Belakangan ini saya kembali tercebur ke sebuah dunia yang sulit dideskripsikan.
Sebenarnya saya sudah lama mengenal dunia ini—sempat nyebur sebentar, lalu vakum lama karena hamil, melahirkan, dan komitmen menemani bocah minimal tiga tahun pertama hidup mereka.
Dan karena si bungsu sudah mulai sekolah lagi… saya kembali reach out.

Alhamdulillah, diterima dengan baik.
So here I am—menyandang status “bu guru”, kata si bungsu.

Mengajar selalu menghadirkan kepuasan tersendiri.
Tapi murid-murid saya kali ini bukan murid biasa.
Mereka adalah anak-anak yang punya seribu alasan untuk menyerah dari hidup, tapi mereka memilih untuk tetap bertahan.

Sebagian besar adalah dhuafa.
Ada yang yatim karena ajal.
Ada yang yatim karena orang dewasa di sekelilingnya belum siap jadi orang tua.
Ada yang tiap akhir pekan mencuci baju keluarga karena orang rumah kelelahan bekerja.
Ada yang sering absen karena sudah “bekerja” sebagai tukang parkir.
Ada yang ayahnya ada, tapi fungsinya tidak.
Ada yang diasuh nenek karena ibunya bekerja jauh.


Hari pertama saya mengajar, saya ajak mereka bermain kartu—supaya beban-beban emosi itu punya jalannya keluar.
Ketika sebagian dari mereka bercerita sambil menangis, saya harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak ikut pecah.

Pertanyaan saya sederhana:
“Apa sih yang paling kamu inginkan sekarang?”

Jawaban mereka:

  • pengen dimengerti
  • pengen disayang
  • pengen didukung
  • pengen punya uang banyak
  • pengen membanggakan orang tua

Yang mengejutkan:
tidak ada yang meminta HP, baju bagus, atau makanan enak.

Saat itu hati saya bergetar.
Betapa berharganya keluarga yang hadir, memahami, menerima—sesuatu yang sering kita kecilkan maknanya.
Saya kira saya datang untuk membagikan ilmu… ternyata mereka yang melemparkan pelajaran manis ke hadapan saya.


Ketika tiba saatnya berpisah sementara dengan mereka—padahal baru sebentar mengenal—saya hanya bisa berkata,
“Sekolah ya, Nak… sekolah yang pinter. Jangan mikir yang lain dulu.”
Sambil terus mengusap mata yang tidak kering-kering.
Sebagian dari mereka saya peluk erat—mengingat beban hidup yang mereka pikul.

Anak-anak itu tidak memilih lahir dalam kondisi seperti itu.
Dilihat dari banyak sisi, mereka berhak marah pada hidup, tapi mereka tidak melakukannya.
Mereka jatuh–bangun, terseret–terseok, tapi tetap melangkah.

What a proud moment menyaksikan itu semua.


Belum lagi para gurunya.
Tidak dibayar.
Mengajar dengan sukarela.
Kadang tegas karena anak-anak butuh disiplin.
Kadang memeluk karena anak-anak butuh kasih sayang.
Kadang menyuruh karena mereka perlu mandiri untuk survive.

Inilah definisi orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Tidak banyak bicara… tapi perilakunya menampar lembut hati saya.
Allah sedang meminta saya belajar dari para sesepuh ini.


Waktu wisuda kemarin, saya sengaja membawa anak-anak saya ke “sekolah ibu”.
Tidak banyak penjelasan—saya hanya berharap vibes yang mereka rasakan bisa memperluas wawasan mereka.

Bukan sekadar agar mereka lebih bersyukur,
tapi agar mereka tahu bahwa dunia bukan hanya tentang diri mereka sendiri.
Dunia ini adalah tentang seberapa banyak manfaat dan kebaikan yang bisa kamu tinggalkan di hati orang lain.

Sudah dua hari berlalu, mereka masih membicarakan pengalaman itu.
“Sekolahnya bagus,” kata si bungsu.
Si sulung yang biasanya agak asosial, kemarin diam menikmati acara—saya tahu dia mengerti maksud ibunya.
Si tengah—yang datang terlambat—justru terpukau dengan konsep “sekolah gratis”.

Lalu dia bertanya:
“Kalau gratis… yang bayar siapa, Bu?”

Saya jawab,
“Allah, Kak. Allah yang bayar.”

Baarakallahu fiikum para guru SMP Terbuka Diponegoro—terima kasih sudah menerima saya.
Semoga Allah membalas kebaikan panjenengan dengan balasan yang tak pernah terbayangkan.

Dan untuk murid-murid perdana Bu Fanny:
sekolah ya Nak. School might be tertiary, bisa jadi. Tapi itu adalah kunci kalau kamu ingin mengubah hidupmu.
Kecuali kalau kamu anak presiden—nggak sekolah pun aman, nggak pinter pun aman, tukang nyinyir pun aman… kalau anak presiden.


Leave a comment