Tentang 10 Tahun Sedekah Oksigen dan Seni Menolong yang Tetap Manusiawi
Tahun ini, Sedekah Oksigen—gerakan kecil yang aku dan beberapa teman mulai sejak 2015—genap berusia 10 tahun.
Panjang juga untuk sebuah gerakan yang bertahan tanpa sokongan perusahaan besar, tanpa donatur tunggal yang stabil, tanpa mesin PR profesional.
Gerakan yang awalnya cuma ingin membantu teman-teman kami yang jadi korban kabut asap di Sumatera dan Kalimantan…
sekarang menjelma jadi yayasan yang:
- punya puluhan anak asuh,
- mendampingi beberapa keluarga dhuafa,
- bahkan memberi “pesta kecil” tiap Jumat bagi para pejuang nafkah melalui Sedekah Nasi.
Masyaa Allah. Alhamdulillah.
Kenapa Kami Selalu Lupa Foto?
Di antara banyak keunikan Sedekah Oksigen, ada satu yang paling memalukan sekaligus paling manusiawi adalah;
Kami hampir selalu lupa foto saat kegiatan.
Biasanya baru sadar di jalan pulang—itu pun dengan sedikit panik:
“Ya Allah tadi nggak ada yang fotoin ya?”
Secara organisasi?
Ya buruk sih.
- gak ada foto yang instagrammable,
- gak ada interaksi yang tertangkap kamera,
- kadang sampai harus minta kontak lapangan mengirimkan foto.
Sementara mereka—yang bukan bagian inti dari SO—justru punya stok foto lebih banyak dari kami.
Hiks.
Awalnya kukira kami lupa karena rookie di dunia ini.
Tapi setelah 10 tahun?
Ya nggak bisa disebut rookie lagi, kan?
Jadi kenapa kok masih lupa? Apakah kami butuh ginkgo biloba?
Jawabannya: Karena Kami Sedang Menjadi Manusia
Ternyata karena kami keasyikan ngobrol.
Serius. Selalu ini alasannya setiap kelupaan.
Entah ngobrol di antara kami, dengan kontak lapangan atau dengan penerima bantuan.
Obrolannya selalu hangat.
Kadang panjang berbelok ke banyak topik.
Kadang harus menahan air mata ketika mereka cerita tentang perjuangannya.
Kadang kesal juga ketika dengar keluh kesah yang bikin geleng-geleng kepala.
Kadang saling tapping pundak untuk gantian mendengarkan cerita.
Itu semua menguras energi—dengan cara yang hangat.
Dan aku baru sadar…
Kami lupa foto bukan karena tidak kompeten.
Kami lupa foto karena sedang hadir sepenuhnya.
90% pengurus kami adalah perempuan dan ibu-ibu.
Kami memang terbiasa menjalani hidup dengan wholeheartedly.
Kami merespons manusia lain dengan seluruh energi emosional kami.
Totalitas—kalau kata para motivator.
Sampai akhirnya lupa satu hal teknis:
mendokumentasikan kegiatan.
Ternyata Ada Alasannya Secara Psikologis
Beberapa waktu lalu aku membaca tentang teori prososial dari Nancy Eisenberg.
Manusia—secara natural—merasakan kehangatan emosional ketika membantu orang lain.
Bukan hanya penerimanya yang pulih,
tapi pemberinya juga ikut stabil secara emosi.
Allan Luks bahkan memberi nama yang lebih puitis:
helper’s high – macam kata high yang dipakai menggambarkan orang mabuk;
—rasa hangat dan tenang yang muncul setelah kita berbuat baik.
Dan aku sadar,
mungkin itulah yang terjadi pada kami.
Setiap kali turun ke lapangan, kami merasa “pulang” ke dalam diri.
Lebih tenang dari saat berangkat.
Lebih waras dari sebelum mulai. Meski jauh lebih lelah dan berkeringat juga.
Memberi, rupanya, bukan cuma tindakan sosial.
Itu cara manusia tetap terhubung dengan sisi terbaik dirinya.
Tetap Perlu Dokumentasi—Dan Itu Tidak Mengurangi Keikhlasan
Tapi di tengah segala proses emosional itu,
ada satu paradoks yang tak bisa kami abaikan:
Donatur tetap butuh laporan.
Dan itu hak mereka.
Maka kami belajar pelan-pelan bahwa dokumentasi itu bukan pamer.
Bukan konten.
Bukan pencitraan.
Itu pertanggungjawaban moral.
Itu bahasa profesional dari sebuah kebaikan.
Ada kebaikan yang lahir dari ketulusan,
dan ada kebaikan yang bertahan karena kepercayaan.
Keduanya perlu.
Keduanya penting.
Menolong Dengan Tetap Menjadi Manusia
10 tahun perjalanan ini membuatku sadar:
memberi bukan soal siapa yang paling banyak membantu,
atau siapa yang paling rajin turun,
atau siapa yang paling sering tampak di foto.
Memberi yang paling tulus bukan siapa yang paling senyap’ atau paling ramai.
Tapi siapa yang paling manusiawi.
Dan semoga kami -Sedekah Oksigen- bisa terus menjadi ruang hangat itu—
tempat di mana kami “pulang” untuk menjaga kewarasan,
menata ulang perspektif,
dan belajar menjadi manusia setiap hari.
✨
Minggu ini, coba pilih satu kebaikan kecil.
Tidak perlu besar. Kecil saja. Lalu kerjakan.
Tidak perlu dokumentasi. Lalu ceritakan gimana efeknya buat dirimu.
Syaratnya:
hadirlah dengan hati.

