Beberapa malam lalu, FYP-ku menampilkan video seorang anak kecil lagi makan. Lahap sekali. Wajahnya lucu, cute, polos—binar matanya itu loh, khas anak-anak yang belum kenal kerasnya dunia.
Aku nonton sambil senyum-senyum sendiri. Menggugah selera banget.
Beberapa hari kemudian…
Semesta TikTok geger.
Ada netizen yang mengomentari anak itu dengan kasar:
“Lain kali kasih makan pakai baskom aja. Rakus banget.”
Astaghfirullahaladziim.
Kok bisa manusia dewasa mengomentari anak kecil seperti itu?
Aku jadi ingat pengalamanku sendiri bertahun-tahun lalu.
Dulu aku aktif menulis di sosmed, tapi berhenti karena sebagian orang yang tidak setuju memilih untuk… memakiku.
Bukan kritik tentang tulisan, tapi menyerang hal-hal personal:
kehidupan pribadiku, identitasku, bahkan sebutan-sebutan yang membuatku tidak nyaman.
Ada kenalan baik yang di dunia nyata lembut…
tapi di layar bisa dengan mudah menyebut orang lain “bego”.
Ada yang berani mengomentari bentuk tubuh orang—hal yang jelas tak mungkin diucapkan tatap muka.
Ada juga perempuan yang santai menulis, “Rahimku anget,” saat melihat foto cowok ganteng.
Astagfirullahaladziim.
Fenomena apa ini sebenarnya?
✅ Kenapa Sosmed Bisa Mengubah Cara Kita Berperilaku?
Ternyata berbagai alasan psikologis kenapa manusia bisa berubah hanya karena mode komunikasi yang berbeda; media online dalam hal ini.
✅ “Topeng Digital” (Online Disinhibition Effect)
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut online disinhibition effect—diperkenalkan oleh John Suler.
Ketika tidak ada tatap muka, tidak ada kontak mata dan tidak ada reaksi langsung dari lawan bicara…
kita merasa kayak lagi pakai topeng digital kecil.
Topeng yang membuat kita merasa lebih bebas, lebih berani dan sayangnya… lebih kasar daripada versi kita di dunia nyata.
Sedikit rasa anonim saja sudah cukup untuk membuat empati turun beberapa derajat.
✅ Otak yang Kewalahan (Cognitive Load)
Menurut John Sweller, otak kita punya kapasitas terbatas untuk memproses informasi.
Di sosial media, arusnya terlalu cepat: komentar, notifikasi, opini, video, berita panas.
Saat semuanya masuk bersamaan, otak kewalahan.
Dan begitu otak kewalahan, self-regulation kita menurun.
Ketika self-regulation menurun, adab ikut turun.
Sebagian dari kita berubah jadi versi yang lebih “sumbu pendek“.
✅ Dopamin & Impulsivitas
Dunia digital bekerja dengan bahan bakar lain: dopamin.
Konten yang memancing marah, tersinggung, atau kaget—justru malah yang paling cepat memicu klik.
Emosi yang cepat memicu reaksi yang lebih cepat lagi,
kadang bahkan reaksi keluar sebelum sempat diproses otak.
Lebih cepat dari bayangan, kayak tembakannya Lucky Luke.
✅ Pada Akhirnya… Tetap Ada Manusia di Balik Layar
Tiga mekanisme ini—
topeng digital,
otak yang kelelahan,
dan dopamine yang membuat kita impulsif—
bisa menggeser versi terbaik diri kita menjadi versi yang…
mungkin kita sendiri sulit buat mengenalinya.
Dan (seseungguhnya) kemudian kita semua sama.
Sama-sama rapuh.
Sama-sama mudah terpancing.
Sama-sama bisa tergelincir oleh layar kecil di tangan.
Kadang, lagi-lagi yang kita butuhkan adalah sebuah gentle reminder:
“Pssst, yang kamu ajak bicara itu manusia juga. They have their own battle. Be kind.”
Kalau kamu merasa relate sama kisah ini atau pernah ikut kelelahan karena kebisingan sosmed, bisikin dong kisahmu. Kadang dengar pengalaman orang lain bikin kita merasa “normal”
Dan kalau tulisan ini kayak bikin inget seseorang, kirimin gih ke dia—siapa tahu dia butuh pelukan jarak jauhmu.

