– The quiet courage of choosing your own voice

Aku teringat sebuah kejadian lucu.

Setelah lama tak berjumpa,
seorang teman memuji-mujiku
di grup alumni sekolah.

Katanya aku pintar.
Kemudian baru dia bilang—
ingatan dia tentang aku adalah,
yang kasih contekan.

Beberapa minggu kemudian,
kami berbeda pendapat soal politik.

Puji-pujian itu hilang menguap.
Tinggal kata-kata sindiran
yang dikirim khusus untukku—
walau seolah untuk khalayak umum.

Ternyata,
bagaimana kita di mata orang,
sering bergantung pada
seberapa banyak keuntungan
yang mereka dapat.

Ternyata,
semua kata mereka tentangku
lebih banyak bercerita
tentang diri mereka sendiri,
bukan tentang aku.

Mereka yang tak bisa membalas argumen,
menyebutku tolol dan sok tahu.

Mereka yang sependapat,
menyebutku pandai dan cerdas.

Mereka yang tidak dapat bantuanku,
menyebutku beruntung dan terlalu perhitungan.

Mereka yang pernah kubantu,
menyebutku baik hati dan sangat royal.

Harusnya aku tahu sejak dulu—
kata-kata mereka lebih banyak tentang
cermin yang mereka lihat,
bukan tentang diriku sendiri.

Dan sejak itu, aku belajar:

💛 jangan terlalu sibuk membaca komentar orang,

karena yang mereka katakan
bukan tentang siapa dirimu…

tapi catatan tentang diri mereka sendiri.

— fannyherdina 👌
Where honesty finally breathes.


Leave a comment