Ilustrasi seseorang yang sedang merenung sambil memegang kepala, menggambarkan perbedaan antara awareness dan sekadar memberi label pada emosi.

(Sebuah kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang stres, ketahanan, dan generasi—dengan perspektif baru yang membuka mata. Tulisan sebelumnya bisa diintip di sini. )


Sebuah Catatan Awal dari Teman Psikolog

Setelah tulisan kemarin ku-publish, sebuah pesan WA lalu mendarat di inbox. Seorang teman lama, psikolog, tiba-tiba membisikkan satu kalimat yang membuatku berhenti sejenak.

“Fan, kayaknya gak tepat kalau kamu bilang awareness tinggi tapi ketahanan rendah kayak di artikelmu. Karena awareness itu bukan cuma tahu. Awareness itu tahu, paham dan ngerti harus ngapain.”

Aku langsung terdiam.
Ini tipe feedback yang sejak dulu kusuka:

straightforward, scientific, content-centered.

Feedback yang membuat kita grow, bukan defensif.

Jadi kubalas dia dengan gaya bercanda yang agak garing:

“Kalau kamu driver ojek online, sudah tak kasih bintang lima. Suwun feedbacknya.”

Tapi di balik bercandaku, ada satu hal yang muncul pelan-pelan:

Aku perlu memastikan. Aku perlu riset kecil-kecilan.
Bukan karena meragukan keilmuannya—dia doktor, dosen puluhan tahun.
Tapi karena kemandirian berpikir itu penting, bahkan antar teman sekalipun.


Apa Itu Awareness? (Bukan Seperti yang Viral di TikTok)

Aku mulai googling definisinya. Ini sebagian hasilnya.

Awareness = sadar keberadaan sesuatu + paham konteksnya + tahu apa respons yang tepat.

Tidak berhenti di pengetahuan.
Tidak berhenti di kemampuan menyebut istilah:

  • “Aku burnout.”
  • “Dia toxic.”
  • “Ini triggering.”
  • “Aku butuh healing.”

Karena kalau cuma sampai situ…
yang meningkat itu bukan awareness, tapi vocabulary.

Lalu kuteruskan riset kecilku:
Apa definisi “mental health awareness”?

Versi panjangnya kuselipin di bawah ya. Tapi versi pendeknya kurang lebih begini:

Mengenali tanda, memahami dampaknya dan tahu kapan serta bagaimana mencari bantuan yang tepat.

Tidak ada satu pun definisi yang berhenti di sekedar tahu nama gangguannya.

Dan di situ aku sadar:
temanku benar. Poinku kemarin kurang dalam.


Perbedaan Besar: Awareness vs “Tahu Namanya”

Ternyata istilah awareness gak tepat dipakai buat mereka yang baru bisa di tahap “labelling” atau memberi nama atas suatu kejadian/ perasaan.

Karena…

Awareness itu selalu mengandung elemen kedewasaan.
Ada refleksi.
Ada pemahaman konteks.
Ada kemampuan mengolah emosi.
Ada kapasitas bertindak, meski kecil.

Kalau:

  • Tahu istilahnya lalu dipakai self diagnosed; atau
  • Tahu gejalanya lalu dijadikan excuse; atau
  • Tahu harus gimana tapi milih diam aja

Itu belum awareness.
Itu baru labelling — kasih nama.


Lalu Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sel-sel abu-abuku terus tertantang dengan satu informasi baru ini. Lalu, kalau bukan awareness yang meningkat, apa sebenarnya yang terjadi pada generasi yang lebih muda ini? Kenapa mudah sekali mereka menggumamkan idiom-idiom mental health?

Kemudian baru kusadari…..

Yang meningkat adalah akses informasi—bukan kedalaman pemahaman.
Yang meluas adalah kosakata—bukan kapasitas emotional processing.

Dulu informasi mental health tersembunyi.
Sekarang melimpah.

Dulu orang takut bicara.
Sekarang berani. (Walau entah karena apa, mungkin ini topik terpisah lagi)

Dulu layanan mahal.
Sekarang relatif lebih terjangkau.

Ini semua perubahan. Kemajuan bahkan.
Sebuah kemajuan yang perlu disyukuri.

Tapi setiap kemajuan membawa paradoks dan semua perlu didudukkan secara proporsional:

ketika labelling lebih mudah dilakukan,
bisa jadi ini hanya awareness level permukaan.

Mungkin arahnya sudah tepat, mungkin….
tapi kita belum sampai ke tujuan.


Dan Di Sini Mulai Terlihat Bedanya…

Mungkin itu makanya masih banyak yang gak bisa memisahkan istilah dalam mental health dengan kondisi normal discomfort:

  • diminta revisi → “toxic,”
  • dibantah dikit → “gaslighting,”
  • capek → “burnout,”
  • salah paham kecil → “abusive,”
  • patah hati → “healing.”

Makanya mungkin juga, solusi yang muncul sifatnya temporer;
tidak langsung menghunjam ke akar masalahnya;
karena kita masih sulit membedakan;
mana keresahan yang perlu direspons sekarang;
mana ketidaknyamanan yang sebenarnya cukup dilewati pelan-pelan.


Di Mana Positioning Tulisan Ini?

Tulisan ini bukan revisi tulisan sebelumnya.
Tapi pendalaman.

Waktu kutulis tentang awareness vs ketahanan, itu baru satu layer.
Hari ini, berkat feedback temanku, aku menemukan layer berikutnya:

bahwa awareness yang sebenarnya bukan sekedar “tahu namanya”;
tapi kemampuan memaknai apa yang kita rasakan, kita alami;
dan keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.

Awareness bukan sekedar label.
Awareness adalah tentang mengambil tanggung jawab.

Dan mungkin di sinilah PR kita bersama:

mengubah makna semu awareness saat ini;
yang seolah-olah berhenti di “tahu nama”;
menjadi jauh lebih dalam;
lebih bertanggung jawab.


One response to “Ketika Awareness Bukan Lagi Sekadar “Tahu Namanya”: Sebuah Catatan Tentang Labeling dan Tanggung Jawab”

  1. Ketika Anak Mengaku “Aku Anxiety”: Fenomena Self-Diagnosed & Peran Orang Tua Menghadapinya – Human Chronicles : A Perspective Avatar

    […] muda hari ini tidak kekurangan istilah. Aku pernah menulis lebih detail soal itu di sini.Mereka kekurangan pendamping yang membantu mereka menafsirkan istilah itu dengan […]

    Like

Leave a comment