Beberapa hari lalu, aku dan suami debat panas di mobil tentang rasa cemburu—bagaimana cemburu itu perlu, tapi harus bertumpu pada fakta, bukan asumsi.
Suaranya agak tinggi, tapi hangat. Kami tidak marah, hanya mempertahankan pendapat masing-masing.

Dua anak perempuan kami di belakang tampak… tidak nyaman.
Padahal kami berdua fine-fine saja.

Kejadian itu bikin aku tersadar:
anak-anak perlu terekspos pada adu argumen yang sehat.


Belajar dari Debat di Rumah

Beberapa minggu sebelumnya, aku dan si sulung sempat berdebat soal fleksibilitas di dunia nyata.
Nada suara naik, dia sempat menitikkan air mata—bukan karena debatnya, tapi karena pahitnya fakta hidup yang sedang ia cerna.
Adiknya lagi-lagi kelihatan gak nyaman.
Sementara kami berdua, setelahnya ya… damai-damai saja.

Kupikirkan lagi.
Mungkin karena dia belum terbiasa melihat bahwa perbedaan pendapat tidak selalu berarti pertengkaran.
Padahal aku hanya tidak setuju bukan menyerang.

Dan di situlah akar masalahnya.
Kalau anak tidak pernah melihat contoh perbedaan pendapat yang sehat,
nanti mereka bisa tumbuh jadi orang dewasa yang:

  • menganggap disagreement = serangan personal,
  • tidak bisa membedakan opini, fakta dan emosi,
  • langsung tidak suka pada orang hanya karena beda pandangan,
  • atau lebih buruk: membalas dengan serangan pribadi.

Kalau Gak Setuju, Pindah Aja — Fenomena Baper di Dunia Maya

Coba deh lihat media sosial kita hari ini.
Lagi bahas kebijakan Pertamina, tahu-tahu ada yang komen,

“Kalau gak setuju, pindah aja. Kita gak rugi kok kehilangan satu penduduk.”

Itu serangan personal, bukan isi debat.

Atau bahas mantan presiden dan infrastruktur, muncul komentar,

“Besok Lebaran jangan lewat tol ya, itu dibangun Pak X.”

Selain gak faktual (tol dibangun para insinyur dan dibiayai negara, bukan biaya pribadi),
komentar seperti ini gak menjawab substansi diskusi: strategi pembangunan dan pengelolaan utang.

Semuanya muncul karena orang gak nyaman berdebat.
Karena tidak terbiasa melihat perbedaan pendapat yang tetap beradab.


Keluarga: Ruang Latihan Pertama

Kembali ke pengalaman di mobil itu,
aku jadi yakin, membiasakan anak melihat dan ikut dalam debat sehat
akan melatih mereka jadi pribadi yang lebih tenang, logis dan gak gampang baper.

Menurut teori Family Communication Patterns milik McLeod & Chaffee;
anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan open conversation,
lebih mudah mengelola emosi dan memahami perspektif orang lain.

Dan dari sisi psikologi emosi, James Gross bilang;
regulasi emosi terbentuk dari paparan pengalaman sosial yang aman—
termasuk melihat bagaimana orang berbeda pendapat dengan tenang.

Tentu, kita juga perlu kasih tahu bahwa gak semua orang punya kemampuan yang sama dalam berargumen secara sehat.
Dan itu gak apa-apa.

Yang penting, mereka tahu:
perbedaan bukan ancaman, tapi latihan untuk berpikir lebih dalam.


Jadi, di Rumahmu Sudah Sehat Belum Debatnya?

Coba lihat lagi rutinitas kecil di rumahmu:
apakah anak-anakmu nyaman berbeda pendapat?
Atau justru takut, karena merasa setiap ketidaksepahaman akan berakhir dengan marah?

Di rumah kami, debat itu bukan tentang menang-kalah.
Tapi tentang belajar mendengar, berpikir dan menyampaikan tanpa melukai.

Karena skill berdebat dengan adab itu sama pentingnya dengan skill akademik—
bedanya, ini akan mereka pakai seumur hidup. 🌿



Mungkin dunia gak butuh lebih banyak orang yang pandai bicara.
Tapi dunia butuh lebih banyak orang yang bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.

Mulainya dari mana?
Ya dari ruang keluarga rumah kita sendiri. 💛


One response to “Disagree Yes, Baper No: Melatih Anak Berdebat dengan Adab dan Logika”

  1. Ketika Anak Boleh Ngeyel, Karena Cinta Tak Perlu Takut Berbeda – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] Kalau dipikir-pikir, kemampuan berbeda pendapat dengan tenang iniakan sangat mereka butuhkan saat remaja bahkan dewasa.Aku pernah nulis lebih lengkap tentang itu —tentang bagaimana kita belajar disagree tanpa baper. […]

    Like

Leave a reply to Ketika Anak Boleh Ngeyel, Karena Cinta Tak Perlu Takut Berbeda – Human Chronicles : A Perspective Cancel reply