Menulis ini sebenarnya dengan sedikit kekesalan, sejumput kesedihan, dan banyak gelengan kepala.
Jadi, tadi malam saya, suami, dan si bungsu pergi ke minimarket dekat rumah untuk belanja beberapa kebutuhan. Sayangnya, perjalanan kami harus melewati perempatan Jombang—perempatan Zodiak—di Pondok Aren, yang, kata suami, sebentar lagi akan setara legendanya dengan Kalimalang Bekasi. Warga sekitar pasti paham. Yang tidak tinggal dekat situ, mohon bersabar mendengar kisah saya.

Perempatan ini punya “fitur spesial”:
dua jalur yang berhadapan akan hijau bersamaan, untuk lurus, belok kanan, dan belok kiri, karena lampunya cuma satu jenis. Tidak ada lampu hijau terpisah.
Hasilnya?
Setiap kali lampu hijau menyala, semua mobil langsung berebut seperti lomba lari dadakan. Yang lurus gas, yang belok kanan potong jalur, yang kiri ikut ambil kesempatan. Pokoknya… chaos total.
Dan kalau lampu merah? Ya chaos juga—tapi beda arah saja.

Yang membuat saya tercengang adalah pola perilakunya.
Setiap kali satu mobil berhasil belok kanan dan memotong jalur dari lawannya, mobil-mobil di belakangnya akan ikut mengikuti, satu per satu, sampai mobil terakhir—tanpa memberi giliran.
Akibatnya? Mobil dari jalur depan sering kehabisan lampu hijau sebelum sempat bergerak.

Saya lalu bertanya ke beberapa orang:
“Kenapa sih nggak gantian?”
Jawaban mereka hampir sama:
“Kalau aku ngasih jalan duluan, nanti jalur sana nggak mau gantian. Aku malah nggak kebagian.”
“Kalau bisa nyelip sekarang, ya manfaatkan. Nanti belum tentu dapat.”

Mumpung.
Aji mumpung.
Mumpung yang depan sudah buka jalan, tinggal ngikut meski beloknya sampai miring nggak karuan.

Dan saya langsung terpikir:
Apa bedanya perilaku ini dengan artis yang “membawa anaknya” masuk film karena kenal produser?
Apa bedanya dengan pejabat yang “menurunkan jabatan” ke anaknya?
Apa bedanya dengan anggota DPR yang mengangkat istri, anak, keponakan, kakak, adik sebagai “tenaga ahli” karena syaratnya fleksibel dan dia tahu celahnya?

Menurut saya: tidak ada bedanya.
Skala berbeda, konteks berbeda, dampak berbeda—
tapi niat dasarnya sama:
takut tidak kebagian.
takut kalau tidak memanfaatkan momen, hilang kesempatan.
takut kalah cepat.
takut rezekinya tidak cukup.

Mental apa itu, kalau bukan mental miskin?

Ketika orang bilang bahwa para pemimpin kita mewakili masyarakatnya, saya rasa ada benarnya. Kita sering mencaci mereka—padahal kalau diberi peluang yang sama, bisa jadi kita melakukan hal yang tidak jauh berbeda.

Jangan buru-buru menyangkal.
Menghadapi godaan lampu hijau di perempatan saja kita sudah kalah.
Yakin bisa menolak kalau suatu hari dapat tawaran jadi pejabat karena “kebetulan anaknya yang sedang menjabat”?
Yakin?

Karena mental miskin itu licik.
Perilakunya bisa bermacam-macam, tapi dorongan batinnya selalu berangkat dari lubang yang sama:
lubang tidak percaya rezeki Allah,
lubang tidak takut menzalimi orang lain,
lubang aji mumpung—yang menganggap keadilan harus dicuri, bukan diberikan oleh Yang Maha Adil.

Astaghfirullahaladzim.
Jangan diulang ya, Fan.


Leave a comment