Tulisan ini dibuat pada masa pandemi Covid, 2 Agustus 2021.
Semoga bisa jadi reminder buat kita yang sekarang sudah kembali sibuk dengan dunia.


A Busy Mind

Belakangan, kepala dan hati rasanya teraduk-aduk nggak karuan.
Kayak ada lebah yang ngeeeeeeng… ngeeeeeeng… di dalam kepala.
Orang bule bilang buzz, tapi menurutku “ngeeeeng” jauh lebih menggambarkan kekacauannya.

Aku masih ingat ilmu dari senior soal organisasi dulu:
setiap organisasi wajib melakukan dua hal—operasional harian, dan lompatan besar sesekali.

Hidup di masa pandemi juga begitu.
Kita menjalani hari demi hari dengan target sederhana: tetap masak, rumah lumayan rapi, anak-anak kena omel secukupnya (nggak diomelin kok rasanya justru aneh), dan suami… ya diomelin maksimal—yes emak-emak?

Tapi tetap saja kita butuh sebuah lompatan.
Sesuatu yang dipersiapkan panjang dan berliku, tapi ketika dilakukan membuat kita naik satu level.
Dan belakangan, itu yang kupikirkan:
“Lompatan apa yang kulakukan selama pandemi? Selain lompatan berat badan?”


Kemewahan memikirkan lompatan itu mendadak berhenti, ketika berita kematian datang… lalu disusul kematian berikutnya… dan berikutnya lagi.
Entah sampai kapan.

Kalau pun kita ditanya, mungkin banyak dari kita yang nyaris putus asa.
Tetangga. Istri. Suami. Anak. Orangtua. Paman. Bibi. Teman. Senior.
Setiap kematian membawa cerita yang tidak adil kalau tidak diceritakan, meski bagi sebagian orang hanya jadi statistik.

Berhadapan dengan kematian membuat banyak prioritas berubah.
Malu rasanya mengeluh cuma karena badan sumeng setelah vaksin.
Malu rasanya bilang butuh “break sebentar”, ketika ada kawan yang saturasinya turun.
Mengomeli suami atau anak pun terasa nggak pada tempatnya, ketika malam kita masih bisa memeluk mereka.
Uh… nulis ini aja bikin mata berkaca-kaca.


Dan kupikir, mungkin lompatan kita selama dua tahun itu bukan berupa naiknya aset, bukan jabatan baru, bukan mobil baru, bukan rumah baru.
Mungkin bukan sesuatu yang bisa difoto atau dipamerkan di Instagram.

Mungkin lompatannya adalah:

  • kemampuan untuk tetap berharap,
  • kepercayaan pada hati-hati baik di luar sana,
  • kebaikan-kebaikan kecil yang terasa seperti oksigen,
  • sebotol minum untuk ojol,
  • sekotak nasi untuk nakes,
  • segenggam beras untuk tetangga,
  • atau sepotong bakwan panas yang dikirim ke depan pintu saat berbuka.

Dua tahun itu mengajarkan kita lompatan yang sifatnya ke dalam:
sabar yang meningkat,
syukur yang melimpah,
harap yang tidak putus,
hati yang lebih lembut,
kepala yang lebih jernih,
dan kemampuan melihat manusia lebih manusiawi.

Bisa jadi… memang itu lompatan terbesar kita.


Leave a comment