Catatan tentang Nada, Kuasa dan Keberanian

Ada kemarahan yang tidak datang karena benci,
tapi karena terlalu lama menahan kecewa.

Bukan pada satu orang.
Bukan pada satu peristiwa.
Melainkan pada pola yang berulang dan kita pura-pura normal.

Aku tidak pernah setuju body shaming.
Aku juga tidak pernah menganggap makian di ruang publik
sebagai sesuatu yang pantas dirayakan.
Batas tetap batas.

Namun yang membuatku resah adalah ini:
betapa selektifnya kemarahan kita.

Ketika kekuasaan berbicara semaunya,
membuat kebijakan tanpa empati,
dan dampaknya nyata ke hidup banyak orang,
kita memilih diam.

Tapi ketika kritik datang dengan gaya yang “tidak rapi”,
emosi kolektif mendadak menyala.
Kita sibuk mengatur nada.
Mengoreksi etika.
Menimbang kepantasan kata.

Yang dibedah panjang lebar: cara bicara.
Yang terlewat: substansi masalah.

Yang diutik-utik garnish-nya.
Yang dibiarkan membusuk hidangan utamanya.

Mungkin karena memarahi kekuasaan itu melelahkan.
Sering terasa sia-sia.
Kadang menakutkan.

Sementara kemarahan pada target yang lebih aman
tidak menuntut risiko yang sama.

Di titik ini, kemarahan tidak lagi soal benar atau salah.
Ia menjadi cermin.
Tentang apa yang berani kita hadapi,
dan apa yang kita hindari bersama.

Padahal,
kalau kita terus-terusan bicara “how”;
kapan kita mulai bicara “what”.

Kalau kita terus-terusan bicara soal nada.
Kapan kita mulai bicara soal luka?
Luka yang menganga;
tanpa kejelasan.

Hidup memang tidak selalu berisi emosi yang rapi.
Ada marah yang tidak heroik.
Ada muak yang tidak inspiratif.

Dan mengakui keberagaman emosi itu
bukan tanda kegagalan moral.
Sering kali justru tanda
bahwa kepedulian kita belum sepenuhnya mati.


Leave a comment