Sudah makin umum ya sekarang orang bicara soal kesehatan mental. Dulu, topik ini rasanya cuma milik kalangan tertentu—yang berduit, yang kuliah psikologi, atau yang memang sedang bermasalah. Sekarang? Semua orang bicara. Semua orang healing. Semua orang “self care”. Tapi jujur… saya sering deg-degan lihatnya.
Contohnya seorang teman. Pemasukan nggak pasti, bayar makan keluarga pun ngos-ngosan tiap bulan. Tapi tetap mengalokasikan dana khusus buat membership gym, atas nama kesehatan mental.
Belum lagi undangan healing ke sana kemari—dari anak muda sampai remaja jompo macem saya. Healing, piknik, nongkrong di kafe… semua dikasih label “demi kesehatan mental”.
Ada lagi yang lebih unik: shopping therapy. Beli tas merk KREMES seharga puluhan bahkan ratusan juta—dan itu pun atas nama kesehatan mental.
Saya nggak sedang membahas mereka yang memang mampu, karena ya itu hak mereka. Saya bicara tentang yang nggak mampu, tapi membungkus perilaku impulsifnya pakai jargon “mental health”.
Lalu ada bagian paling menyedihkan tentang kesehatan mental di era sekarang.
Setiap kali menerima klien, saya selalu mengingatkan:
“Jangan sampai kesehatan mentalmu mengorbankan kesehatan mental orang lain.”
Tapi faktanya? Sekarang justru makin banyak perilaku yang memakai dalih kesehatan mental, tapi merusak kesehatan mental orang lain.
Contoh paling pedih: perselingkuhan.
Sering dimulai dari “aku nggak dipahami” atau “aku nggak dihargai.”
Lalu jadilah drama: merasa berhak bahagia, berhak waras, meski itu menghancurkan kesehatan mental pasangan halalnya, anak-anaknya, dan keluarganya.
Ironi, ya?
Ada juga yang memaki orang tua, pasangan, anak, saudara—atas nama kesehatan mental.
Belum lagi jargon sakti:
“Gak apa-apa putus silaturahim, yang penting mental health-ku aman.”
Ehm… ngadi-ngadi.
Kita ini manusia biasa: kadang benar, kadang salah, kadang jatuh, kadang kepleset.
Nggak semua pergesekan hubungan harus dibakar habis cuma demi slogan mental health yang salah kaprah.
Saya pribadi bukan penganut paham begitu.
Buat saya, kesehatan mental itu baru bermakna kalau dipahami secara komunal.
I need to be mentally healthy so I don’t damage my family’s mental health.
Sehatkan dirimu, tapi jangan korbankan orang lain.
Caranya? Ah, itu artikel yang beda lagi.
Stay healthy. Stay sane.
But most of all… stay kind. 💛

