“Ngomong sama dia tuh kayak ngobrol sama tembok, Mbak.”
“Aku ngomong A, dia nangkapnya Z.”
“Semua omonganku dianggap kritik. Padahal sumpah… nggak ada niat.”
“Dia kayak nggak pernah puas sama yang kukasih. Rasanya aku nggak pernah cukup baik.”
Kalimat-kalimat ini, ampun deh, udah kayak playlist wajib yang selalu muncul setiap kali aku ketemu pasangan yang lagi di ujung tanduk.
Dan tiap kali mereka cerita, otakku langsung muter film pendek:
Dulu kalian ketemu di mana? Jatuh cinta gimana? Kok sekarang bisa sejauh ini?
Terus aku keinget ucapan seorang tetua pas aku masih umur dua puluhan:
“Sendok garpu aja kalau ketemu bisa bunyi, apalagi manusia.”
Mak jleb banget. Nempel sampai sekarang.
Berantem Itu Normal, Tapi Cara Berantemnya yang Menentukan
Kalau ada anak muda nanya,
“Mbak, gimana sih biar pernikahan awet?”
Jawabanku simpel:
“Jangan mimpi nggak bakal berantem.”
Bukan pesimis — realistis.
Karena menurut penelitian John Gottman, si bapak hubungan paling terkenal di dunia, 69% masalah dalam hubungan itu masalah yang bakal terus muncul.
Iya, terus menerus.
Jadi tugas kita bukan menghilangkan konflik, tapi mengelolanya.
Data dari Pengadilan Agama juga cukup bikin miris. Tahun 2024, tercatat hampir 400.000 kasus perceraian di Indonesia dan lebih dari 70% gugatannya datang dari istri.
Alasannya?
Sekitar 65% karena pertengkaran yang gak selesai-selesai.
Jadi kalau orang bilang komunikasi adalah kunci, itu bukan klise.
Itu bukti.
Empat Malaikat Pencabut Nyawa Hubungan
Menurut Gottman, ada empat pola komunikasi yang bisa mematikan hubungan, dikenal dengan istilah The Four Horsemen:
- Criticism (Kritik berlebihan)
Menyerang kepribadian, bukan perilaku.
“Kamu tuh selalu…”, “Kamu gak pernah…” - Defensiveness (Sikap defensif)
Sibuk membela diri tanpa mendengarkan. - Stonewalling (Menutup diri)
Diam, ngambek, menjauh tanpa menyelesaikan. - Contempt (Meremehkan)
Yang paling beracun — muncul dalam nada nyinyir, mata mendelik atau komentar sarkastik.
“Ya ampun, kamu tuh kenapa sih?”
Itu racun murni.
Sekali contempt masuk, koneksi emosional mulai putus sedikit demi sedikit.
Pernikahan Itu Sekolah Paling Lama
Kadang aku pikir, pernikahan itu ujian nasional dari semua soft skill yang dulu cuma kita dengar di training kantor:
emotional maturity, decision making, problem solving, analytical thinking, teamwork, conflict management — semuanya nongol di situ.
Paket lengkap. No refund. No return.
Kebenarannya agak pedes:
Hubungan rusak bukan karena sering berantem.
Tapi karena cara berantemnya salah.
Cinta Itu Bukan yang Bikin Semua Jadi Mudah
Padahal sebenarnya ya…
Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang “nggak pernah bikin capek.”
Tapi tentang dua orang yang terus belajar jadi dewasa bareng.
Kadang kocak.
Kadang bikin mendidih.
Kadang ngeselin.
Kadang ngangenin.
Kadang pengin kabur ke Antartika.
Tapi tetap balik lagi —
karena tahu:
Cinta itu bukan yang bikin semuanya mudah.
Cinta itu yang bikin kita mau belajar. Lagi. Dan lagi.
✨ Kalau kamu lagi di fase banyak gesekan dengan pasangan,
coba pause sebentar sebelum “menyalahkan”.
Tanya dulu:
“Kita lagi berantem karena masalahnya, atau karena caranya?”
Kadang, yang perlu diperbaiki bukan isi konfliknya, tapi nada dan niatnya.
Dan dari situ — hubungan mulai sembuh pelan-pelan. 🌿

