Belakangan aku lagi sering nonton Grey’s Anatomy back-to-back. Dan baru sadar: ada perubahan besar banget di plotnya.
Di season-season awal, hampir nggak ada isu LGBT. Tapi sejak kampanye LGBT mulai kencang di Amerika, sekitar season 5, mulai masuk tokoh dan cerita yang mengarah ke sana. Bahkan di season 10 ada karakter yang mengidentifikasi dirinya sebagai… kucing. Buat konteks Indonesia—apalagi Jawa—itu sudah terasa “liar”.
Tapi tahu nggak bagian yang paling bikin aku merinding dan akhirnya memilih stop nonton kalau ada anak-anak?
Cara mereka meng-glorify seks nyaris di setiap adegan.
Setiap ada pasien muda, selalu saja ada dialog dramatis tentang belum pernah berhubungan. Ada yang sakit jantung, merasa hidupnya sebentar lagi selesai, lalu memutuskan seks bebas dan akhirnya hamil. Seks digambarkan sebagai the ultimate life experience.
Seolah hidup cuma bisa dinikmati kalau kamu sudah berhubungan seksual.
Dan itu bahaya banget kalau ditonton tanpa basic agama atau nilai yang kuat.
Karena…
itu yang terjadi sama aku waktu kecil.
Nggak ada pendidikan agama yang kokoh. Hiburan sehari-hari: film Barat.
Sekarang aku melihatnya jelas: bahaya, bahaya, bahaya!
Bukan berarti aktivitas seksual itu bukan sesuatu yang bisa dinikmati.
Tapi itu bukan satu-satunya kenikmatan yang Allah kasih di dunia ini.
Astagfirullah… kadang aku sampai mikir, bayangan dunia Barat itu apa ya soal hidup dan mati, kok seperti itu arah glorifikasinya?
Itu juga alasan kenapa aku ngotot nyekolahin anak-anak di sekolah Islam, ikutkan TPQ, dan jaga nilai dasarnya. Setidaknya, mereka punya fondasi yang lebih tebal dibanding aku dulu. Jadi kalau pun mereka nonton hal-hal kayak gitu, diskusinya lebih enak diarahkan, ada pijakan yang jelas.
Dan kalau ada yang bilang,
“Kasihan anaknya jadi capek; udah sekolah, ngaji, masih ada kegiatan lain lagi”
Aku justru mikirnya gini:
Kalau nggak capek buat hal yang baik, ya mereka akan capek juga—
capek ikut hal jelek, capek ikut arus atau capek karena cemas menghadapi banjir informasi yang nggak karuan.
Mendingan capek ngaji, capek belajar, capek eksplorasi aktivitas positif, gak sih?
Toh pada akhirnya cuma tinggal 2 pilihannya:
anaknya capek duluan kebanyakan kegiatan atau orang tuanya yang capek mbayarin. wink

