Remaja sedang memikirkan sesuatu sambil memegang ponsel, merefleksikan perasaannya setelah melihat konten tentang mental health di media sosial.
Haruskah Kita Panik?

Beberapa waktu lalu, salah satu keponakan ketemu gede-ku datang sambil bilang:

“Tante, kayaknya aku anxiety deh.”

Mataku otomatis membelalak.

Dalam sepersekian detik, jawaban empatik yang biasa muncul dari bibirku bergeser.
Berganti rentetan pertanyaan yang sesak di kepala:

“Anxiety definisi siapa nih?”
“Pakai patokan DSM berapa?”
“Siapa yang diagnosis?”

Sementara dia?
Santai.
Sambil senyum.
Seolah baru bilang, “I just unlocked a new skill.”

Dan bukan cuma dia.

Dalam beberapa minggu terakhir, WA-ku seperti masuk ke dimensi paralel:

“Fan, gejala bipolar itu apa? Anakku bilang dia bipolar.”
“Mbak, anakku bilang dia depresi… cirinya apa ya?”

Yang bikin aku mangap bukan topiknya.
Tapi sumbernya.

Mereka bertanya bukan setelah konsultasi dengan psikolog.
Bukan setelah assessment.

Tapi setelah:

  • ngobrol sama teman anaknya,
  • nonton TikTok 30 detik,
  • baca thread random,
  • atau dapat validasi dari orang yang sama sekali bukan tenaga ahli.

Dan di satu titik aku cuma bisa duduk, tarik napas, lalu mikir:

Ini bukan lagi fenomena lucu.
Ini mulai berbahaya.


Kenapa Sekarang Semua Orang Mudah Sekali Mengklaim Diri Punya Gangguan Psikologis?

Generasi dulu menghindari label-label itu.
Generasi sekarang… kadang seperti memakainya sebagai identitas.

Kenapa?
Apa yang bergeser?

Aku mulai mengamati.
Diam-diam.
Dengan kepala miring seperti kucing heran.

Dan perlahan aku sadar:

Anak-anak hari ini tidak mencari diagnosis.
Mereka mencari nama.


📌 Labelling vs Awareness: Dua Hal yang Sering Tertukar

Dalam psikologi ada satu teori yang relevan:

Labeling Theory — Howard Becker

Ketika seseorang mulai pakai label tertentu buat dirinya,
identitas, cara berpikir dan perilakunya perlahan mengikuti label itu.

Artinya:

Kalau seseorang terlalu cepat memberi nama pada rasa atau pengalamannya,
label itu bisa membentuk dirinya — bukan lagi sekedar deskripsi, tapi kreasi.

Dan ini mulai terasa mengkhawatirkan. Dan sedikit bikin kesal.

Anak muda hari ini tidak kekurangan istilah. Aku pernah menulis lebih detail soal itu di sini.
Mereka kekurangan pendamping yang membantu mereka menafsirkan istilah itu dengan benar.

Dengan benar ya.
Bukan sekadar tafsir.


📌 Masa Remaja: Memang Fase Mencari Identitas

Menurut Erik Erikson, remaja ada di fase:

Identity vs Role Confusion.

Mereka sedang mencari:

Siapa aku?
Apa yang salah denganku?
Apa yang membuatku berbeda?

Dulu pertanyaannya muncul dalam bentuk:

“Kenapa aku beda dari temanku?”

Tapi sekarang?

“Aku introvert, extrovert, ADHD, bipolar atau anxious attachment?”

Lihat saja bio IG-nya.
Dengan bangga mereka tuliskan:

INFP.
Neurodivergent.

Yang bisa jadi diksi itu bukan didapat dari ruang psikolog.

Jadi vocabulary mereka meningkat.
Self-understanding-nya belum tentu.


Bagaimana Seharusnya Orang Tua Merespons?

Sebagian orang tua panik dan buru-buru bilang:

❌ “Enggak! Kamu cuma lebay.”

Sebagian lagi langsung percaya dan berkata:

❌ “Ya ampun… berarti kamu anxiety ya?”

Dua-duanya ekstrem.
Dua-duanya lahir dari niat baik.
Dan dua-duanya… tidak membantu.

Yang kita butuhkan adalah respon tengah —
macam kata Vetty Vera; yang sedang-sedang saja.

Acknowledge the feeling — bukan labelnya.

Karena:

Tidak semua perasaan perlu dibenarkan/ divalidasi.
Tapi semua perasaan perlu diakui keberadaannya.

Beberapa kalimat sederhana:

“Kamu lagi ngerasa apa?”
“Bagian mana yang paling berat?”
“Waktu kamu bilang anxiety… maksudmu apa?”
“Itu tubuhmu yang panik? Pikiranmu? Atau situasinya?”

Acknowledge = mengakui rasa itu ada, bukan membenarkan kenapa rasa itu muncul atau percaya begitu saja pada label dan semua atributnya.

Perasaan itu sinyal.
Interpretasinya?
Itu proses.


📌 Sebahaya Apa Self-Diagnosis?

Self-diagnosis terdengar ringan.
Tapi efeknya tidak kecil.

Ada tiga risiko utama — versi manusiawi:


1) The Label Becomes an Identity

Begitu seseorang berkata:

“Aku anxiety.”

otaknya mulai mencari bukti untuk membenarkan label itu.
Confirmation bias bekerja diam-diam.

Hal yang tadinya cuma fase,
bisa berubah menjadi identitas.


2) Label Menghalangi Pertumbuhan

Daripada bertanya:

“Aku kenapa?”

seseorang mulai berkata:

“Ya beginilah aku.”

Padahal mungkin ia hanya:

kelelahan,
overwhelmed,
atau sedang belajar hidup.


3) Label Mengganti Solusi

Label memberi rasa lega yang instan.
Tapi palsu.

Karena begitu ada nama,
kita merasa seolah-olah selesai
— padahal baru mulai.


Jadi… Apakah Ini Semua Salah Mereka?

Tentu tidak.
Ini bukan generasi yang lemah.
Ini generasi yang akhirnya punya bahasa;
untuk rasa yang dulu kita simpan diam-diam.

Tapi:

Nama tanpa pendampingan bisa salah arah.
Dan label tanpa pemahaman bisa berubah jadi penjara.


Jadi ketika anakmu mulai bilang:

“Aku kayaknya anxiety.”

jangan buru-buru percaya.
Tapi juga jangan buru-buru meremehkan.

Kadang yang mereka butuh bukan label.
Bukan nama.

Tapi seseorang yang sabar.
Yang hadir.
Yang menemani mereka pelan-pelan
berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang mereka alami. 💛


Leave a comment