Beberapa waktu lalu kami sekeluarga main ke sebuah tempat wisata di Utara Jakarta. Bukan karena direncanakan, tapi karena kantor suami mengadakan acara di sana.
Begitu sampai, antrian sudah mengular panjang di depan pintu masuk.
Saya langsung mencari titik antrian yang benar.

Di tengah kerumunan, saya sempat mendengar nama perusahaan suami disebut, tapi karena saking penuhnya orang, saya tidak bisa membedakan suara siapa. Ya sudah, ikut antre saja.
Baru 5 detik berdiri, tiba-tiba ada panitia yang mengenali suami dan mengajak kami masuk lewat pintu khusus.

Alhamdulillah… batin saya, meskipun hati tetap agak sulit diajak damai.

Kami masuk lewat sisi kiri kerumunan itu, langsung menuju lokasi acara tanpa hambatan.
Tapi sepanjang jalan berkelok menuju dalam, saya menundukkan pandangan dan menyibukkan diri ngobrol dengan anak-anak, karena…
rasanya tidak nyaman.
Ada perasaan seperti memperlakukan orang lain tidak adil: mereka harus mengantri, kami melenggang.

Meski kami memang berstatus peserta acara, hati tetap rasanya gimana gitu.


Di dalam taman bermain itu, saya baru sadar ada yang berbeda dari kunjungan terakhir.
Ada jalur khusus bagi mereka yang membeli tiket premium—yang membuat mereka bisa melewati antrian panjang.

Kali ini, dalam posisi saya sebagai pengunjung jalur umum, saya melihat mereka yang “jalur cepat” itu lewat dengan santai.

Entah rasa apa itu—campuran antara memahami, menerima, tapi juga ada bisikan kecil:

“Enaknya… cuma bayar lebih, bisa lewat aja gitu.”

Di titik itu, saya teringat sebuah video di mana seorang anak pengusaha kaya memberi motivasi pada generasi muda.
Mbak cantik itu bercerita bahwa dirinya pernah rugi 800 juta saat berinvestasi, tapi dia tetap bangkit dan sekarang sukses.
Sebagian netizen kagum.
Sebagian lagi menulis: “Seumur hidup belum pernah lihat uang segitu.”

Mbak itu punya privilege—lahir dari orang kaya.
Dengan posisinya, dia bisa memberi motivasi, menginspirasi, bahkan membantu.
Itu super-power miliknya.

Dan kami, di hari itu, juga punya privilege kecil: masuk tanpa antri.
Privilege itu memberi kami super-power untuk mengasah sesuatu yang jauh lebih penting:
kehalusan hati.

Untuk melatih empati pada mereka yang harus menunggu tertib.
Untuk menghormati petugas yang mengatur kerumunan.
Untuk menjaga diri agar tidak besar kepala.


Lalu saya sadar, setiap privilege selalu datang dengan tanggung jawab.

Mereka yang punya tiket jalur cepat, misalnya, punya super-power untuk mengajak anak yatim piatu masuk taman bermain itu.
Memberi mereka pengalaman dilayani bak raja.
Menghadiahkan momen bahagia yang mungkin mereka ingat seumur hidup.

Privilege bisa dipakai untuk kebaikan seperti itu.

Para selebritas pun punya privilege.
Dan menurut saya, Soimah adalah salah satu contoh terbaik:
memperlakukan penontonnya dengan manusiawi, mengambil foto dari HP mereka, mengajak mereka bernyanyi.
Aksi sederhana, tapi menyentuh sangat dalam.

Itu super-power yang digunakan dengan elegan.


Setiap kita punya privilege.

Ada yang punya wajah tampan/cantik—super-power untuk mengangkat kepercayaan diri orang lain, bukan merendahkan.
Ada yang punya kecerdasan tinggi—super-power untuk membantu mereka yang lebih lambat mencerna ilmu.
Ada yang punya rezeki lebih—super-power untuk membantu orang lain dengan modal kecil yang mungkin sangat berarti bagi mereka.

Setiap privilege = sebuah super-power.
Dan itu berarti kita semua punya kesempatan untuk menyentuh hati seseorang, bahkan mengubah hidupnya sedikit demi sedikit.

Beda urusan dengan mereka yang memakai privilege untuk keserakahan:
menyakiti, menindas, memperkaya diri dan keluarganya, membengkokkan aturan.
Itu bukan super-power—itu disfungsionalitas berkedok kekuasaan.

Yang begitu tidak perlu jadi teladan.

Fokus saja pada privilege kita masing-masing.
Karena, pada akhirnya…

Privilege-mu apa, kawan?
Super-powermu apa?


Leave a comment