Katanya nggak ada gunanya nilai bagus, medali, piala, kalau akhlaknya jelek atau EQ-nya rendah atau komunikasinya buruk.
Betul.
Nggak ada yang membantah akhlak adalah pondasi.

Tapi yang sering kita lupa…
akhlak yang buruk sering berawal dari ilmu yang minim.
EQ yang kacau sering muncul dari wawasan yang sempit.
Dan kemampuan intelektual yang baik justru membantu anak menambah pemahaman, membaca konsekuensi dan mengelola dirinya.

Plis… jangan merasa bijak dengan mengecilkan pencapaian anak-anak.


Pencapaian Itu Bukan “Pamer”, Itu Bukti Anak Bertumbuh

Raport bagus? Alhamdulillah.
Dapat piala? Alhamdulillah.
Bacaan sholat tartil? Masyaa Allah.
Hafalan banyak? Masyaa Allah.
Jago ilustrasi? Keren!
Jago public speaking? Keren!

Setiap anak punya kekuatan yang berbeda.
Tapi itu bukan berarti sebagian layak dirayakan dan sebagian harus “direndahkan” supaya nggak menyinggung yang lain.

Mengapresiasi satu anak tidak sama dengan merendahkan anak lain.
Ini bukan lomba banding-bandingan.
Ini pengakuan atas kerja keras.


Kadang, Orang Dewasa Lupa Sejarah Dirinya Sendiri

Coba jujur.
Kalau dikasih anak yang akademis bagus, akhlaknya manis, emosinya matang, komunikasinya jelas…
nggak mau? Yakin?

Lucunya, orang dewasa suka bilang:
“Nilai nggak penting.”

Padahal dulu…
IPK turun 0,02 aja nangis sampai satu RT tahu.

Kadang kita terlalu cepat memindahkan luka masa kecil ke pola asuh.
Anak-anak bukan tempat kita menaruh trauma pendidikan versi lama kita.


Ini Bukan Warmindo. Kita Nggak Harus Pilih Salah Satu.

Dalam mendidik anak, kita bisa punya keduanya:
akhlak oke dan kemampuan oke.

Ini bukan memilih antara mie goreng atau rendang.
Ini tentang membesarkan manusia seutuhnya — hati, otak, karakter dan kompetensinya.

Jadi yuk…
stop pakai pola pikir “mendang-mending” buat anak.
Pola pikir itu cocoknya untuk beli HP atau tas.
Bukan untuk membesarkan manusia.

Yang lain pajang medali finisher marathon.
Aku pajang ini dulu ya, kakaaaaak. 🤭😁


Pernah gak lihat fenomena “merendahkan pencapaian anak lain demi terlihat bijak”, ceritain dong. Kadang dengar cerita orang lain bikin kita lebih hati-hati dalam memilih kata, apalagi saat bicara tentang anak-anak.
Siapa tahu tulisan ini juga bisa jadi pengingat kecil buat orang tua lain di sekitar kamu.

(Refined version of my old writing di Facebook)


Leave a comment