BBeberapa minggu lalu, saat mengantar anak ke TPQ, mobil saya ditabrak Alphard. Betul. Ditabrak. Awalan di- yang artinya: sengaja dilakukan pengemudinya.
Kok bisa? Nah, ini bagian menariknya.
Waktu itu habis maghrib. Jalanan Bintaro padat seperti biasa — jam antar-jemput after-school, jam pulang kantor.
Tiba-tiba saya sadar spion kiri saya tertutup. Saya pelankan mobil sambil menyalakan sen kiri, deg-degan takut tadi nyenggol sesuatu tanpa sadar.
Saat sedang mengecek… BRUK!
Alphard hitam menyalip dari kanan, potong kiri, dan sengaja menabrak sisi depan kanan mobil saya.
Karena kaget dan ada dua anak kecil di belakang, saya refleks mengerem.
Pengemudi Alphard turun — bapak-bapak, rapi, wajah lelah, mungkin pulang kerja.
Saya tidak marah, hanya kaget. Tidak turun dari mobil karena ada anak-anak.
Beliau mendekat, dan dialog pun dimulai:
“Bapak ada apa?” (dengan harapan: “Maaf ya Bu, saya capek, ngantuk…”)
Dia menjawab dengan suara tinggi:
“Gak papa. Saya kira saya nabrak mobil. Ternyata nggak ya.”
Saya tertegun. “Bapak nabrak mobil saya.”
Jawabannya tetap:
“Nggak kok. Saya kira saya nabrak. Tapi nggak. Nggak ada yang rusak kan?”
Padahal dia sedang melihat penyok mobil saya.
Beliau akhirnya mengakui bahwa dia kesal karena merasa saya mengambil jalurnya.
Dan karena jengkel… dia sengaja menabrakkan mobilnya.
Kemudian menutupinya dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Saya sempat mengikutinya beberapa ratus meter, berharap bisa silaturahmi.
Beliau bilang tergesa-gesa mengejar sholat maghrib — sambil marah-marah karena merasa “jalan saya direbut”.
Saya berkata:
“Kalau saya memang merebut jalan Bapak, saya minta maaf. Tapi kalau Bapak sengaja menabrak mobil saya… itu bagaimana?”
Tidak ada jawaban yang nyambung.
Hanya penolakan.
Lalu gas pol meninggalkan tempat.
Sepanjang hidup saya pernah nyenggol orang, nyenggol mobil, dimarahin ibu-ibu. Lumrah.
Tapi ditabrak karena dianggap merebut jalan?
Oleh Alphard pula?
Itu baru pertama kali.
Tangan dan kaki saya gemetar, tapi tetap harus menenangkan dua bocah yang alhamdulillah sangat kooperatif.
Beberapa hari setelahnya, pikiran saya masih berkutat pada peristiwa itu.
Mengapa seseorang rela merusakkan sesuatu yang sangat berharga, hanya untuk melampiaskan emosi sesaat?
Dan makin dipikir, makin terasa:
Kita ini sering begitu.
- Marah → banting barang → barang rusak, masalah tetap.
- Kecewa dengan pasangan → selingkuh → keluarga retak → anak kehilangan stabilitas.
- Tersinggung sedikit → mengambil langkah ekstrem yang merusak hal-hal yang jauh lebih berharga.
Emosi tak terkelola membuat kita bodoh.
Dan Rasulullah sudah mengajarkan 1400 tahun yang lalu:
“Siapa yang menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya.”
Karena ketika amarah tidak ditahan, logika ambruk.
Dan kita bisa menciptakan kerusakan yang jauh lebih besar daripada sebuah panel mobil penyok.
Bukan hanya rela melukai Alphard mahal miliknya,
tapi juga rela melukai hati orang-orang tersayang,
yang jelas nilainya jauh lebih tinggi dari seonggok mobil.
Ada banyak cara mengelola emosi:
dissociate, reframe, mindfulness, slow thinking — teknik sederhana tapi bekerja.
Supaya kalau suatu hari kita punya Alphard…
kita nggak rela merusaknya hanya karena emosi 10 detik yang sebenarnya bisa dikelola.
Stay happy.
Stay waras.
Banyak bersyukur.
Karena dunia memang tempatnya cobaan — bukan tempat kita memuaskan ego.

