Setelah melewati bulan-bulan yang super hectic, hari ini rasanya bisa bernapas sedikit lebih lega.
Anak mbarep masuk asrama barunya.
Anak tengah dianter ayahnya latihan, persiapan annual show dua minggu lagi.
Anak bayik kelelahan setelah diseret ke sana kemari mengikuti urusan kakak-kakaknya.
Buka kulkas… isinya penuh makanan kotakan. Sisa event, ditambah delivery yang menemani kami selama berminggu-minggu chaos.
Sudah lama tidak masuk dapur.
Akhirnya saya putuskan masak nasi goreng—menu perdamaian antara emak capek dan kulkas berantakan.
Makan berdua si kicik sambil menanggapi obrolannya yang ke sana kemari.
Saat itu, ingatan saya melayang ke masa mama rahimahullah masih ada.
Minggu pagi = nasi goreng.
Hanya hari itu kami sarapan.
Pakai sisa sambal di kulkas, lauk timun atau kerupuk terung.
Lidah memang punya memori yang tidak kalah kuat dari hati.
Kemarin Mas G berlinang air mata saat mau masuk asrama.
“Kirain karena pernah boarding di SMP nggak bakal berat, ternyata berat, Bu…” katanya lirih.
Saya menjawab sambil menahan air mata,
“Nothing prepares you, Mas, buat berpisah sama orang tua. Nothing. Bahkan sampai kamu tua nanti, berpisah itu nggak pernah mudah. Kamu hanya belajar lebih jago mengelola emosi dan ekspresi. Tapi hatinya… akan tetap bolong.”
Dia memandangi mata saya dalam-dalam sambil menangis.
Beberapa bulan terakhir dia memang super sweet pada seluruh rumah, Masya Allah… Saya tahu itu caranya mempersiapkan diri menghadapi fase asrama tahap dua ini.
Tapi saat detiknya tiba, tetap saja mengsedih.
Kami berpelukan bertiga—si tengah masih latihan di Ciputra.
Tidak ada mata yang kering.
Jauh di dalam hati, kami tahu ini langkah yang benar, langkah yang baik, langkah yang layak diperjuangkan.
Tapi beratnya hati atas nama cinta… ya tetap berat.
Sebelumnya Mas G juga sempat kecewa berat: gagal ikut lomba matematika ke India karena surat izin dari sekolah barunya tidak keluar.
“Kenapa, Bu? Kok gitu? Kalau memang nggak boleh berangkat, kenapa aku lolos G? Kenapa dibantu bikin paspor? Kenapa Bu…?”
Ibunya pun menahan luka melihat anaknya terluka.
Pelan-pelan saya bilang,
“Jangan menggugat takdir, Mas. Itu tipis sekali bedanya dengan melanggar rukun iman. Pertanyaannya bukan kenapa. Tapi Allah lagi minta aku belajar apa?
Allah lagi siapin plot twist apa buatku?
Karena kenapa itu pasti terjawab—hanya waktunya yang misteri.”
“Kalau Allah sudah putusin Mas G nggak berangkat, ya nggak berangkat,
meski Pak Ridwan ikut bantu.
Kalau Allah putusin Mas G berangkat, ya berangkat,
meski yang nolak kepala sekolah MAN IC sekalipun.
Jadi yang bikin kamu nggak berangkat itu bukan manusia… tapi Allah.”
Potongan dialog itu terjadi sambil makan bakwan Malang di bawah pohon depan sekolah barunya.
Ingatan itu bertabrakan dengan ingatan masa lalu, saat saya kuliah di Yogya.
Dulu saya sempat berpikir,
mamah papa kok nggak nangis ya waktu ninggalin aku?
Sekarang saya tahu jawabannya.
Mereka sedang menahan tangis dengan kekuatan gabungan ultraman dan batman—demi tidak melemahkan langkah anaknya.
Tulisan ini saya buat untuk menguatkan teman-teman yang sedang berjauhan dari anak-anak karena mereka menuntut ilmu.
InsyaAllah…
air mata itu akan mencari jalannya menjadi tetesan air yang memadamkan bara di neraka.
Dari foto hanya terlihat punggung Mas G, saat matsama di asrama barunya.
Malam pertama jadi anak MAN.
Momen bersejarah di keluarga—cucu pertama masuk MAN. Biasanya kami larinya SMA negeri atau SMA Katolik.
Hihihi.
Mari saling mendoakan…
Semoga anak-anak dimudahkan perjuangannya menuntut ilmu, dan kita, para orang tuanya, dikuatkan mendampingi mereka dari kejauhan.
Aamiin.

