📌 The Opposite of Losing Them: Parenting Series — Teen Edition
Sudah beberapa tahun belakangan si sulung masuk asrama.
Tahun-tahun awal penuh drama.
Setiap kali pulang dan setiap kali kembali,
pintu depan asrama seperti panggung
untuk air mata yang tidak habis-habis.
Tangisan yang ditahan,
dan tangisan yang dibiarkan jatuh tanpa malu.
Aku kewalahan.
Campur aduk.
Antara mengelola emosiku sendiri,
menenangkan adik-adiknya,
dan memastikan ia tahu:
“Ini bukan paksaan. Kamu selalu punya pilihan.”
Aku juga ingin ia tetap kuat.
Sebagai laki-laki.
Sebagai kakak.
Sebagai seseorang yang sedang tumbuh.
🌿 Ketika Jarak Mulai Hadir
Lalu waktu berjalan.
Tanpa aku sadari, dramanya mereda.
Pulang dan kembali terasa biasa saja.
Mengalir.
Tanpa upacara kesedihan.
Bahkan waktu pulang yang hanya dua kali sebulan,
sering ia lewatkan.
Katanya:
“Ada kegiatan.”
“Belajar dulu.”
“Mau bertualang sama teman-teman.”
Aku mendengar.
Aku terdiam.
🌿 Jarak Tidak Selalu Berarti Kehilangan
Seharusnya aku lega, kan?
Bukankah dulu momen pulang selalu berat?
Bukankah aku dulu berharap tidak ada drama lagi?
Bukankah aku berdoa supaya dia bisa nyaman di dunia barunya?
Tapi anehnya: ketika dramanya hilang —
ada bagian di dalam diriku yang ikut hilang juga.
Aku mulai lebih sensitif.
Chat pendeknya terasa seperti penolakan.
Seperti aku bicara kepada seseorang
yang mulai punya dunia tanpa aku di dalamnya.
Aku takut.
Takut ia jauh —
takut tak lagi jadi tempatnya kembali.
Suatu pagi aku menangis.
Gak kuat lagi menahan emosi.
Ke suami, kuceritakan tentang rasa di dalam dada:
campuran cemas, kehilangan, dan bingung.
Suamiku tertawa kecil, lalu berkata pelan:
“Dia gak hilang. Dia cuma tumbuh.”
“Emang dulu waktu kamu ngekos pas kuliah, pulangnya berapa kali?”
Aku terdiam.
Dan tiba-tiba aku sadar:
Begini rupanya perasaan orang tuaku dulu.
Aku tidak pulang berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Did I love them less?
Tidak. Sama sekali tidak.
Justru lebih besar.
Lebih dewasa.
Lebih intentional.
🌿 Ketika Pertanyaan Berubah
Lalu pertanyaannya berubah:
Jarak ini — jarak yang aku rasakan sekarang —
apakah tanda ia tumbuh?
Atau tanda ia mundur dari hubungan ini?
Karena selalu ada dua jenis jarak:
- Jarak yang sehat.
- Jarak yang menjadi alarm.
Seperti kata Kahlil Gibran:
“Let there be spaces in your togetherness.”
Jarak yang memberi ruang dua jiwa menari.
Atau jarak yang sunyi dan mencekam —
seolah kasih sedang mengangkat tangan berkata: “Ada yang salah.”
🌿 The Science of Growing Apart — Without Falling Apart
Remaja sedang berada di fase pencarian identitas.
Menurut Erikson, di fase ini mereka bertanya —
bukan lagi ke orang tua — tapi ke dunia:
“Siapa aku di luar rumah?
Am I enough?
Siapa aku tanpa orang tuaku?”
Jadi jarak yang kita rasakan bukan kehilangan.
Itu ruang identitas.
Ruang untuk:
- membangun diri yang utuh
- menguji kemandirian
- membuat keputusan
- menyusun kepingan puzzle of “Who am I?”
📌 It Is Needed. It Is Evolutionary.
Para psikolog dan ahli perkembangan juga sepakat soal ini.
Secara biologis, otak remaja mengalihkan fokus sosialnya;
dari keluarga ke teman sebaya.
Ini bukan pengkhianatan.
Ini evolutionary wiring.
Karena dunia dewasa tempatnya hidup nanti,
tidak bisa ditempuh sendirian —
tapi bersama komunitas dan relasi sosialnya.
Di tengah semua perubahan ini, mudah banget bagi kita
— orang tua — untuk ikut panik:
soal jarak iya,
soal prestasi juga.
Di seri lain, aku pernah menulis tentang sisi lain dunia remaja:
ketika mereka tidak perlu berlari mengejar semua hal sekaligus.
📎 Kamu bisa membacanya di sini:
👉 Saat Anak Tak Ingin Ikut Berlari: Tentang Menemani, Bukan Membandingkan
🚧 The Upstairs Brain Is Still Under Construction
Jadi kalau kadang mereka kelihatan dingin,
jawabannya pendek,
atau nampak defensif —
itu bukan karena mereka tidak sayang.
Dr. Dan Siegel bilang:
Mereka sedang belajar menggunakan otak dewasa dengan perasaan remaja.
Dan proses itu… berantakan.
Prefrontal cortex — bagian otak untuk kendali diri, logika dan pengambilan keputusan —
belum matang sampai usia sekitar 25.
Artinya:
- mereka bisa mencintaimu dan membentakmu
- mereka bisa tahu kamu benar tapi tetap menolak
- mereka bisa rindu tapi tidak menunjukkan apa-apa
Kadang terasa menyakitkan —
but it turns out… normal.

🌿 What Love Looks Like Now
Tidak lagi:
- pelukan 24 jam
- cerita panjang
- atau ingin ikut ke mana-mana
Sekarang cinta versi mereka sesederhana:
💛 duduk dekat tanpa bicara
💛 nempel di sofa tapi tetap main HP
💛 datang ke kamar hanya untuk memastikan kita masih ada
💛 masih cerita — meski tidak sepanjang dulu
Itu bukan kebetulan.
Itu bid for connection.
Kadang kita juga perlu paham,
point of view mereka melihat “jarak”.
For more understanding for both sides,
you can check this out.
🔗When You Want Space -Not Control
🌿 Walau… Tidak Semua Jarak Aman
Ada juga tanda-tanda jarak yang perlu dilihat lebih dalam:
❌ menarik diri total
❌ tidak ada koneksi emosional sama sekali
❌ kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai
❌ pola tidur / makan berubah drastis
❌ sering berkata:
“Aku gak penting.”
“Aku capek hidup.”
“Ibu gak paham.”
Ini bukan “anak remaja biasa.”
Ini teriakan sunyi:
“Aku kewalahan, tapi aku gak tahu cara bilangnya.”
Ini bukan tumbuh.
Ini alarm.
Emotional quiet quitting.
🌿 Antara Mendekat dan Memberi Ruang
Berasa meluncur dalam petualangan tanpa batas.
Menghadapi skenario jauh-dekat ala remaja ini,
kadang bikin kita -sebagai orang tua- jadi bingung.
Sebagian orang tua langsung maju tak gentar:
“Kenapa kamu begitu?”
“Ayo cerita ke Ibu sekarang.”
Sebagian lainnya mundur teratur:
“Dia gak mau cerita ya sudah.”
“Toh kita udah nanya — dia gak mau jawab.”
Dua-duanya ekstrem.
Karena remaja tidak butuh dikontrol —
tapi juga tidak ingin dibiarkan sendiri.
Yang mereka butuh:
👉 Hadir. Tapi tidak menginvasi.
👉 Dekat. Tapi tidak menempel.
👉 Mendengar. Bukan menginterogasi.
Sulit? That’s why it takes a village, right?
We’re here. With you.
🌙 Read Between the Lines — But Not Too Much
Tanya diri pelan-pelan:
Apakah ia menjauh karena ia mulai bisa mandiri?
atau
Apakah ia menjauh karena ia merasa perlu menjauh?
Yang pertama: perkembangan.
Yang kedua: pertahanan diri.
Dan pertanyaan ini akan muncul berulang —
karena kita orang tua.
Itu bagian dari cinta.
Dan bagian dari kehilangan yang pelan-pelan kita pelajari.
🌿 The Boundary Lesson — Without Losing Connection
Kadang mereka menjauh karena… kita terlalu dekat.
Salvador Minuchin — dalam teori Structural Family Therapy —
menyebut ini enmeshment: batas hubungan terlalu kabur sampai tidak ada ruang bernapas.
Contohnya:
- terlalu cepat memberi solusi
- ikut campur semua keputusan
- menyelesaikan masalah mereka sebelum mereka belajar menghadapinya
Niatnya cinta.
Tapi pesan bawah sadarnya:
“Aku gak percaya kamu bisa.”
Dan respon remaja paling natural adalah:
👉 menciptakan jarak sebagai bentuk otonomi.
🌿 Jadi… Bagaimana Kita Menyikapi Jarak Ini?
Dengan rasa ingin tahu yang lembut.
Bukan kontrol.
Bukan asumsi.
Bukan ceramah.
Kalimatnya bisa sesederhana:
“Kamu kayak capek. Lagi mikirin apa?”
“Kalau butuh bantuan, bilang ya. Ayah di sini.”
“Kalau belum mau cerita, gak apa-apa. Ditunggu.”
✨ Practical Scenarios for Parents of Teens
📍 1. Saat Jawabannya Pendek:
Anak – “Ga apa.”
Reaksi orang tua (yang tidak sengaja bikin makin jauh):
“Kamu ngomong yang jelas dong.”
“Kok jawabnya begitu? Kamu marah ya?”
Respon alternatif:
“Oke. Kalau nanti mau cerita, I’m here.”
(kalimat ini membuka pintu — tanpa mendorongnya masuk)
📍 2. Saat Mereka Menutup Diri:
Anak – diam, membuka HP, tidak menatap.
Reaksi yang umum terjadi:
“Kamu tuh kalau dibilangin malah diam. Mama ngomong sama siapa?!”
Respon alternatif:
“Lagi sibuk mas?”
“Kalau udah bisa ngobrol… bilang ya.”
(remaja menghargai pilihan — bukan tekanan)
📍 3. Saat Mereka Bilang “Gak Paham.”
Anak – “Ibu tuh gak ngerti.”
Reaksi defensif (wajar tapi memutus koneksi):
“Loh selama ini siapa yang berjuang buat kamu?”
Respon alternatif:
“Mungkin benar. Bantu ibu ngerti — pelan-pelan.”
(ini mengembalikan posisi: bukan lawan, tapi partner)
📍 4. Saat Mereka Menolak Bantuan
Orang tua – “Ayah bantu ya?”
Anak – “Ga usah. Aku bisa.”
Reaksi yang sering muncul:
“Ya sudah, terserah kamu!”
Respon alternatif:
“Oke. Aku percaya kamu bisa.
Kalau nanti butuh backup — bilang.”
(ini sinyal kepercayaan, bukan pelepasan total)
📍 5. Saat Mereka Mulai Jarang Pulang / Jarang Menghubungi
Reaksi panik dalam hati:
“Dia lupa rumah.”
“Dia gak butuh kita lagi.”
Yang bisa dikatakan:
“Kami senang lihat kamu punya teman baru, dunia baru.
Tapi kamu tetap bagian penting di rumah ini.
Kalau waktunya pas, pulang sebentar walau cuman numpang laundry.”
(remaja tidak butuh ditarik — mereka butuh tahu pintunya tetap terbuka)
Karena cinta bukan sekedar intuisi — ia keterampilan yang bisa kita pelajari seiring waktu.
💌 Pertanyaan Pelan Sebelum Tidur
Apakah aku ingin mendekat karena aku peduli —
atau karena aku takut kehilangan kendali?
Dua perasaan itu mirip.
Tapi diterima anak dengan rasa yang sangat berbeda.

🕯️ Penutup yang Mungkin Kita Butuhkan Hari Ini
Remaja yang menjauh bukan selalu pertanda hubungan retak.
Kadang itu tanda hubungan sedang berubah bentuk.
Dari:
- dijaga → dipercaya
- diatur → didampingi
- anak kecil → manusia penuh
Yang perlu kita lakukan bukan menarik mereka kembali.
Tapi memastikan:
Ketika mereka perlu kembali — rumah ini masih terasa aman.
Karena hubungan yang sehat bukan yang terus berdekapan.
Tapi yang bisa memberi:
📌 ruang untuk tumbuh
📌 tempat untuk pulang
Tanpa syarat.
Tanpa tekanan.
Tanpa kehilangan cinta.
Tidak ada orang tua yang benar-benar siap melihat anaknya tumbuh menjauh.
Tapi ada saatnya kita belajar:
cinta bukan selalu menggenggam —
kadang cinta adalah memberi sedikit jarak untuk berpisah;
sambil tetap menyediakan ruang untuk kembali pulang.
Kalau kamu belum membaca bagian pertamanya — tentang fase anak yang masih kecil — kamu bisa mulai dari sana dulu.
👉 Ketika Orang Tua Bukan Pilihan Pertama: Tentang Attachment, Kehadiran dan Cara Menjadi Tempat Pulang
🧠 The Mind Behind the Theory
📌 Erik Erikson — Developmental Psychologist
Erikson menjelaskan bahwa remaja berada di fase pencarian identitas. Pertanyaan terbesar usia ini adalah: “Siapa aku?”
Dan proses menemukan jawabannya sering terlihat seperti jarak dari orang tua — padahal itu bagian dari menjadi diri.
📌 Dr. Dan Siegel — Psychiatrist & Neuroscience-Based Parenting
Siegel membantu orang tua memahami bahwa otak remaja masih berkembang.
Prefrontal cortex — pusat logika, kontrol diri dan keputusan — belum matang. Karena itu, remaja bisa peduli dan defensif di detik yang sama.
📌 Salvador Minuchin — Family Therapist
Minuchin memperkenalkan istilah enmeshment — hubungan yang terlalu lekat sampai batas-batas personal hilang.
Tanda cinta bukan selalu kedekatan tanpa ruang; kadang cinta adalah memberi ruang agar anak dapat berdiri sebagai dirinya.
📌 Kahlil Gibran — Penyair & Filosof Relasi
Gibran mengingatkan bahwa cinta yang matang memberi ruang, bukan mengekang. Melalui puisinya, ia menulis:
“Let there be spaces in your togetherness.”
Baginya, jarak bukan tanda menjauh — tapi ruang agar dua hati bisa tumbuh tanpa kehilangan hubungan.

