Orang tua melambaikan tangan saat anak berangkat dari rumah, sebagai ritual kecil penuh cinta dan rasa aman.

Belakangan ini, dua anak gadis dan ayahnya berangkat di jam yang beda-beda semua. Artinya?
Aku harus tiga kali keluar ke depan rumah, dadah-dadah, saliman, kasih kode-kode jari, dalam rentang waktu yang bahkan nggak sampai sejam.

Suatu hari, si kakak berangkatnya agak siang. Jadi saat adiknya pamit, dia masih lesehan santai baca buku di kamar. Dari bawah kami teriak:

“Kakaaaak! Adek mau berangkat! Turun dulu, salim!”

Dan dia pun turun sambil senyum—meski jelas wajahnya bilang “ya Allah ibu kenapa heboh banget sih”—tapi tetap salim dengan penuh cinta.


Keluarga Kami Memang Begitu: Ribut, Tapi Hangat

Di keluarga kami, siapapun yang mau meninggalkan rumah wajib diantar dengan adegan dramatis.

Mulai dari:

  • model lima jari,
  • model saranghaeyo,
  • model finger heart,
  • model cium angin,
  • sampai model dadah ala artis K-pop dari balkon.

Pokoknya lengkap.
Bahkan tamu pun kami antar keluar semua.

Rasanya tuh… kayak nggak kepikiran ada cara lain untuk melepas orang dari rumah ini.

Dulu mamah dan papah juga begitu. Halaman rumah dulu luas banget, sampai kami bisa mengikuti mobil tamu sampai hilang dari pandangan.
Itu lama loh. Tapi kami lakukan dengan riang—kayak ritual kecil yang otomatis.


Ternyata Ada Alasannya: Dari Agama Pun Ada Tuntunannya

Ada satu kalimat di sosmed yang pernah lewat dan langsung njleb ke hati:

“Kita nggak pernah tahu kapan terakhir kali kita melihat orang yang kita sayangi.”

Dan kalimat itu cukup buatku.

Untuk tamu, aku juga ingat satu hadits yang kurang lebih maknanya:

“jika tuan rumah mengantarkan tamunya keluar, tamu itu pergi bersama kebaikan dan membawa keluar keburukan—termasuk hal-hal buruk yang tidak terlihat.”

Jadi kalau dari sisi agama?
✔️ baik,
✔️ dianjurkan,
✔️ dan membawa keberkahan; Alhamdulillah.


Dari Sisi Psikologi Pun Ada Dasarnya: Secure Attachment

Ternyata dari sisi psikologi juga ada tuntunannya.

Ritual kecil seperti menyapa, salim, mengantar, dadah-dadah… semuanya ikut membangun secure attachment.

Menurut John Bowlby, bapaknya Attachment Theory, momen-momen kecil sebelum pergi dan saat pulang mengirim pesan:

  • “Aku lihat kamu.”
  • “Kepergianmu penting.”
  • “Kepulanganmu ditunggu.”

Ritual sesederhana itu membuat anak merasakan:

“I matter. My leaving and coming home are seen.”

Dan itu menanamkan rasa aman yang dalam.
Bukan cuma buat anak — orang dewasa pun butuh merasa dilihat.


Jadi Kenapa Aku Terus Melakukan Semua ‘Drama Dadah-Dadahan’ Itu?

Karena sebagai ibu,
dan sebagai manusia,
aku cuma ingin setiap orang yang pergi dari rumah ini tahu:

You are loved.
You are seen.
You are worth walking to the door for.
💛

Kalau kamu punya ritual kecil di rumah, cerita dong—aku seneng banget baca versi keluargamu.
Dan kalau menurutmu tulisan ini bisa bikin hati temanmu anget sedikit, titip bisikin ya ke dia. Kita sama sama tahu kan lonely-nya perjalanan jadi ibu?


Leave a comment