Si bungsu kemarin diajak jalan-jalan sama bude dan sepupu-sepupunya. Naik kereta, muter-muter Bogor, kasih makan kancil (menurut versinya), beli ikan, dan pulang jam 10 malam dengan wajah super riang gembira.

Abang sepupunya yang umur 21 cerita, dari pagi si bungsu cuma mau makan french fries.
Sore-sore ditawari,
“Adek mau burger nggak?”

Jawaban si bungsu (4 th):

“Nggak lah, itu kan jahat sama Palestina.”

Abangnya sempat bingung, trus jelasin,
“Bukan, dek. Ini burger yang nggak jahat sama Palestina. Mau yang ini?”

Si bungsu jawab,
“Gak deh, masih kenyang. Adek dimsum aja.”

Entah karena memang berhati-hati, atau cuma pengen dimsum.
Tapi sebagai ibunya, saya bangga sekali—dia bisa mempertahankan value-nya, meski lagi pergi sama keluarga lain.
FYI, bude dan abang sepupunya ini Katolik ya.
Dan itu nggak mengubah kompas moral si bungsu.

Sepanjang hari dia jalan-jalan sambil pakai kerudung.
Sampai rumah saya bilang,
“Wah makasih ya dek, panas-panas naik angkot tetap pakai kerudung.”

Jawabnya:
“Loh ya malu lah bu kalau lepas.”
Lalu dia nambah, “Tapi adek lepas sebentar waktu di kosan mbak.”
“Iya nggak apa-apa, kalau di kosan mbak boleh,” jawab saya memastikan.


Value pada anak memang harus di-embed.
Nggak bisa diharapkan muncul ujug-ujug dari angin semilir sore hari.
Salah besar kalau dipikir “anak pasti ngerti sendiri kok nanti”.
Tidak.
Value harus di-embed dan diperkuat—berulang-ulang.

Lewat contoh.
Lewat obrolan.
Lewat tantangan kecil sehari-hari.

Saya yakin banyak orang tua di luar sana melakukan hal yang sama.
Karena pekerjaan terberat orang tua itu bukan nyari rezeki, bukan ngurus PR… tapi meng-embed nilai kebaikan.

Jadi kalau ada anak yang perilakunya tampak tidak empatik, cenderung keras atau heartless, ya bisa jadi proses embedding-nya kurang kuat atau bahkan terabaikan oleh orang tua/walinya.

Bukan mutlak salah anak—apalagi kalau belum aqil baligh.
Tapi tetap harus diingatkan untuk kembali ke jalur yang benar.
Dan itu seharusnya menjadi tamparan keras, bahkan menyakitkan, bagi orang tuanya.

Sementara bagi kita yang melihat dari luar, momen ini bisa jadi reminder yang suaranya nguing-nguing memekakkan telinga:
Pastikan embedding value ke anak berjalan tepat waktu, tepat cara, supaya mereka tetap beradab mulia meski saat tidak bersama kita.


Leave a comment