Dalam psikologi, salah satu indikator terpenting untuk menilai apakah prognosis akan positif atau tidak adalah keinginan klien untuk datang, berkonsultasi, dan memperbaiki dirinya.
Itu sebabnya psikolog selalu bertanya di awal, “Kamu datang karena ingin… atau karena dipaksa?”
Karena ketika seseorang datang atas keinginannya sendiri, perjalanan konseling terasa lebih ringan.
Tapi ketika dia datang karena diseret situasi atau orang lain, jalan yang pendek bisa berubah seperti jalan kaki dari Sabang ke Merauke.
Dan semakin aku hidup, semakin aku sadar:
prinsip ini berlaku di hampir semua aspek kehidupan.
Apa pun yang kamu mau, harus muncul dari dalam.
You have to want it. Really want it.
Karena dari pengamatanku, kalau kamu benar-benar menginginkannya, hampir selalu ada jalan.
Bukan berarti jalannya mudah, singkat, atau penuh glitter—nggak.
Tapi biasanya, satu atau lain cara, itu akan tercapai.
Belakangan ini banyak kejadian yang mengingatkanku pada prinsip ini.
Terjebak hubungan toksik? You have to want to get out.
Orang tua, saudara, sahabat—semua bisa menasihati sampai berjuta kata, tapi kalau dirimu belum ingin, ya mentok. Kamu akan bikin sejuta alasan “baik” untuk tetap bertahan.
Tapi sekali kamu sungguh-sungguh ingin keluar, dorongan kecil saja cukup untuk bikin roda bergerak.
Kuliah tinggal skripsi? You have to want it!
Kelulusan itu harus kamu klaim sebagai punyamu: karya, prestasi, pencapaianmu.
Bukan milik orang tua, wali, atau donatur yang membiayaimu.
Kalau cuma bilang, “Ya pengen sih lulus cepat… tapi gimana lagi,” itu artinya kamu belum benar-benar ingin.
Bagi yang “ingin”, rintangannya tetap banyak.
Tapi bagi yang belum sungguh ingin, bahkan langkah pertama saja belum diambil.
Aku ingat banyak momen hidup:
Teman yang jatuh cinta pada pasangan orang lain sampai mengabaikan semua norma, termasuk norma agama.
Teman yang memilih tidak menyelesaikan kuliah—padahal tinggal sak rokokan, kata orang Jawa.
Teman yang bertahan bertahun-tahun di tempat kerja yang menggerus energi sampai ke tulang.
Untuk bisa benar-benar menginginkan sesuatu, memang dibutuhkan kemampuan melihat diri dan lingkungan dengan jernih.
Butuh kemampuan observasi, kemampuan memetakan masalah, memperluas wawasan, menambah pengetahuan, melatih keterampilan, menolak menyerah, dan berlapang dada menerima masukan.
Termasuk menerima fakta bahwa kita ini sering salah.
Alhamdulillah… kalau masih bisa salah, berarti masih manusia.
Jadi, apa yang sering menggelayut manja di pikiranmu?
Semua I wish… I wish… yang masih nyangkut di kepala?
Dalam kasusku: sehat, kurus, dan rajin olahraga.
Dan jujur—itu pun masih jadi PR besar buatku.
Kayaknya level keinginanku memang belum sampai titik yang membuatku bergerak tanpa drama.
Because Fan, you have to want it real bad!

