Malam ini tiba-tiba teringat sebuah diskusi—atau lebih tepatnya eyel-eyelan, tapi mari kita sebut “diskusi” biar terdengar bijak—dengan si anak tengah.
Waktu itu dia mengungkapkan perasaan yang menurut saya tidak berdasar.
Jelas sekali, perasaan yang ia rasakan muncul bukan karena fakta, tapi karena selective attention.
Ketika saya jelaskan kejadian yang sebenarnya, dia menjawab:
“Kan yang punya hati kakak, jadi boleh dong kakak merasa begitu?”
Ucapan itu langsung mengingatkan saya pada jargon yang beberapa tahun terakhir populer:
“Every feeling is valid.”
Padahal, kalau mengingat pelajaran statistik, valid itu artinya “mengukur apa yang memang ingin diukur”.
Kalau diterapkan ke perasaan, berarti perasaan itu disebut valid bila ia muncul sebagai reaksi yang tepat terhadap kejadian yang benar.
Masalahnya?
Otak kita sering tidak seobjektif itu.
Ia penuh bias, asumsi, distorsi, dan interpretasi cepat yang belum tentu tepat.
Contohnya sederhana.
Kita di kerumunan, melihat seseorang yang kita kenal. Mau menyapa… eh dia lewat begitu saja.
Kesal? Jelas ada.
Perasaan itu exist. Tapi apakah valid?
Belum tentu.
Mungkin dia tidak pakai kacamata.
Mungkin pandangannya lurus karena sedang fokus pada satu hal.
Mungkin dia sedang terburu-buru, dan kita semua tahu: manusia paling tidak “here and now” adalah manusia yang sedang dikejar waktu.
Dalam Islam, inilah konsep memberi udzur kepada saudara kita.
“Mungkin dia begini… mungkin dia begitu…”
Tujuannya apa?
Memoderasi perasaan agar reaksi kita tepat dengan kejadian yang sebenarnya.
Jadi, bagi saya, bukan semua perasaan itu valid.
Semua perasaan itu nyata—tapi tidak semua layak dijadikan dasar bertindak.
Contoh lain:
Seseorang merasa tertarik pada orang lain padahal sudah menikah.
Apakah perasaannya ada? Ada.
Apakah valid? Tidak.
Kalau semua perasaan itu valid, maka tidak ada lagi diskusi soal pelakor, perselingkuhan, atau isu moral lainnya.
Karena semuanya akan berlindung di balik kalimat:
“Cinta tak bisa memilih.”
Padahal perasaan muncul dari interpretasi subjektif, bukan kebenaran objektif.
Karena itu, saya tidak setuju dengan jargon “every feeling is valid”.
Banyak perasaan muncul dari asumsi, bukan fakta.
Dan ketika demikian, tugas kita adalah memoderasi, bukan memanjakannya.
Acknowledging—yes.
Validating—not always.
Karena kalau semua perasaan dianggap valid, maka kita berhak menindaklanjutinya.
Padahal tidak semua perasaan perlu diikuti.
Sering, justru yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berkata:
“Perasaanku salah. Perlu direvisi.”
Hanya orang yang benar-benar berani yang mau mengakui itu.
Semoga kita termasuk orang-orang pemberani yang berani menantang perasaan kita sendiri, bukan sekadar menuruti apa pun yang muncul dari asumsi kita.

