Sejak hari pertama masuk Fakultas Psikologi, satu kalimat ini terus digarisbawahi:

“Kita tidak boleh judging.”

Dan ternyata… itu susah banget.

Begitu mulai belajar tentang bagaimana manusia bertingkah, membuat pilihan, bereaksi dan menyembunyikan luka-lukanya, rasanya tangan gatal ingin bilang,

“Ah kamu mah orangnya gini.”

Tapi karena pesan itu sudah ditanam sejak awal, kami, para mahasiswa yang kemudian jadi psikolog, belajar menahan diri.
No judging jadi makanan sehari-hari.


Ketika “No Judging” dan “Judgment” Harus Berjalan Bersama

Waktu berjalan. Kami jadi psikolog.
Perusahaan meminta kami memutuskan kandidat terbaik.
Pasangan datang membawa cerita paling pribadi, meminta arah hidup.
Guru-guru bertanya apakah anak-anak yang mendaftar sudah siap sekolah.

Dan di situ, kami justru harus menggunakan judgment.

Kami mengumpulkan data — hasil tes psikologi, observasi, wawancara — lalu menenunnya menjadi satu gambaran besar.
Saat data bertolak belakang, kami memilah mana yang paling akurat.
Sampai akhirnya kami menyimpulkan profil paling mendekati kenyataan.

Proses itu panjang, hati-hati dan penuh kerendahan hati.
Dan di situlah makna judgment yang sejati: bukan menghakimi, tapi menilai dengan empati dan data.


Manusia: Objek Sekaligus Subjek

Masalahnya, objek kerja psikolog adalah manusia…
dan subjeknya juga manusia.

Kadang kami bingung:
Sejauh mana kami tidak boleh judging, tapi sedalam apa judgment harus diberikan?
Menyelaraskan dua hal ini betul-betul seni yang menuntut kejujuran pada diri sendiri.

Lucunya, dinamika ini sering banget muncul di keseharian:

“Aduh aku suka banget sama kandidat A. Pengen kuterima. Tapi kompetensinya nggak fit.”

“Gayanya nyebelin banget, tapi… dia paling memenuhi syarat.”

Itu momen di mana emosi dan objektivitas beradu pelan-pelan di kepala.


Tentang Bias yang Selalu Menyelinap

Dalam psikologi, kami mengenal yang namanya cognitive bias — kecenderungan otak untuk menilai berdasarkan jalan pintas berpikir (heuristics), bukan sepenuhnya pada fakta.

Daniel Kahneman dan Amos Tversky bilang, bias ini muncul karena otak kita butuh “hemat energi” saat mengambil keputusan.
Tapi sayangnya, hemat energi ini kadang bikin penilaian kita meleset:
karena suka → jadi toleran,
karena terganggu → jadi lebih kritis dari seharusnya.

Kesadaran bahwa bias ini selalu ada membuat kami terus menahan diri.
Karena pekerjaan kami bukan meniadakan bias —
tapi menyadari, mengakui dan menyeimbangkannya dengan data dan empati.


Psikolog Juga Manusia

Pada akhirnya, kami cuma ingin mengingatkan satu hal sederhana:
Psikolog tetap manusia.

Tidak mungkin memahami seseorang sepenuhnya hanya dalam 1–2 jam.
Manusia itu makhluk yang begitu kompleks — bahkan hidup bersama bertahun-tahun pun belum tentu membuat kita paham sepenuhnya siapa dia.

Kami hanya berusaha mendekatinya.
Menyusun puzzle yang fragmennya kadang hilang, kadang muncul tiba-tiba.
Sama sekali bukan pekerjaan mudah.

Kayak jeruk makan jeruk memang.
Psikolog — dengan kompleksitasnya sendiri — diminta memahami manusia lain yang sama kompleksnya.
Walau mungkin facet-nya berbeda.

Dan di situlah letak seninya. 🌿


✨ Kalau kamu punya teman, guru, atau pasangan yang kerja di bidang “memahami manusia”,
ingatlah — mereka juga manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri.

Mungkin empati terbesar justru lahir saat kita sadar:
menjadi manusia yang mau memahami manusia lain… itu pekerjaan seumur hidup. 💛


Leave a comment