Sebagai pekerja yang punya privilese mengatur jadwalku sendiri, aku selalu mengosongkan Senin pagi. Buatku, mengosongkan Senin pagi itu kayak menarik napas panjang sebelum sprint berikutnya.
Aku tahu hampir semua orang menekan pedal gasnya pol di Senin pagi. Suamiku yang karyawan, anak-anakku yang masih sekolah, bahkan para ibu yang area domestiknya sering gedandapan di Senin pagi. Tapi tidak aku. Aku menarik napas panjang di Senin pagi — dengan sengaja.
Aku juga tahu, meskipun mereka kelihatannya kuat, keluarga kecilku ini sebenarnya butuh dibantu “mendarat” sebelum minggu baru dimulai. Itu sebabnya Minggu sore sampai malam sering jadi waktu buat mereka winding up. Kadang mencarikan seragam warna anuh, kadang mencari pensil bergambar ituh yang mendadak menghilang, kadang cuma nemenin suami nonton film. Itu bagian kecil dari caraku menyiapkan Senin mereka.
Dan baru setelah semua berangkat, barulah aku menyiapkan minggu kerjaku sendiri.
Kenapa Kita Butuh Adegan “Tarik Napas Panjang”?
Coba bayangin kalau kita ini toko online. Selama weekend, mungkin ada orderan yang belum sempat diproses. Ada pesanan minggu lalu yang belum selesai karena barangnya belum datang, packaging habis, atau memang masih diproduksi.
Begitu Senin datang… antrian konsumen langsung mengular sampai ujung jalan. Rasanya kayak toko belum buka, tapi orang-orang sudah berdiri di depan rolling door sambil ngetok-ngetok.
Kalau otak kita komputer, Senin itu kayak… “buka 20 tab sekaligus, dan semuanya loading.”
Inilah inti dari Cognitive Load Theory: otak kita punya kapasitas terbatas. Kalau terlalu banyak yang harus diproses di waktu bersamaan, ya jelas capek duluan meski belum apa-apa.
Bukan Seninnya yang berat. Isinya yang numpuk.
Tarikan Napas Itu Bentuk Ritual — dan Bentuk Kontrol
Tarikan napas panjang itu bentuknya beda-beda buat tiap orang. Ada yang memulai dengan:
- menata meja kerja,
- meditasi 3 menit,
- jalan kecil di parkiran kantor,
- ngobrol ringan sama rekan kerja,
- baca satu halaman buku,
- atau cuma sekedar ngopi tanpa distraksi.
Anak-anak pun punya versinya sendiri:
- baca komik sebelum tidur,
- minta parfum ibunya disemprot ke seragam,
- atau sekadar minta privilege milih snack hari itu.
Hal-hal kecil ini yang oleh Atomic Habits disebut micro-habits: kebiasaan kecil yang bikin kita merasa punya kontrol terhadap minggu yang akan kita hadapi.
Dan ketika kita merasa punya kontrol… otak yang tadi kewalahan mulai bisa memilah mana yang harus diprioritaskan lebih dulu.
Senin Pagi Bukan Melulu Soal Being Productive — Tapi Lebih Tentang Manasin Mesin
Aku selalu percaya: Senin itu bukan melulu tentang produktivitas. Senin itu tentang pelan-pelan menyalakan mesin diri.
Kalau kita mulai dari satu kebiasaan kecil aja… menata meja, menulis satu niat sederhana, atau cuma menarik napas panjang… itu kayak bilang ke diri sendiri:
“Hei, kamu nggak harus siap untuk semuanya sekarang. Satu langkah kecil dulu aja.”
Dan jujur aja, kadang itu sudah cukup untuk menyelamatkan seluruh minggu.
Kalau kamu juga punya ‘tarikan napas panjang’ versimu sendiri di Senin pagi, aku pengen banget denger. Ceritain di bawah ya—kadang cerita kecil orang lain bisa jadi penenang buat kita juga. Dan kalau tulisan ini sedikit aja bikin kamu senyum kecil di ujung bibir, kirim ke seseorang yang kamu sayang. Senin itu berat buat banyak orang; mungkin dia juga butuh diingatkan buat napas dulu.

