Dulu, waktu kuliah, saya masih ingat datang ke sharing session perdana kelompok pecinta alam. Pembicaranya seorang senior yang dielu-elukan kegantengan, keaktifan, dan keilmuannya. Branding itu nempel kuat di kepala, apalagi beliau berbagi ilmu secara cuma-cuma. Kami duduk lesehan di musholla berkarpet hijau, sambil sesekali melirik senior lain yang—jujur saja—memanjakan mata.
Ada satu kalimat yang sampai hari ini tidak pernah hilang dari ingatan saya:
“Untuk tetap survive, satu organisasi harus melakukan dua hal:
(1) menjalankan day-to-day activity dengan efisien,
(2) melakukan quantum leap agar bisa memimpin di masa depan.
Keduanya wajib. Tidak bisa hanya salah satu.”
Entah karena karisma seniornya, atau aura musholla yang adem, atau karena ada pemandangan segar di sekitar, kalimat itu melekat dan jadi fondasi cara saya melihat hidup. Saya percaya, prinsip itu berlaku bukan hanya untuk organisasi, tapi juga untuk perkembangan personal.
Kita harus tetap mengerjakan rutin harian sambil menyiapkan satu lompatan besar untuk bertahan di masa depan.
Pada masanya, itulah yang membuat saya bertahan bekerja dari jam 8 pagi sampai 8 malam.
Itu day-to-day activity saya.
Saya butuh uang untuk survive di rantau, apalagi papah waktu itu di-PHK karena krismon.
Tapi di kepala, saya terus bertanya:
“Lompatan apa yang harus saya lakukan supaya tetap kompetitif di masa depan?”
Alhamdulillah, lompatannya adalah menyelesaikan skripsi di tengah kekacauan hidup waktu itu. Lulus secara mandiri—kalau dihitung versi dunia—karena tentu saja yang membuat semua mungkin hanyalah Allah.
Pindah ke Jakarta, naik ojek dari Tangsel ke Kebayoran Baru, lalu pindah naik antar-jemput ke Sunter, menjadi day-to-day berikutnya.
Jam 5 sudah di ojek, jam 8 malam baru sampai rumah tante.
Menyiksa?
Banget.
Tapi rutinitas itu perlu demi survival.
Dan lompatan yang saya rencanakan waktu itu adalah:
mengambil S2 di UI setelah terkumpul dananya.
Alhamdulillah, eksekusinya tepat waktu. Tidak ngulang pendekatan jaman S1.
Saat saya memutuskan full mendedikasikan waktu untuk tugas domestik—bukan sekadar masak, nyapu, ngepel, tapi mengabdi ke keluarga dengan tenaga, ilmu, dan seluruh waktu—itu juga day-to-day activity.
Apakah melelahkan?
Apakah bikin stres?
Tentu, Sista.
Tapi rutinitas ini perlu untuk memastikan keberlangsungan hidup anak-anak yang memang masih kategori minor.
Lalu lompatan usia 50-an nanti apa Fan?
Ada rencana-rencana panjang.
Nggak pantas saya beberkan di sini.
Tapi kata kuncinya sama: ada lompatan yang sedang disiapkan.
Kalau melihat kisah saya, sebagian besar lompatan itu datang dari pendidikan.
Waktu di Yogya, apakah S1 itu kebutuhan primer? Sekunder?
Tidak.
Saya butuh makan, bayar kos, bayar SPP 225 ribu demi tetap terdaftar di UGM.
Kuliah itu kebutuhan tersier, bahkan kemewahan.
Tapi itu lompatan yang harus dilakukan.
Di Jakarta, apakah saya perlu S2?
Tidak.
Bahkan ada teman yang bilang saya bodoh melepaskan pekerjaan bagus dengan gaji besar.
“Kenapa nggak kelas karyawan?”
“Kenapa nggak kelas weekend?”
Karena saya tahu kemampuan saya.
Saya perlu fokus.
S2 itu bukan kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier.
Tapi itu kebutuhan lompatan.
Dan benar—kalau dulu saya tidak menyelesaikan S2, mungkin sekarang saya tidak bisa bekerja dari rumah sambil:
- wawancara kandidat,
- menyusun laporan,
- bikin job description,
- analisis beban kerja,
- dan proyek lainnya—
sembari antar jemput anak bayik yang masih 4 tahun.
Pendidikan itulah yang membuka jalur loncat di masa depan.
Itu sebenarnya fungsi pendidikan:
“bukan kebutuhan hidup, tapi kebutuhan lompatan.”
Jangan sakit hati kalau ada yang bilang pendidikan bukan kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier.
Memang bukan!
Pendidikan adalah kebutuhan bagi mereka yang ingin melakukan quantum leap.
Yang tidak etis adalah ketika kalimat itu keluar dari pejabat publik yang KPI-nya memastikan pendidikan tinggi untuk masyarakat yang pajaknya dipakai membayar gajinya.
Tapi ya kita ini kan sudah kenyang makan hal tidak etis, bukan?
Kita pernah disuruh tanam cabe sendiri.
Pernah disuruh kurangi makan nasi.
Pernah disuruh coba makanan pokok lain.
Pernah dipaksa menerima kecurangan.
Pernah dibohongi berkali-kali… lalu tetap balik lagi ke siklus yang sama.
Lupa?
Yang penting sekarang adalah menyusun strategi:
Bagaimana memastikan generasi muda tetap punya kesempatan untuk melakukan lompatan kompetitif?
Beasiswa? Banyak.
Sekolah swasta yang lebih transparan? Bisa.
Kelas karyawan? Why not.
Kuliah di luar negeri? Serius, banyak yang lebih murah.
Di Al Azhar, Cairo, ada jurusan yang bahkan gratis.
Dalam kondisi chaos seperti sekarang, yang diuji adalah:
- fleksibilitas kita mencari jalan,
- adaptasi terhadap perubahan rencana,
- keberserahan kepada Yang Maha Kuasa.
Semangat.
Dan ini ditulis bukan untuk menolerir perilaku tidak etis para pejabat publik.
Tapi untuk mengingatkan para orang tua dan calon orang tua:
Yang penting bukan apa yang dilakukan para penjahat dalam film.
Yang penting adalah bagaimana tokoh utamanya selalu menemukan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka.
Itulah esensi pendidikan:
pintu menuju lompatan.

