Hai.

Masih ingat kapan terakhir kali
dada berdegup kencang
saat akan bertemu pasangan?

Dulu—dulu sekali—
ketika segalanya blurry,
degup itu yang membuat semuanya terasa hidup.
Ada harap.
Ada cemas.
Ada rindu.
Ada keinginan sederhana untuk bertemu.

Waktu itu, romantisme tidak butuh alasan.
Sebatang cokelat Silverqueen.
yang harganya bahkan jauh lebih murah
dari cokelat yang kini tersimpan rapi di kulkas kita.

Setangkai mawar- ya cuma setangkai
yang sangat sepele,
yang dibeli di perempatan lampu merah.

Atau sekadar ungkapan rindu
di atas sobekan kertas bekas.
Pesan singkat sederhana—
yang tetap terasa manis
meski dikirim berantai,
ketika dosen sibuk bicara di depan kelas.

Sekarang hidup terasa lebih mapan.
Lebih aman.
Lebih pasti.

Dan mungkin di situlah letaknya.
Bukan karena romantisme hari ini kurang romantis,
tetapi karena ia terasa semakin pragmatis.
Terbungkus kepastian.
Tertutup rutinitas.
Terlindung oleh rasa aman.

Romantisme hari gini berubah bentuk.
Dengan semangat bekerja untuk keluarga.
Lewat masakan yang dioseng lulusan S2.
Lewat selimut yang dibentangkan malam hari.

Tapi di bawah semua itu,
hal-hal kecil yang dulu bikin jantung berdebar
perlahan tertidur.

Dan entah kenapa,
aku merindukannya.

Aku rindu romantisme receh.
Yang sama sekali tidak efisien.
Yang nyaris tak bermakna.
Yang gak ada manfaat riilnya.
Seperti di film-film roman picisan
yang kita tahu berlebihan,
tapi diam-diam ingin kita dapatkan.

Setangkai mawar.
Sepotong cokelat murah.
Serangkai kata di atas sobekan kertas.
Surat cinta yang tak berujung.

Aaah, aku rindu.

Dan mungkin,
bukan karena kita telah berubah terlalu jauh,
melainkan sekedar lupa:
bahwa cinta juga perlu dipelihara
dengan hal-hal kecil
yang tidak selalu masuk akal.


Leave a comment