Akhir pekan kemarin penuh kejadian yang bikin aku berpikir, menangis, tersenyum, dan tertawa dalam waktu berdekatan. Beberapa minggu terakhir memang intens untuk keluarga kami.

Ayahnya lagi kurang fit—aroma minyak kapak sampai jadi parfum rumah.
Sulung kami, dari asramanya, tengah mempersiapkan semifinal lomba matematika, belajar tiap malam sampai jam 9.
Si tengah sibuk latihan performance kesekian kalinya; hampir setiap akhir pekan dia habis untuk berlatih ketika teman-temannya istirahat.
Si bungsu tetap kalem, tapi hapalan Qur’annya cepat sekali naik tingkat.
Sementara aku, yang sempat jadi full ratu rumah tangga, mulai muncul lagi di ruang publik. Sampai dapur kayaknya rindu.

Setelah malam sebelumnya pulang larut karena mendukung performance si tengah, kami berencana istirahat total di Ahad pagi. Tapi panggilan darurat datang:
si sulung tersingkir dari lombanya—peringkat empat, padahal hanya tiga yang lanjut ke final.
Menurut laporan, dia menangis.
Kami pun putuskan untuk datang menemuinya.

Si tengah protes—wajar, dia masih kelelahan setelah seharian tampil. Tapi di atas kasur, aku jelaskan pelan-pelan bahwa mendukung keluarga itu sebuah privilege. Kadang capek, kadang berat, kadang ingin protes. Tapi hadir itu penting.
Sekadar hadir dengan tepuk tangan lebay dan teriakan khas “yuhuuuuu Ibu” mungkin memalukan di permukaan, tapi hangatnya terasa dalam.

Si tengah akhirnya menerima dengan beberapa syarat, dan kami berangkat bersama ke lokasi lomba sulung.

Saat menjelaskan tentang privilege itu, airmataku jatuh sendiri.
Aku teringat bahwa sejak dulu, setiap anak tampil, kami hampir selalu datang lengkap:
ke Bogor, Ancol, Bekasi—bawa tikar, bekal, kursi lipat, sampai kayak mau kemping.
Kalau si tengah tampil, kami semua dandan rapi, heboh tepuk tangan, teriak tiap dia muncul.
Kalau si bungsu ada acara, kakak-kakaknya ikut mendukung, bahkan menari kalau perlu.
Ayahnya? Weekdays pun dia rela cuti untuk hadir.

Dan aku teringat Mamah, yang dulu hampir selalu datang atau mengutus pengganti kalau aku punya acara. Meski acaraku tak banyak, rasanya mamah selalu ada.
Hadir itu sederhana… tapi efeknya panjang.
Lali rupane, eling rasane.
Mungkin kita lupa lombanya apa, tampilannya apa, tempatnya di mana.
Tapi anak-anak nggak akan lupa rasanya melihat ayah ibunya bersorak untuk mereka.

Kehadiran itu seperti peran produser di balik layar—tak terlihat, tapi menentukan kualitas filmnya.

Dan aku melakukan itu dengan bangga, dengan sadar.
Bukan dalam rangka memuluskan jalan mereka jadi presiden.
Tapi untuk memenuhi tangki cinta mereka, agar kelak mereka tumbuh menjadi manusia yang bisa memberi cinta dan manfaat ke sekitar—bukan sekadar mengumpulkan untuk diri sendiri.

Karena hadir itu privilege.
Membangunnya juga privilege.
Dan bersyukur atasnya pun—privilege.


Leave a comment