“Di rumah kami, anak-anak boleh ngeyel.”
Mungkin kedengarannya aneh, tapi itulah salah satu aturan nyleneh di rumah kami.
Sebuah aturan yang lahir dari keresahan sederhana:
terlalu sering melihat komentar di media sosial dengan logika yang berantakan,
kalimat yang tajam tapi kosong dari nalar.
Aku ingin anak-anakku tumbuh dengan struktur berpikir yang kuat sebelum bicara.
Dan ngeyel — kalau dilakukan dengan cara yang benar —
ternyata bisa jadi ruang belajar paling nyata untuk itu.
Dua Syarat Ngeyel Versi Rumah Kami
Pertama, tetap sopan.
Tanpa intonasi tinggi, tanpa tunjuk-tunjuk, tanpa ekspresi kurang ajar.
Kadang meleset juga, tapi kami anggap itu bagian dari “proyek pengembangan manusia kecil” di rumah. 😌
Kedua, harus punya alasan kuat.
Boleh berargumen, tapi dasarnya mesti jelas:
logika yang masuk akal, data atau pengalaman, atau bahkan prinsip agama.
Bukan sekadar, “karena aku pengen,” atau “karena kakak bilang gitu.”
Dan ketika eyelan mereka bisa kami terima,
biasanya anak-anak itu tersenyum puas — bukan karena menang,
tapi karena didengar dan dianggap setara.
Sementara kami? Bahagia, karena target kami tercapai:
mereka berpikir logis dan berani menyampaikan pendapat.
Ternyata, Ngeyel Juga Tanda Anak Merasa Aman
Beberapa waktu lalu aku membaca sebuah tulisan tentang attachment theory dari John Bowlby.
Teori ini bilang bahwa keamanan emosional anak dibangun dari rasa aman bersama orang tua.
Anak yang securely attached berani menunjukkan perasaan, pendapat, bahkan ketidaksetujuan —
karena mereka tahu cintanya gak akan hilang hanya karena beda pandangan.
Dan di situ aku sadar:
ngeyel bukan sekadar latihan berpikir kritis.
Tapi juga indikator kehangatan rumah.
Tanda bahwa anak-anak merasa cukup aman untuk jujur,
bahkan terhadap otoritas.
Aman, Karena Dicintai Tanpa Syarat
Psikolog Carl Rogers juga pernah bilang,
manusia tumbuh sehat ketika ia merasa diterima tanpa syarat —
dalam istilahnya yang sangat terkenal itu, unconditional positive regard.
Meski beliau lebih banyak bicara dalam konteks terapi, tapi dari sudut yang berbeda; bukankah itu sebenarnya inti dari “boleh ngeyel” di rumah kami?
Bahwa anak boleh berbeda pendapat,
boleh bertanya, bahkan boleh menantang,
karena mereka tahu cintanya tidak akan berubah.
Kalau anak merasa setiap kalimatnya bisa berujung pada kemarahan atau hukuman,
mereka akan belajar untuk diam — bukan karena menghargai, tapi karena takut.
Dan dari ketakutan itulah pelan-pelan lahir people-pleasing behavior,
rasa ragu untuk punya pendapat sendiri yang kebawa bahkan hingga mereka dewasa. Dan efeknya? Hiks, ngeri.
Sementara anak yang tahu bahwa cintanya tidak bersyarat,
akan belajar menegakkan kepala dan berpikir sebelum bicara.
Dia tahu, mungkin ia salah, tapi tetap didengar.
Mungkin suaranya kecil, tapi tetap dianggap penting.
Dan dari sanalah critical thinking bertemu emotional safety —
dua hal yang seharusnya tak pernah dipisahkan dalam keluarga.
Kalau dipikir-pikir, kemampuan berbeda pendapat dengan tenang ini
akan sangat mereka butuhkan saat remaja bahkan dewasa.
Aku pernah nulis lebih lengkap tentang itu —
tentang bagaimana kita belajar disagree tanpa baper.
Kadang sebagai orang tua, kita lihat anak ngeyel itu sebagai tanda “melawan.”
Manusiawi sih kalau kemudian kita ketrigger —
eh kok kita, aku mungkin ya 😅
Tapi kalau aja kita mau mundur sebentar,
buat bisa lebih objektif,
ada banyak fakta menghangatkan hati soal eyel-mengeyel ini: seperti
latihan berpikir kritis,
latihan bicara sistematis,
latihan merangkai fakta,
latihan mengelola emosi dan ekspresinya —
sekaligus indikator keberhasilan kita menyediakan rumah yang aman
bagi mereka menjadi diri mereka seutuhnya.
Jadi, Lain Kali Kalau Anakmu Ngeyel…
Jangan buru-buru dibilang kurang ajar.
Coba dengarkan dulu alasannya. Siapa tahu mereka punya fakta yang kita gak tahu.
Mungkin juga, di balik eyelan itu ada rasa aman yang tumbuh subur —
dan bukankah itu salah satu tanda bahwa kita sedang membangun rumah,
bukan sekadar tempat tinggal? 🏡
✨ Coba deh, malam ini ngobrol sama anakmu.
Tanya satu hal kecil:
“Pernah gak sih kamu gak setuju sama Ibu/Ayah, tapi takut ngomong?”
Kadang, cara anak menjawabnya bisa jadi cermin kehangatan rumahmu sendiri..

