📌The Opposite of Quiet Quitting: Parenting Series – Younger Kids
Dalam sebuah film yang kutonton, seorang ibu mendadak menangis ketika ditanya temannya,
“Are you ok?”
Sebuah pertanyaan sederhana,
tapi di dunia para ibu,
pertanyaan itu kadang jadi kunci pintu air mata yang sudah terlalu lama ditahan.
— suatu hari kita bahas soal emotional load ya.
Karena itu dunia lain yang tidak semua orang paham.
Tapi yang menarik bukan tangisannya.
Yang menarik adalah alasannya.
Anaknya sedang sakit.
Demam.
Rewel.
Muntah.
Dan ketika terbangun…
yang dicari bukan ibunya.
Tapi nanny-nya.
Mbanya.
Pengasuhnya.
Sang ibu merasa invisible di hadapan anaknya.
Dia merasa… bukan pilihan.
Dan terluka.
Lukanya terasa sangat manusiawi.
Aku, di antara semua naik–turun hidup, punya satu privilege besar:
aku bisa hadir menemani sejak hari pertama anak-anakku lahir.
Bukan karena aku paling benar.
Bukan karena aku paling mampu.
Tapi karena aku beruntung.
Tidak semua orang punya kesempatan itu.
Tidak semua orang punya struktur hidup yang memberinya ruang untuk itu.
Jadi, aku gak bisa bilang “aku paham sepenuhnya.”
Tapi aku paham rasanya ingin jadi orang pertama
yang dicari anak ketika:
mereka takut,
lelah,
sakit,
atau hanya butuh pegangan.
Karena bagi orang tua;
dipilih itu bukan soal ego.
Dipilih adalah pengakuan;
bahwa kita adalah their safe person.
Dan itu… priceless.
🧩 Lalu Pertanyaannya:
Kenapa sebagian anak lebih dekat dengan pengasuh daripada ibunya?
Apakah itu tanda kurang bonding? Atau hanya fase yang wajar?
Bagaimana caranya jadi tempat pulang?
Bagaimana supaya kita yang dicari,
ketika dunia terasa terlalu besar dan tubuh mereka terlalu kecil?
Bagaimana supaya kita bukan hanya orang yang memberi perintah,
tapi juga orang yang memberi rasa aman?
Untuk menjawab itu, kita perlu menyelam sedikit ke teori ini:
📌 Attachment: The Science of Being “Home”
John Bowlby menyebutnya dengan istilah Secure Attachment.
Konsep sederhananya begini:
Anak akan kembali kepada orang yang membuatnya merasa aman, dilihat dan diterima tanpa syarat.
Bukan yang punya banyak aturan.
Bukan yang sering kasih nasehat.
Bukan pula yang paling sering kasih hadiah.
Tapi yang hadir. (Ah, that word again)
Yang mau duduk.
Mendengar.
Melihat tanpa menghakimi.
Karena anak bukan mencari yang sempurna.
Anak mencari yang paling reseptif.
Ainsworth -tokoh lain- lalu meneliti lebih jauh.
Ia menemukan bahwa anak membangun kelekatan bukan dari:
❌ liburan mewah
❌ banyak hadiah
❌ rutinitas sempurna
Tetapi dari:
✔ wajah yang merespons
✔ suara yang friendly
✔ kehadiran tanpa tergesa
✔ momen-momen kecil yang konsisten
Dan itulah yang membuat seorang anak bisa tanpa kata merasa:
“Aku aman bersamamu.”
🌿 Tidak Harus Sempurna — Tapi Harus Cukup Konsisten
Ini bagian pentingnya. Dan banyak orang tua yang lupa.
Attachment bukan dibangun dari perfect parenting,
tapi kemampuan untuk repair -memperbaiki hubungan.
Anak tidak butuh orang tua yang tidak pernah salah.
Mereka hanya butuh orang tua yang:
- mau kembali setelah marah,
- mau bilang “maaf ya tadi ibu teriak,”
- juga mau mendengar alasan dengan tenang.
Cinta itu gak selalu soal pembuktian yang keras.
Sometimes love is just that small-soft return.
Tentang bagaimana melakukan repair pada hubungan suami-istri, supaya tetap kembali pulang ke pasangan. Silakan baca tulisan ini.
📌Ketika Cinta Tak Lagi Bersuara: Tentang Hubungan yang Bertahan Tapi Hati Menjauh Perlahan
🧠 Co-Regulation: Ketika Anak Belajar Emosi Lewat Kita
Dr. Dan Siegel bilang katanya:
“A nervous system borrows regulation from another nervous system.”
Artinya?
Anak tidak otomatis bisa tenang dan mengelola emosinya.
Mereka belajar tenang lewat kita. Melihat kita.
Bukan dari ceramah.
Bukan dari nasihat.
Tapi dari:
- cara kita mengatur intonasi,
- cara kita menahan marah,
- cara kita memberi ruang pada tangisan mereka.
Karena sebelum anak bisa self-regulate,
mereka butuh co-regulation.
Dan itu hanya terjadi kalau orang tua hadir. Bukan sekedar ada.
⭐ Lalu Bagaimana Cara Menjadi Tempat Pulang?
Tidak rumit sebenarnya.
Kadang cara-caranya sesederhana:
💛 duduk dekat tanpa bicara
💛 tatap mata dengan ekspresi
💛 dengarkan tanpa kasih solusi
💛 peluk tanpa alasan; selain I love you
Karena bagi anak,
yang menguatkan bukan solusi.
Yang menguatkan adalah keberadaan.
✨ Bagaimana Ini Terlihat Dalam Kehidupan Sehari-hari?
(Karena cinta butuh bentuk, bukan hanya konsep.)
Kadang kita bingung:
“Oke… attachment penting. Tapi prakteknya kayak apa?”
Mari kita main skenario.
📍 Ketika anak pulang sekolah lalu menangis:
Jangan buru-buru menenangkan.
Jangan buru-buru memberi solusi.
Coba mulai dengan:
“Kamu sedih dek? Ada kejadian apa di sekolah?”
Biarkan ia bercerita.
Biarkan emosinya menemukan ruang.
Kadang anak tidak butuh jawaban.
Ia hanya butuh orang yang tidak tergesa-gesa.
📍 Ketika anak bilang:
“Aku gak bisa.”
Jangan jawab otomatis:
❌ “Bisa dong, masa gitu aja nyerah?”
Tapi coba begini:
“Kerasa susah ya?
Bagian mana yang paling stuck?”
Lalu bantu sedikit — bukan ambil alih semuanya.
Karena di situlah otot mentalnya tumbuh.
📍 Ketika anak marah atau tantrum:
Jangan buru-buru memarahi.
Juga jangan menyerah lalu mengikuti maunya.
Tetap tenang.
Lalu bilang:
“Ibu disini ya.
Kalau sudah cukup tenang, kita bisa diskusi.”
Itulah co-regulation:
Ia belajar mengatur emosinya melalui cara kita mengatur emosi kita.
📍 Ketika anak berbuat salah:
Bukan “Kenapa sih kamu begitu?”
Lebih baik:
“Pelajarannya apa kakak/ adek?”
Karena tujuan kita bukan melahirkan anak yang takut salah,
tapi anak yang berani bertanggung jawab.
Dan sebelum kamu merasa semua ini berat,
ada satu kalimat dari Al-Ghazali yang mungkin bisa kamu simpan pelan-pelan di hati:
“Hati anak itu lembut seperti tanah kosong.
Apa yang engkau tanam di dalamnya — itulah yang tumbuh.”
Tugas kita bukan menyempurnakan tanah itu,
tapi menjaganya agar tetap subur
untuk tumbuhnya cinta,
keberanian,
rasa aman; dan
keyakinan bahwa ia layak dicintai.
🕯️ Ingat…
Kita gak perlu jadi orang tua sempurna.
Malam ini, kita lakukan bareng yuk:
💛 usap kepalanya
💛 bilang terima kasih; atau
💛 sekadar peluk lebih lama dari biasanya
We are building moments.
Dan these little moments, my dear;
yang nanti akan jadi alasan mereka selalu pulang.
Suatu hari,
ketika dunia terasa berat bagi mereka,
mereka akan tahu satu hal sederhana yang melegakan:
“Aku tahu ke mana aku selalu bisa pulang.” 🤍
Spread The Warm
💌 Kalau tulisan ini terasa menghangatkan ruang kecil di dalam dirimu,
as much as it warms my heart writing it,
silakan bagikan.
Mungkin ada orang tua lain
yang perlu diingatkan bahwa:
Hadir itu cukup.
Dan yang kecil itu berarti.
Baca juga: Ketika Anak Tidak Mau Berlari — Tentang Tempo, Tekanan dan Membiarkan Mereka Bertumbuh.
Karena kadang orang tua tidak butuh jawaban—mereka hanya perlu diingatkan bahwa mereka tidak gagal.
Tulisan ini adalah salah satu dari rangkaian parenting series. Tentang bagaimana menghadapi anak usia remaja, bisa dibaca di sini.
🔗Ketika Remaja Mulai Menjauh: Tentang Attachment, Otonomi dan Membangun Ruang Bagi Dua Jiwa Menari
🌿Footnote – The Mind Behind the Theory
📌 John Bowlby — Psikiater
Bowlby dikenal sebagai “bapak teori attachment.” Inti pemikirannya sederhana tapi kuat: anak akan berani menjelajah dunia jika ia punya tempat pulang yang aman. Hubungan pertama dengan orang tuanya (early care taker) menjadi pola dasar bagaimana ia memandang hubungan — apakah aman, atau harus hati-hati.
📌 Mary Ainsworth — Psikolog Perkembangan
Ainsworth melanjutkan pemikiran Bowlby dan menunjukkan bahwa kelekatan tidak terbentuk dari hadiah besar, tapi dari respons kecil yang konsisten. Setiap kali anak menangis, mencari mata kita, atau memanggil “Mamaaa…” — itu bukan kekurangan. Itu permintaan koneksi.
📌 Dr. Daniel Siegel — Dokter Saraf
Siegel menggabungkan neuroscience dengan pengasuhan mindful. Pesannya: anak belajar mengatur emosinya melalui cara kita mengatur emosi kita saat meresponsnya. Kehadiran dulu — baru koreksi.
📌 Al-Ghazali — Cendekiawan Muslim
Jauh sebelum era psikologi modern, Al-Ghazali menulis bahwa anak adalah amanah yang hatinya lembut seperti tanah kosong—yang akan tumbuh sesuai tangan yang merawatnya. Pesannya mengingatkan: mendidik anak bukan hanya soal aturan, tapi soal cara hati hadir.

