Beberapa hari ini kita sibuk membaca berita bencana.
Sumatera. Sebelumnya Semeru. Lalu Banjarnegara.
Dan entah kenapa, setiap kali bencana datang,
dunia terasa mengecil—
tapi juga terasa lebih jujur.
🌿 Ketika Bencana Mengungkap Siapa Kita
Sebagai bagian dari komunitas sosial sejak 2015,
sudah otomatis tubuh dan pikiranku bergerak.
Telepon, koordinasi, kirim logistik, negosiasi, nahan emosi.
Kadang lancar.
Kadang mentok.
Kadang malah absurd—
bantuan sudah siap dikirim, tapi ditahan karena “ada agenda politik dulu.”
Dan jujur… itu melelahkan.
Melelahkan buat siapa pun,
apalagi untuk orang yang hanya bisa membantu dari jauh,
dari kenyamanan rumah sendiri.
Tapi di tengah semua kekacauan itu, ada satu hal yang selalu muncul ke permukaan:
Siapa manusia sebenarnya.
Ada yang datang karena kepentingan politik.
Ada yang datang karena pencitraan.
Ada yang sibuk membagi tugas…
tapi lupa membagi empatinya.
Namun, selalu ada juga yang bekerja diam-diam.
Tidak menunggu pujian.
Tidak sibuk update status.
Tidak peduli siapa tahu.
Mereka hanya bergerak karena—
hati mereka tidak bisa diam melihat orang lain kesusahan.
Dan di situlah pertanyaan ini muncul pelan:
Kalau suatu hari hidup mencabut semua yang kita banggakan—
gelar, posisi, fasilitas, prestasi—
apa yang masih tersisa?
🌿 Ketika Gelar Tidak Lagi Penting
Di tengah bencana, ranking tidak berguna.
CV tidak berbicara apa-apa.
IPK tidak relevan.
Sertifikat tidak menyelamatkan siapa pun.
Yang terlihat justru:
siapa yang tetap tenang,
siapa yang mau mendengar,
siapa yang tidak sibuk menyalahkan,
siapa yang hadir—meski tidak sempurna.
Dan siapa yang tetap berusaha mengeruk keuntungan;
dari penderitaan orang lain.
Dan lucunya, pertanyaan yang kemarin terasa abstrak tiba-tiba terasa konkret:
“Apa yang tidak bisa digantikan mesin?”
🌿 Apa yang Mesin Tidak Punya
AI bisa menghitung lebih cepat.
Bisa membaca pola.
Bisa merangkum pikiran manusia dalam hitungan detik.
Tapi AI tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan rumah.
AI tidak mengerti suara gemetar seseorang yang berduka.
AI tidak pernah menahan napas sebelum berkata:
“Aku di sini. Kamu gak sendirian.”
Karena yang membuat manusia tetap berbeda—
bukan kompetensinya,
tapi ruang sunyi di dalam diri—
yang (hopefully) masih bisa merasa.
🌿 Sekolah Tetap Penting — Tapi Bukan Untuk Ranking
Sering kita merasa sekolah atau dunia profesional
terlalu fokus pada nilai, target dan output.
Dan saat bencana datang, muncul narasi baru:
“Percuma punya gelar kalau gak punya hati.”
Pernyataan itu benar.
Tapi juga bukan seluruh kebenaran.
Hanya karena kita menyaksikan banyak yang bergelar,
berkuasa,
dan semena-mena,
bukan berarti semua orang yang berpendidikan
berperilaku demikian.
Sekolah tetap penting.
Bukan untuk melahirkan ranking,
tapi melatih otak agar mampu memahami dunia.
Supaya saat hidup menguji,
kita tidak hanya bereaksi—
tapi bisa berpikir.
Hidup mengajarkan empati.
Sekolah mengajarkan struktur.
Dan manusia tumbuh optimal saat keduanya bertemu.
🌿 Jadi… Masihkah Kita Dibutuhkan?
Kalau beberapa hari ini kamu merasa bingung, cemas atau bertanya:
“Dalam dunia secepat ini… masihkah aku dibutuhkan? Am I replaceable?”
Maka mungkin jawabannya begini:
Kamu dibutuhkan bukan hanya karena apa yang kamu kuasai,
tapi karena siapa kamu ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
Ketika logistik macet,
ketika orang panik,
ketika sistem gagal—
yang dicari bukan mesin,
bukan algoritma,
bukan template SOP.
Yang dicari adalah manusia:
yang memeluk,
yang menenangkan,
yang bisa mengambil keputusan dengan kepala…
dan hati yang jernih.
Dan bagian itu—
bagian yang membuatmu hadir bukan karena perintah,
tapi karena panggilan nurani—
itu yang tidak akan pernah tergantikan.
Jadi ketika suara kecil di kepalamu bertanya:
“Am I replaceable?”
Jawablah pelan:
“Selama aku terus menjadi manusia—jawabannya tidak.”
📌 Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya butuh pekerja yang cerdas—
dunia butuh manusia yang hadir utuh.
*Ditulis sebagai ungkapan berbagai rasa yang muncul atas bencana banjir dan longsor di Sumatera tahun 2025. Yang ternyata tak juga bisa membuat manusia yang rakus menghentikan kerakusannya. Ternyata tak ada bencana yang bisa membuat seorang pembohong menghentikan kebohongannya. Mungkin nanti, nanti saat bencana itu dihadirkan langsung ke dirinya dan keluarganya. Mungkin. Baru mereka semua akan terhenyak.

