Sampai sekitar lima tahun lalu,
kaya tidak pernah ada dalam daftar keinginan hidupku.

Aku selalu berdoa cukup.
Dan alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku.

Saking tidak pentingnya uang dan harta di hidupku,
aku tidak pernah peduli merek.
Mobil, tas, jam tangan, sepatu—semuanya lewat saja.

Beberapa kali aku salah masuk mobil orang di parkiran.
Karena memang tidak pernah benar-benar memperhatikan mobil sendiri.

Beberapa kali juga aku ngobrol dengan orang,
yang belakangan baru kusadari,
oh… ternyata dia sedang pamer ya.

Aku tidak menangkap apa pun.
Baru di perjalanan pulang,
suami atau anak-anak yang menjelaskan
betapa “nggak enaknya” reaksiku barusan.

Sampai sekarang pun masih begitu.
You can’t impress me with money or brands.

Tapi aku berubah sejak satu kalimat ini mampir ke kepalaku:
Pengen kaya itu boleh, Fan.
Orang kaya bisa lebih banyak sedekahnya.

Butuh 45 tahun perjalanan hidup
untuk menyadarkanku akan satu hal sederhana:
punya banyak uang itu tidak salah.

Yang sering salah,
adalah cara sebagian orang memperlakukannya.

Sejak kecil aku melihat contoh yang bikin ilfeel:
ada yang kaya, tapi hobinya main perempuan.
Ada yang kaya, tapi empatinya hilang.
Ada yang kaya, tapi merasa selalu benar.
Ada yang kaya, tapi hobi playing victim.

Uangnya banyak.
Kedewasaannya minus.

Lalu, seiring usia bertambah,
aku bertemu tipe kaya yang berbeda.

Yang uangnya dipakai buat sedekah diam-diam.
Buat membiayai anak asuh.
Buat bayar psikolog—biar hidupnya lebih sehat.
Buat mentraktir keluarga tanpa perlu diumumkan.

Di situ aku paham.

Uang itu bukan tujuan.
Ia alat.

Alat untuk memperlihatkan
siapa dirimu sebenarnya.

Dan bukan cuma uang.
Nama besar.
Pengaruh.
Kekuasaan.

Semuanya tools.
Bisa membangun,
bisa juga menghancurkan.

Tergantung siapa yang memegangnya.

Jadi ya, sekarang di usia setengah abadku,
tanpa malu aku bilang:
aku pengen lebih kaya.

Bukan untuk terlihat.
Tapi supaya punya alat
untuk melakukan hal-hal
yang memang ingin kulakukan.

Dan sisanya,
biarlah dunia menilai sendiri
alat itu dipakai untuk apa.


Leave a comment