ingin mereka jadi versi “ideal” yang kita bayangkan,
bukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Padahal anak-anak tidak butuh kita untuk mengendalikan langkahnya.
Mereka butuh kita untuk berjalan di samping mereka
diam saat perlu diam,
bicara saat diminta bicara,
dan percaya saat mereka mulai menentukan arah.

Karena ternyata, tugas kita bukan membuat mereka berlari cepat.
Tugas kita adalah memastikan mereka tahu ke mana mereka ingin melangkah.

Dan pada akhirnya,
arah langkah jauh lebih penting daripada seberapa cepat sampai tujuan.
Karena kecepatan tanpa arah hanya membuat kita lelah — dan kehilangan arah.


Mendampingi, Bukan Membandingkan

Jadi lain kali, saat kau lihat anakmu merasa tertinggal atau nampak tertinggal, tolong jangan buru-buru menasihati.
Jangan langsung bilang, “Lihat tuh temanmu…”
Karena saat kita membandingkan, mereka belajar satu hal yang salah:
bahwa cinta dan penerimaan dari orang tuanya tergantung pada pencapaian.

Padahal, tumbuh perlahan atau tumbuh dengan pace-nya sendiri itu bukan tertinggal.
Itu hanya berarti mereka sedang belajar mengenali diri — dengan ritme pribadinya yang unik.


✨Lain kali saat anakmu bilang, “Aku kayaknya gak sepintar mereka,”
jangan buru-buru menjawab dengan motivasi.

Kadang yang mereka butuh cuma satu kalimat sederhana:

“Kamu gak harus jadi yang tercepat. Ibu cuma mau kamu tumbuh jadi dirimu sendiri.” 💛


3 responses to “Saat Anak Tak Ingin Ikut Berlari: Tentang Menemani, Bukan Membandingkan”

  1. Ketika Awareness Naik Tapi Ketahanan Tidak: Renungan tentang Stres Sehat dan Ketidaknyamanan – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] bagaimana setiap orang punya “pace” yang berbeda,aku pernah menulis satu refleksi kecil tentang anak yang memilih tidak ikut berlari—tentang bagaimana arah lebih penting dari seberapa cepat kita sampai.Kalau kamu sedang butuh […]

    Like

  2. Ketika Orang Tua Bukan Pilihan Pertama: Tentang Attachment, Kehadiran dan Cara Menjadi Tempat Pulang – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] Hadir itu cukup.Dan yang kecil itu berarti.Baca juga: Ketika Anak Tidak Mau Berlari — Tentang Tempo, Tekanan dan Membiarkan Mereka Bertumbuh. […]

    Like

  3. Ketika Remaja Mulai Menjauh: Tentang Attachment, Otonomi dan Membangun Ruang Bagi Dua Jiwa Menari – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] 📎 Kamu bisa membacanya di sini:👉 Saat Anak Tak Ingin Ikut Berlari: Tentang Menemani, Bukan Membandingkan […]

    Like

Leave a reply to Ketika Orang Tua Bukan Pilihan Pertama: Tentang Attachment, Kehadiran dan Cara Menjadi Tempat Pulang – Human Chronicles : A Perspective Cancel reply