Hari-hari belakangan kembali berjauhan dengan si sulung yang di asrama. Adik-adiknya sudah masuk sekolah, dan saya mendadak punya banyak waktu buat berpikir.
Aha, kemarin kepalanya dipakai buat apa, Bu? Sudahlah…
Belakangan ini berita mahasiswa bunuh diri rasanya sudah tidak lagi mengejutkan. Bahkan anak SMP gantung diri di lemari pun ada. Dan mereka bukan anak dari kondisi ekonomi sulit, bukan anak yang tertinggal secara akademik, bukan juga anak yang antisosial. Mereka berprestasi, supel, pandai bergaul.
Kok bisa?
Ada banyak kajian—agama, sosiologi, psikologi, literasi digital—tapi kali ini saya ingin bicara sebagai seorang ibu.
Sebagai ibu dari tiga anak dengan tiga karakter yang berbeda, saya makin sadar: setiap anak punya titik putus asa sendiri-sendiri.
Sulung saya tidak masalah gagal kalau penyebabnya masuk akal dan dalam kendalinya. Kalau kalah karena ada yang lebih jago—fine. Tapi kalau kalah karena sinyal internet, keputusan orang lain, atau “faktor dalam”—dia bisa meledak.
Anak kedua tidak cepat putus asa, tapi kalau sudah kena titiknya, emosinya meledak dan sangat ekspresif. Kadang capek dengarnya, tapi kalimat sederhana seperti:
“Tarik napas, Kak. Mau dibantu atau mau coba sendiri dulu?”
—itu bisa menenangkannya. Meski ya… harus diulang-ulang.
Anak bungsu?
Sementara ini belum kenal kata putus asa.
“Gak boleh coklat ya, minum susu. Gak boleh susu ya minta puding. Gak boleh puding ya izin sama yang lain.”
Ups.
Tapi ya memang begitu: setiap anak punya titik putus asanya sendiri.
Peran kita sebagai orang tua adalah mengasah respons mereka saat titik itu datang.
Sebagai momma bear, seringnya saya ingin langsung ambil alih, selesaikan semua, haluskan jalannya. Ayahnya pun sama: cepat sekali kasih solusi.
Tapi belakangan kami belajar menahan diri—tidak cepat-cepat membantu, tidak segera menyodorkan jalan keluar.
Dalam teori resiliensi, setidaknya ada enam faktor dominan: supportive relationship, persepsi diri yang positif, kemampuan adaptasi, optimisme, fleksibilitas, dan visi jangka panjang.
Saya ingin fokus pada tiga faktor: persepsi diri, adaptasi, dan fleksibilitas.
Sebagai orang tua, kita sangat berkontribusi pada persepsi diri anak. Ketika mereka menghadapi hal yang sulit lalu berhasil menyelesaikannya, di situlah persepsi diri positif terbentuk.
Meskipun hati kita ambyar melihat mereka kesulitan, kadang langkah terbaik adalah membiarkan mereka melewati prosesnya.
Kalau kita terlalu sering menyamankan anak, itu seperti memotong ranting-ranting kecil yang baru tumbuh dari pohon kesayangan kita—hanya supaya pohonnya tidak “nabrak tembok”.
Maka kalau memang anak sedang dipersiapkan masuk pondok atau pesantren untuk membentuk kualitas dirinya, ya biarkan mereka berproses. Jangan kebanyakan ikut campur.
Kalau kasurnya nggak spring bed gimana?
Gpp, biar tahu jenis-jenis kasur di dunia ini.
Kalau makanannya nggak enak gimana?
Gpp, biar belajar membedakan keinginan lidah dan kebutuhan tubuh.
Kalau nanti nggak ada laundry?
Gpp, biar tahu bahwa hidup itu bukan cuma akademis—ngucek juga agenda penting.
Kalau teman-temannya nggak asyik gimana?
Ya nggak semua orang di dunia ini asyik.
Belajar milih dan milah itu skill.
Kalau digigit nyamuk?
Ya kan ada obat nyamuk.
Kalau nyamuknya aides?
Ya biar tahu bahwa “kebersihan sebagian dari iman” bukan sekadar slogan, tapi hadits yang harus dijalani.
Kalau bosan karena nggak ada hiburan?
Belum tahu ya kalau bosan itu salah satu pintu kreativitas?
Lalu tugas kita apa?
Tugas kita adalah hadir, menjadi supportive relationship mereka.
Jadi jangan heran kalau anak mudah putus asa, sementara hal sepele saja masih kita recokin.
Biarkan mereka menikmati masa belajarnya.
Biarkan para guru dan ustadz menjalankan perannya, tanpa harus setiap jam memberikan update.
Dulu kita juga nggak bisa masak, kan Buibu?
Akhirnya bisa juga—meski keasinan. Ups.
Semangat ya…
Jadi orang tua yang tidak melahirkan generasi kerupuk mlempem.
Caiyo!

