Tahun-tahun belakangan, aku ada di satu fase hidup yang lebih tenang secara finansial. Dan mungkin karena itu, aku mulai sering menoleh ke belakang — ke masa ketika hidupku jauh dari kata stabil.
Ada masanya aku pernah sangat kesulitan.
Hingga pernah pingsan karena dua hari tidak makan waktu kuliah di Yogya.
Tapi aku tidak cerita ke siapa pun.
Entah kenapa wajahku tampaknya tidak memancarkan aura “orang yang butuh bantuan.”
Saat itu aku berjanji dalam hati:
Kalau nanti aku diberi rezeki cukup, siapa pun yang meminta bantuan tidak akan pernah kutolak.
Dan bertahun-tahun aku menjalani itu. Sampai kurevisi janji itu 2-3 tahun terakhir.
Tapi perjalanan memahami soal hutang piutang ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar “punya uang – bantu.”
Hutang bisa jadi ladang pahala,
tapi juga bisa jadi jalan menuju neraka — di dunia maupun di akhirat — kalau tidak dikelola dengan adab.
Ketika Aku Berada di Posisi Berhutang
Aku pernah punya hutang ratusan juta, hutang bisnis yang meleset dari proyeksi.
Aku bayar satu per satu, kadang minta reschedule, kadang sambil tahan air mata dan rasa malu yang luar biasa menggigit.
Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan di nominalnya,
tapi cara sebagian orang menagihnya.
Ada yang bilang uangnya untuk “tagihan notaris karena mau dapat warisan.”
Sementara aku waktu itu bahkan tidak punya cukup uang untuk bayar SPP anak.
Tapi tetap — itu uang mereka.
Dan mereka berhak menagihnya, dengan alasan apa pun.
Aku bayar semuanya.
Lunas. Sampai rupiah terakhir.
Tapi aku memilih untuk tidak lagi berurusan dengan beberapa orang.
Bukan benci.
Bukan dendam.
Hubungan yang retak karena hutang jarang kembali utuh.
Tapi Hidup Juga Mengajariku Hal Lain: Kadang, Yang Berhutang Justru Lebih Galak
Ini ironi yang sering kita temui:
Yang berhutang lebih judes daripada yang ngutangin.
Yang berhutang lebih mudah marah daripada yang nagih.
Yang berhutang bisa dengan santai berkata,
“Tenang aja, sabar dong, kalau ada duit pasti dibayar”
padahal dirinya sendiri tidak sabar waktu butuh pinjaman.
Sementara yang nagih?
Sering diposisikan seolah-olah dia yang jahat.
Padahal bisa jadi dia juga lagi butuh uangnya.
Bisa jadi itu bukan uang nganggur, tapi dia pinjamkan karena percaya.
Bisa jadi itu uang belanja keluarganya, tapi dia merasa iba.
Bisa jadi dia meminjamkan bukan karena punya banyak uang,
tapi karena hati-nya yang punya banyak cinta.
Tapi justru orang-orang seperti ini sering diserang balik.
Teori Cognitive Dissonance bisa jadi menjelaskan ini:
ketika seseorang tahu ia salah (berhutang, belum sanggup bayar), otak kadang meminimalkan rasa bersalah dengan… menyalahkan orang yang menagih.
Biar rasa malunya hilang sedikit. Bisa jadi aku juga pernah melakukan ini.
Tidak sehat, tapi manusiawi.
Dan sangat umum terjadi.
Menagih Juga Manusiawi, Wajib Bahkan
Seiring waktu, aku juga belajar bahwa:
Yang berhutang tidak boleh lupa diri,
tapi yang memberi hutang juga tidak boleh kehilangan hati.
Menagih hutang bukan perbuatan jahat. Bahkan itu sebagian dari kewajiban pemberi hutang. Bentuk cinta bagi saudaramu yang berhutang.
Justru tidak menagih pun kadang membuat relasi tidak sehat,
karena bisa jadi pasif-agresif atau memendam kecewa yang dalam.
Dan sering, para penagih ini juga punya kisah sendiri:
ada yang sedang butuh bayar sekolah anak,
ada yang lagi kekurangan karena usaha sedang sepi,
ada yang sebenarnya juga sungkan nagih karena takut merusak hubungan,
tapi mau bagaimana lagi—uang itu dibutuhkan.
Saat kamu meminjamkan uang,
bukan hanya nominal yang diberikan.
Kamu sedang memberikan kepercayaan.
Menurut Social Exchange Theory, dalam hubungan manusia, utang itu bukan soal angka, tapi soal nilai dan rasa percaya.
Dan rasa percaya itu mahal.
Sangat.
Mengapa Hutang Bisa Menguji Moral Kita
Ada satu hal penting yang kupelajari:
Hutang itu selalu menyingkap karakter —
baik karakter yang berhutang maupun yang memberi hutang.
Tidak ada yang menang.
Tidak ada yang kalah.
Keduanya diuji.
Dalam psikologi ada istilah Loss Aversion:
rasa takut kehilangan uang jauh lebih besar daripada rasa senang saat mendapat uang.
Inilah kenapa hutang bisa membuat dua pihak tiba-tiba sensitif.
Karena bagi yang berhutang: muncul rasa malu, cemas, takut.
Sementara bagi yang memberi: khawatir tidak kembali uangnya atau rusaknya relasi yang ada.
Semua perasaan itu sah.
Semua manusiawi.
Jadi Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Hutang?
1. Kalau berhutang: bayar. Sesulit apa pun.
Kalau tidak bisa bayar sekaligus, komunikasikan.
Minta waktu, minta keringanan, tapi jangan menghilang.
Yang membuat orang marah bukan telatnya,
tapi hilangnya komunikasi.
2. Kalau memberi hutang: pastikan uang itu uang “rela hilang”.
Jangan pinjamkan uang yang kamu butuhkan dalam waktu dekat.
Karena jika kamu terjepit, hubungan kalian ikut terjepit. Buat manusia yang pernah ngerasain sulitnya cari uang, ini satu tantangan. Aku punya kecenderungan meng-iya-kan semua pinjaman yang diajukan. Dan ternyata ini gak baik, bagi yang minjamin maupun yang dipinjamin.
3. Kalau menagih: tegas boleh, merendahkan jangan.
Orang yang berhutang perlu diingatkan,
tapi bukan dihancurkan harga dirinya.
4. Kalau ditagih: jangan merasa tersinggung.
Dia bukan sedang menyerangmu.
Dia sedang mengambil haknya. Bisa jadi dia sedang menunjukkan betapa sulit fase hidupnya saat ini.
Hutang Bukan Tentang Uang, Tapi Tentang Manusia
Dari semua fasenya —
sebagai orang yang pernah berhutang,
juga orang yang pernah menagih —
aku belajar satu hal:
Yang membuat hutang berat bukan angkanya,
tapi bagaimana kita memperlakukan satu sama lain selama prosesnya.
Uang bisa diganti.
Rezeki bisa dicari.
Tapi luka hati akibat hutang…
butuh waktu lama untuk sembuh.
Semoga kita semua dijauhkan dari hutang,
diberi kecukupan,
dan kalau pun harus berhutang atau memberi pinjaman,
kita tetap berjalan dengan adab, bukan amarah.
Dengan hati yang lapang,
bukan gengsi yang menyesakkan.
Karena pada akhirnya,
yang diuji bukan dompet kita.
Yang diuji adalah kemanusiaan kita.
✨
Kalau kamu sedang berada di salah satu posisi — berhutang atau menagih — semoga tulisan ini bisa jadi jeda kecil untuk menenangkan hati.
Karena di balik angka dan nominal, selalu ada cerita dan manusia yang sedang berjuang.
Kalau kamu punya pengalaman serupa, ceritakan sedikit di kolom komentar.
Mungkin, ada hati lain di luar sana yang butuh tahu kalau ia tidak sendirian.

