Suatu sore, si bungsu pulang dengan wajah yang terlalu serius untuk anak seusianya.
Dia duduk di sampingku, narik napas, lalu berbisik:
“Bu… kayaknya temen adek bakal masuk neraka deh.”
Aku hampir ketawa, tapi kugigit bibirku.
“Loh kenapa adek bilang gitu?”
Dia mulai menyebut “daftar kesalahan” temannya:
narik kursi, narik baju, rebut barang, ngomong kasar—
versi kecil dari dunia yang ia lihat dalam hitam dan putih.
Di kepalanya yang bulat dan masih jernih,
perilaku buruk kecil tapi konsekuensi besar.
Sederhana. Jujur. Lugu.
Aku bilang pelan,
“Apa mungkin dia gak tahu dek, kalau begitu itu tidak baik?
mungkin adek perlu bilang kalau adek gak nyaman sama perilaku dia.”
Dia diam sebentar, lalu menjawab sangat simpel:
“Oooh… gitu ya? Besok coba adek marahin. ” Ups.
Sesederhana itu.
Tapi aku jadi mikir panjang:
Kuat sekali rasa keadilan anak-anak.
Jernih sekali mata mereka memandang dunia.
Gimana lugunya mereka memandang dunia hanya dalam hitam dan putih—
dan betapa tugas kita begitu komplek, membantu mereka melihat bahwa
manusia itu lebih rumit dari sekedar daftar ‘kenakalan’ yang tampak.
Kadang dunia anak kecil itu sesederhana itu.
Tapi tugas orang tua… hampir selalu lebih rumit. 😄 Good luck ayah bunda!
✨ Punya cerita polos anak-anak yang bikin kamu tiba-tiba belajar banyak?
Share sedikit—kadang dari mulut mereka, dunia terasa jauh lebih jujur 💛

