Am I Replaceable?
Beberapa waktu lalu, di salah satu grup WhatsApp orang tua murid, beredar sebuah screenshot:
📌 daftar profesi yang diprediksi akan hilang
📌 bidang pekerjaan yang akan digantikan AI
📌 jurusan kuliah yang katanya mulai tidak relevan
Dan di daftar itu—
ada psikologi.
Kaget? Iya.
Cemas? Sedikit.
Takut? Tidak.
Kenapa tidak?
Karena ada satu hal dalam psikologi—
dan dalam diri manusia—
yang aku yakin tidak bisa direplikasi mesin.
At least, belum bisa.
🧠 AI Bisa Banyak Hal — Tapi Tidak Semua Hal
AI bisa memproses informasi.
AI bisa membaca pola.
AI bahkan bisa memprediksi kecenderungan perilaku.
Tapi ada satu hal yang AI tidak bisa.
Karena ada satu hal yang ia tidak punya:
prefrontal cortex.
Tuh.
Itu kuncinya.
🧠 The Upstairs Part of The Brain
Prefrontal cortex — atau kita singkat PFC — adalah bagian otak manusia yang paling akhir berkembang.
Kenapa Allah memilih membuatnya berkembang terakhir?
Mungkin karena bagian ini adalah puncak peradaban berpikir manusia.
(Opini pribadiku. Tapi masuk akal, kan?)
Dan PFC adalah bagian otak yang membuat kita bisa:
🧠 menimbang baik–buruk
🧠 menentukan arah hidup
🧠 membaca konteks sosial
🧠 menahan impuls
🧠 mengolah emosi menjadi makna
🧠 berpikir jangka panjang
AI tidak punya itu.
AI tidak punya standar moral.
AI tidak punya konteks emosional.
Coba ajak AI ngobrol cukup lama—
dan kamu akan menyadari ada pola yang berulang, halus tapi jelas:
ada batas di mana jawaban berhenti terasa seperti manusia
dan berubah menjadi sekadar mesin.
AI bisa memberi jawaban.
Tapi belum bisa mempertimbangkan nilai dari jawaban itu.
Itu wilayah manusia.
🔍 Ketika Profesi Ikut Berevolusi
Beberapa tahun terakhir aku bertemu banyak lulusan psikologi yang bekerja di bidang yang sama sekali berbeda:
📍 Data Analyst
📍 People & Culture Engineer
📍 Human-centered Researcher
📍 Behavioural Product Strategist
Awalnya aku bingung.
Nama profesinya saja asing.
Tapi setelah ngobrol lebih panjang,
aku mulai menarik benang merah:
Ini bukan profesi pengganti.
Bukan juga profesi yang sepenuhnya baru.
Ini evolusi.
Alih-alih memisahkan manusia dan teknologi—
dan membuatnya seperti dua kubu—
mereka menggabungkannya.
Mereka membaca bukan hanya angka,
tapi niat, emosi dan konteks manusia di balik angka itu.
Mereka tidak hanya bertanya:
➡️ “Apa yang terjadi?”
Tapi juga:
➡️ “Kenapa ini terjadi?”
➡️ “Apa dampaknya ke manusia?”
Dan itu membuat pekerjaan mereka:
✨ lebih kaya
✨ lebih bernilai
✨ lebih manusia
🌍 Ini Bukan Lagi Soal Psikologi Saja
Banyak profesi sekarang bergeser:
dari sekadar melakukan tugas
menjadi memahami makna.
Karena tugas bisa tergantikan—
oleh AI atau mesin yang jauh lebih efisien.
Tapi memberi makna?
Itu pekerjaan manusia.
❓ Pertanyaan Sebenarnya Adalah:
Bukan lagi:
“Apakah aku nanti akan bisa digantikan AI?”
Tapi:
“Bagian mana dari diriku yang tidak akan bisa tergantikan?”
Dan itu membawa kita ke dua hal yang terus diperdebatkan:
🌿 Hard Skill — The Ticket to Enter
Hard skill adalah kemampuan teknis—
yang dibangun lewat pendidikan formal, sertifikasi, dan disiplin ilmu.
Jadi pertanyaan:
seberapa penting jalur formal untuk kesuksesan?
Dalam konteks manusia vs. mesin:
pendidikan formal bukan sekadar nilai atau hafalan rumus.
Ia adalah ruang yang membangun:
- struktur berpikir
- kapasitas menganalisis
- kemampuan memecahkan masalah
- resiliensi
- habit belajar sepanjang hidup
Sekolah bukan sekadar institusi yang memberi lisensi.
Sekolah adalah latihan otak.
Latihan berpikir.
Dan fondasi yang tidak tergantikan—
kalau dimanfaatkan dengan benar.
🌿 Soft Skill — The Reason People Want You in The Room
Jika hard skill membuka pintu,
soft skill menentukan apakah kamu dipersilakan duduk,
atau dipersilakan keluar.
Kemampuan seperti:
💛 berempati
💛 mendengar
💛 berkolaborasi
💛 membaca emosi
💛 mengelola konflik
💛 menginspirasi manusia—bukan hanya memerintah
AI bisa meniru percakapan.
Tapi belum bisa menggenggam kepercayaan.
AI bisa memberi opsi.
Tapi belum bisa memahami konsekuensi moralnya.
AI bisa menyusun jawaban.
Tapi belum bisa memberi makna.
Manusia — dengan segala kompleksitasnya —
yang bisa mengisi ruang-ruang ini.
Dan lagi-lagi, ada pilihan:
👉 apakah kita ingin mengambil ruang yang sama dengan mesin?
👉 atau mengambil ruang yang memang hanya bisa diisi manusia?
❤️ Karena Pada Intinya…
AI mungkin bisa bekerja mengikuti pola kerja otak —
tapi belum bisa berpikir seperti manusia utuh.
Karena manusia bukan sekadar kumpulan skill.
Kita adalah gabungan -bukan sekedar penjumlahan- aspek seperti:
- logika
- intuisi
- emosi
- pengalaman
- kesadaran; dan
- nilai-nilai yang jadi kompas pada keputusan
Pada akhirnya, AI mungkin bisa menggantikan kita melakukan sebagian tugas.
Tapi ia tidak bisa menggantikan:
💛 empati
💛 kehadiran
💛 kemanusiaanmu
🪞 Jadi Saat Pertanyaan Itu Muncul…
“Am I replaceable?”
Jawabannya kubisikin pelan-pelan.
Tidak — jika kamu terus berkembang.
Bukan hanya berkembang sebagai pekerja…
dengan mengasah kemampuan teknismu.
Tapi juga tumbuh sebagai manusia…
yang hadir, yang peduli, yang berpikir dan yang tetap belajar.
Karena di tengah dunia yang makin cepat,
makin otomatis,
dan makin efisien,
yang paling dicari bukan yang paling sempurna—
tapi yang tetap manusia.
Dan jika itu yang kamu jaga,
maka jawabannya jelas:
You are not replaceable.
Not now —
not ever.

