Yang warga Bekasi, tolong kasih udzur dulu ke judulnya, ya. Jangan naik darah dulu. Biar saya ceritakan dulu kisahnya.

Akhir pekan kemarin kami melakukan perjalanan panjang dari Bintaro ke Pedurenan, Bekasi Timur. Suami sepupu saya meninggal—masih muda, baru menikah, dan usia pernikahannya jelas belum panjang. Dan meski jarang bertemu, apalagi sejak suaminya sakit dan bahkan dua lebaran berlalu tanpa saling jumpa, berdiri di pemakamannya… melihat keluarganya, terutama istrinya yang duka sekali… otomatis gembeng saya kumat.

Saya peluk dia erat.
Dan saya menahan mulut untuk tidak mengucapkan kata yang paling sering dilontarkan orang, “sabar ya”.

Karena… kurang sabar apa seorang istri yang baru kehilangan suami, tapi tetap berdiri tegak, menyalami setiap tamu yang datang memberikan penghormatan terakhir?

Jadi saya memilih diam, hanya mengelus lengannya sambil memberi senyum tipis.
Di hari yang sama, suami teman saya juga meninggal.
Dan sebelumnya, saya menyaksikan sahabat baik saya kehilangan suami.
Saya menjadi saksi betapa kekuatan dan kerapuhan bisa menyatu jadi satu—dan itu indah sekaligus memilukan.

Ingatan saya kembali ke 1 Januari 2012, hari papah berpulang.
Saya masih ingat jelas teriakan mamah di IGD Rumah Sakit Premier Bintaro.
Saya yang sedang parkir mobil saja bisa mendengar raungannya dari luar.

Kehilangan orang yang kita cintai itu sulit dideskripsikan. Tapi kehilangan suami… itu dunia lain.
Saya melihatnya dari mata-mata para perempuan yang pernah mengalaminya—dan saya sendiri tidak berani membayangkannya.


Dalam perjalanan pulang-pergi melewati jalur Bekasi yang panjang, berliku, dan sama sekali tidak familier, suami saya sampai hampir kram karena tegang menyetir.
Dan di situlah muncul percakapan kami bertiga—saya, suami, dan mas G—tentang bagaimana Allah menciptakan sabar, syukur, dan Bekasi.

Sayangnya, versi asli percakapan itu tidak layak konsumsi publik… tapi cukup menginspirasi tulisan ini. Ups.


Untuk para istri:
suami itu kadang ujian kesabaran, kadang ujian kesyukuran.
Tapi dari lingkaran teman-teman saya yang kehilangan suaminya, saya mendengar hal yang sama:

“Suamiku itu baik, dia dulu sukanya begini begitu…”
“Kalau dulu ada suamiku, yang beginian pasti dia yang urus…”
“Aku dulu tahu beres, sekarang harus belajar sendiri…”
“Rasanya ngga karuan, Mbak… mendadak ngga ada yang jagain.”

Dengar langsung dari pelakunya… mata saya pasti langsung berkaca-kaca.
Walaupun dalam hati kadang lagi super kesel sama suami sendiri.

Pulang dari momen-momen itu, hati saya melembut.
Kesel yang tadinya level 1000%… ya berkurang.
Turun jadi 950%.
Lho kok cuma segitu?
Ya ternyata hati memang tidak selalu langsung lurus. Ups.


Perjalanan ke Bekasi sekali lagi mengingatkan saya:

Betapa sering saya jauh dari rasa syukur dan sabar.

Bersyukur masih punya suami.
Bersyukur suami sehat.
Bersyukur suami bertanggung jawab dan menjalankan perannya sebagai imam.
Dan bersabar jika masih ada sedikit-sedikit hal yang tidak sesuai “standar kinerja harapan saya”.

Dan mungkin itu jawaban dari pertanyaan lama:

“Kenapa Bekasi diciptakan?”

Untuk membantu saya mengingat inti kehidupan dunia:
sabar dan syukur.

Alasan lain-lainnya?
Biar jadi misteri—untuk mereka yang tinggal, maupun yang cuma melintas dan berharap tidak perlu lewat lagi. Hehe.


Leave a comment