Sebuah Renungan Lintas Generasi di Dunia Kerja
Dalam lingkup pekerjaanku yang freelance, aku sering bertemu profesional lintas generasi.
Pernah bekerja dengan yang lebih tua dan amazed—vitalitasnya luar biasa, ketelitiannya stabil, attitude-nya rapi sekali.
Pernah juga bekerja dengan yang jauh lebih muda—yang naik motor lintas kabupaten, sampai lokasi tetap cantik, wangi, rapi. Kok bisa segesit itu?
Tapi di sisi lain…
aku pernah juga harus bekerja dengan senior yang nyolot dan merasa dunia modern ini “rusak.”
Atau anak muda yang beranggapan bahwa semua generasi di atasnya itu jompo dan gak paham apa-apa.
Pada tipe yang ini kadang aku cuma bisa bilang dalam hati:
“Ya Allah… tolong kuatkan mental hamba…” 😌
Sementara suamiku yang HR selalu cerita hal-hal menarik soal dinamika generasi di kantornya.
Gen Z yang suka banget party?
Dikasih tugas jadi MC, EO, penanggung jawab acara. Hasilnya? Meriah. Hidup. Pecah.
Gen X yang kenyang makan asam garam?
Diberi ruang untuk kasih sambutan, nasihat, pengalaman.
Millennials yang butuh fleksibilitas?
Dikasih banyak cuti, izin nonton konser, jalan-jalan.
Hasil akhirnya? Semua bahagia. Semua merasa “tempat ini milikku.”
Dari situ aku lama bertanya-tanya:
Benarkah setiap generasi selalu bermusuhan?
Atau… kita hanya lupa bahwa dunia ini memang natur-nya bergerak seperti itu?
Setiap Generasi Dibentuk oleh Zaman yang Berbeda
Menurut Generational Cohort Theory,
setiap generasi dibentuk oleh peristiwa besar, teknologi, kondisi sosial yang menggelilingi masa tumbuh mereka.
Itulah kenapa:
- Gen X mandiri dan realistis — mereka tumbuh dalam dunia yang keras.
- Millennials adaptif dan pencari makna — dunia mereka berubah cepat sekali.
- Gen Z kritis dan ekspresif — informasi mengalir deras sejak mereka lahir.
Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.
Hanya zaman yang berbeda.
Hanya cara bertahan hidup yang berbeda.
Lalu Kenapa Kita Saling Mengeluhkan?
Kalau menurut Social Identity Theory katanya:
otak manusia senang bikin kotak-kotak.
“In-group vs out-group.”
“Kita vs mereka.”
“Generasiku vs generasimu.”
Makanya emang paling mudah bikin kotak-kotak dengan kalimat:
- “Gen Z mah manja, semaunya sendiri!.”
- “Millennial baperan ih, udah tua kayak remaja.”
- “Gen X kaku kayak kanebo kering, dasar orang tua.”
Padahal, sering kali kita lupa bahwa…
Yang kita sebut “generasi” itu sebenarnya cuma kumpulan manusia—
yang tumbuh besar pada masanya-yang beda dengan masa kita; yang juga punya luka yang berbeda, kelebihan yang berbeda, cara bertahan hidup yang berbeda.
Yang Tua Pernah Muda. Yang Muda Akan Tua.
Polanya lucu, ya?
Boomers dulu pernah dituduh pemberontak.
Gen X dibilang terlalu independen.
Millennial dibilang terlalu idealis.
Gen Z dibilang terlalu sensitif.
Siklusnya selalu sama.
Dari dulu sampai sekarang, setiap generasi yang baru akan dianggap “mengganggu stabilitas.”
Lalu nanti mereka yang mengeluhkan… akan digantikan generasi berikutnya.
Kita semua pernah ada di posisi “generasi yang disalahpahami.”
Dan suatu hari kita akan ada di posisi “generasi yang mengeluhkan.”
Mungkin… Kita Perlu Berhenti Membandingkan
Karena ternyata yang dunia butuhkan bukan generasi yang sama,
tapi generasi yang bisa saling mengisi:
- Yang tua membawa kekayaan pengalamannya.
- Yang muda membawa kecepatan dan update pengetahuannya.
- Yang tengah menjadi jembatan yang bisa memahami keduanya.
Dunia bergerak bukan karena satu generasi dominan,
tapi karena semua generasi bekerja sama.
Dan pada akhirnya, kepiawaian kita bekerja lintas generasi
bukan diukur dari seberapa keras kita mempertahankan gaya kita,
tapi seberapa lentur kita melihat dari sudut pandang orang lain.
Itulah fleksibilitas.
Dan mungkin juga, itulah kematangan.
✨ Pertanyaan kecil minggu ini
Apakah kamu benar-benar sedang berusaha memahami generasi lain,
atau hanya sedang ingin dimengerti?
Karena kalau jawabannya yang kedua…
tua atau muda kamu, tetap saja kanebo kering 😜

