Tahun ini aku belajar:
tidak semua yang bisa kugenggam,
ditakdirkan untuk tetap tinggal dalam genggaman.
Batas itu bukan tembok.
Ia adalah keputusan sunyi,
tentang hal-hal yang tidak lagi kuizinkan
menguras energi dalam hidupku.
Aku berhenti menjelaskan.
Berhenti membuktikan.
Dan untuk pertama kalinya,
itu terasa seperti pulang.
Meski tidak mudah.
Ada masa ketika sakitnya muncul kembali.
Ada rasa rindu pada ritme lama
yang bahkan tak selalu bisa kujelaskan alasannya.
Namun aku bertahan.
Karena aku tahu, batas adalah bentuk keadilan.
Bukan hanya untuk orang lain,
tetapi juga untuk diriku sendiri.
Tulisan ini adalah series refleksi akhir tahun. Jangan lupa baca lanjutannya.
Tentang energi. Tentang merelakan dalam doa.

