Anak kecil bunuh diri
karena tidak bisa membeli buku?
Lalu pertanyaan-pertanyaan muncul cepat:
Di mana orang tuanya?
Di mana keluarganya?
Di mana teman-temannya?
Tapi sebelum kita menghakimi terlalu jauh,
ada baiknya kita berhenti sejenak
dan melihat dengan lebih jujur.
Sekuat apa pun orang dewasa berkata
bahwa kita tidak harus sama dengan orang lain,
anak-anak secara alami justru belajar
merasa aman lewat kesamaan.
Sama-sama botol minum Smiggle.
Sama-sama tempat pensil warna pink.
Sama-sama ikut taekwondo.
Sama-sama punya kakak.
Kesamaan membuat mereka merasa:
diterima,
diakui,
tidak sendirian.
Dalam konteks ini,
buku dan sekolah adalah bentuk kesamaan itu.
Maka ketika buku menjadi penghalang,
dan sekolah ikut terancam,
itu bukan hal kecil bagi seorang anak.
Karena yang ia tangkap bukan sekadar:
aku tidak punya buku.
Yang ia rasakan adalah:
aku tidak sama dengan mereka.
Kemiskinan tidak hanya membuat anak ini
tidak bisa membeli buku.
Kemiskinan juga perlahan mengikis
rasa berharganya sebagai manusia kecil.
Ia merasa berbeda.
Tertinggal.
Tidak layak.
Kemiskinan juga menyulitkan seorang anak
untuk membayangkan masa depan.
Ketika hari ini saja terasa mustahil,
harapan menjadi barang mewah.
Maka ini bukan tragedi individual.
Ini alarm komunal.
Bahwa ada anak-anak
yang memikul beban sistem
sendirian.
Dan tidak ada satu pun anak
yang seharusnya merasa
hidupnya berhenti
hanya karena tidak mampu
membeli buku.
Harusnya…

