Ada banyak hal dalam hidup yang seharusnya berfungsi sebagai alat,
tapi sering keliru kita perlakukan sebagai alamat.
Uang, pengaruh, dan kekuasaan
awalnya dimaksudkan untuk membantu perjalanan.
Masalahnya muncul ketika kita berhenti di sana
dan mengira sudah sampai.
Alamat seharusnya memberi rasa pulang.
Alat tidak.
Ketika alat dipaksa menjadi alamat,
ia tidak pernah cukup.
Selalu minta ditambah.
Selalu membuat kita merasa belum tiba.
Mungkin pertanyaannya sederhana:
apakah ini membantumu berjalan,
atau justru membuatmu lupa
ke mana kamu sebenarnya ingin pulang?

