Sekelebat tadi saya membaca sebuah postingan di microblog—lupa akun siapa—tentang memaafkan. Intinya begini: memaafkan itu bukan kewajiban; seseorang perlu “layak” dulu untuk dimaafkan.
Kalimat itu membuat saya berpikir panjang.
Bukan soal setuju atau nggak setuju.
Lebih kompleks dari itu.

Dalam hidup saya, ada tiga kesempatan besar di mana saya dipaksa belajar tentang memaafkan.

Yang pertama, rasanya berhasil saya lewati—saya memaafkan, meski tetap berharap tidak perlu lagi bertemu dengan orang tersebut.
Yang kedua, juga berhasil. Bahkan yang ini… saya tidak masalah kalau harus berinteraksi lagi, meskipun hanya virtual. Kadang saya malah bersyukur karena lewat perbuatannya, Allah membelokkan hidup saya ke arah yang justru membawa kebaikan.

Lalu… bagaimana rasanya memaafkan?

Menurut pengalaman saya, rasanya:

Ringan — seperti ada batu terangkat dari dada dan bahu.
Haru — seperti terbebas dari sesuatu yang sejak lama mengikat.
Lembut — seperti angin kembali berhembus setelah lama mati angin.
Bebas — seperti rantai akhirnya terlepas.
Bahagia — sungguh, saya masih ingat pagi pertama setelah memaafkan… matahari terasa lebih indah dari biasanya.

Dengan semua keindahan itu, saya sekarang sedang berada di kesempatan besar ketiga.
Seringnya saya bisa memaafkan.
Kadang-kadang masih berat, masih muncul rasa enggan untuk dekat-dekat dengan mereka yang perlu saya maafkan.
But I’m trying.
Saya terus mencoba.

Maka kalau ada yang bilang memaafkan bukan kewajiban, bagi saya itu ada benarnya.
Memaafkan itu hak, bukan kewajiban.
Karena kita berhak merasakan damai.
Berhak merasa ringan.
Berhak bahagia.
Berhak memilih apa dan siapa yang akan kita bawa dalam ingatan.

Tidak memaafkan itu, seperti kata salah satu guru saya:

“Seperti meminum racun, lalu berharap orang lain yang mati.”

Selamat memaafkan, teman-teman.
Lakukan demi diri kalian sendiri.

Kalau kata Tantri Kotak, “Bila berat melakukannya, pelan-pelan saja.

You all deserve a peaceful life and a bright smile. 💛


Leave a comment