Temanku banyak HR.
Suami juga HR.
Dan ada satu momen yang selalu bikin jantungku deg-degan setiap kali mereka cerita:
ketika mereka harus memecat karyawan.
Apa pun istilahnya:
redundant,
PHK,
paket,
pensiun dini—
intinya tetap sama:
ada seseorang yang harus berhenti bekerja.
Memori Lama yang Tertinggal
Sebagai anak dari salah satu korban PHK massal krismon 97–98, aku tahu rasa itu.
Aku masih ingat jelas:
– wajah mamah yang menegang
– suasana rumah yang berubah
– pagi yang awkward ketika papah tidak lagi berangkat kerja
PHK bukan sekadar hilangnya penghasilan.
Kadang — atau sering — itu hilangnya identitas.
Hari Ini: Banyak Hal Sudah Berubah
Sekarang banyak perusahaan jauh lebih manusiawi.
Setiap kali suami cerita habis melepas karyawan, aku refleks berkata:
“Aduh… semoga mereka bisa menerima ya. Dan ngerti kalau kamu cuma menjalankan tugas.”
Dalam hati masih ada sisa luka lama — semacam trauma warisan.
Tapi suami cuma menjawab santai:
“Loh… justru mereka senang. Arrangement-nya bagus. Mereka malah makasih berkali-kali.”
Dan di situ aku pelan menarik napas:
Alhamdulillah.
Masalah Besarnya Bukan Lagi PHK
Yang menarik — atau malah concerning — hari ini bukan PHK.
Tapi fenomena lain yang jauh lebih halus.
Lebih diam.
Lebih psikologis.
Kerja masih jalan.
Absensi masih hijau.
Meeting masih ikut.
Tapi mentalnya?
❓ kosong
❓ lelah
❓ jauh
Seperti zombie.
Anak-anak sekarang menyebutnya:
👉 Quiet Quitting.
Quiet Quitting: Bukan Resign, Tapi “Resign” Dalam Hati
Fenomena ini bukan baru.
Yang baru hanyalah kata untuk menyebutnya.
Quiet quitting itu bukan:
❌ malas
❌ tidak loyal
❌ tidak peduli
Kadang quiet quitting adalah cara tubuh bilang:
“Aku lelah jadi karyawan ideal… tapi aku juga butuh kerjaan ini.”
Kenapa Quiet Quitting Terjadi?
Kalau pakai kacamata psikologi kerja, teori yang mungkin pas adalah:
📌 Job Demands–Resources Model (Bakker & Demerouti)
Sederhananya:
- jika tuntutan pekerjaan tinggi
- dan dukungan & sumber daya rendah
maka sistem mental berubah ke mode survival, bukan lagi engagement.
Lalu yang muncul adalah pola:
👉 fisiknya fisik, tapi jiwanya gak
👉 bekerja sih, tapi secukupnya
👉 tidak lagi berharap, tapi bertahan
Seperti laptop yang masuk power-saving mode, karena baterenya udah mau habis.
Diam-Diam, Ada Pergeseran Besar
Dulu orang bekerja untuk:
❤️ kebanggaan
❤️ identitas
❤️ rasa memiliki
Sekarang lebih banyak orang bekerja karena:
⚠️ kewajiban
⚠️ cicilan
⚠️ ketakutan
Dan ketika pekerjaan tidak lagi terasa meaningful…
pelan-pelan,
tanpa suara…
hubungan antara diri dan pekerjaan mulai longgar.
Motivasi menguap.
Sense of belonging hilang.
Yang tersisa hanya rutinitas. Mekanis. Transaksional.
Tubuh masih datang.
Tangan masih bekerja.
Tapi hati?
💔 sudah setengah jalan pergi.
Ini Bukan Tentang Generasi
Menariknya, fenomena ini tidak terjadi hanya pada entry level.
Bahkan middle & top management juga melakukan hal yang sama.
Hanya bentuknya berbeda:
❌ berhenti terlibat
❌ berhenti memberi feedback
❌ berhenti berharap ada yang bisa berubah
❌ berhenti hadir dengan hati
Pada titik ini, organisasi berubah dari:
✨ ekosistem yang hidup jadi kayak kumpulan spare-part mesin
✨ hubungan kerja yang humanis jadi cenderung transaksional
Teori yang Bisa Jadi Kompas
📌 Self-Determination Theory (Deci & Ryan)
Manusia akan berkembang ketika tiga kebutuhan psikologisnya terpenuhi:
- Autonomy → “Aku punya suara.”
- Competence → “Aku bisa berkembang.”
- Relatedness → “Aku terhubung.”
Ketika ketiganya hadir — orang hidup.
Ketika satu atau semuanya hilang — orang sekedar bertahan.
Quiet quitting adalah sinyal bahwa ada yang hilang dari tiga hal di atas; yang lalu menimbulkan luka.
Mungkin Quiet Quitting Adalah Alarm
Alarm bahwa:
💛 orang ingin dihargai, bukan hanya dinilai
💛 ingin didengar, bukan hanya diarahkan
💛 ingin ada makna, bukan sekadar target
Karena idealnya, manusia bekerja bukan hanya untuk makan.
Tapi untuk merasa hidup.
Sebuah Ajakan Pelan
Mungkin minggu ini… sebelum kita menilai:
“Kenapa banyak yang quiet quitting?”
Coba balik pertanyaannya:
👉 Sejak kapan mereka merasa tidak lagi dianggap sebagai manusia?
👉 Bagian mana yang membuat mereka merasa tidak dimanusiakan?
Lalu tanya pelan ke diri sendiri:
“Apakah aku masih bekerja dengan hatiku… atau aku sudah mulai pergi diam-diam?”i .
— ✨ Human Chronicles, Monday Reset.

