Pagi ini saya antar si kecil ke TK. Seperti biasa: serahkan kartu absen, salaman, dadah-dadah, lalu saya melipir balik ke mobil. Tepat saat saya melangkah, datanglah 2–3 anak lain menuju pintu masuk. Dan dari dalam terdengar suara meriah para guru TK menyambut murid-muridnya.
Tanpa melihat pun saya tersenyum. Saya bisa membayangkan ketulusan mereka, semangatnya, gerak tubuhnya yang heboh tapi hangat, lagu-lagu spontan, dan tentu saja… pengaruh luar biasa yang mereka pancarkan ke anak-anak kecil itu.
Sebelumnya, saya baru koordinasi dengan tim proyek. Salah satu admin saya—ibu tiga anak—bertanya soal format form dan rumus Excel. Saya tahu betul dia sering begadang setelah anak-anak tidur, demi merapikan dokumen proyek.
Ketika saya ingatkan soal istirahat, jawabnya:
“Tenang mbak, ini justru refreshing-ku. Lihat tabel, bikin form, rapiin font, nyamain spasi… ini passion-ku.”
Membaca WA itu jam 00.00…
Saya langsung senyum kecut. Karena jujur, semua yang dia sebut itu adalah mimpi buruk saya. 🤣
Dan dua hal kecil hari ini kembali mengingatkan saya:
Talent & passion itu nyata.
Dan bekerja sesuai talent & passion itu adalah surga dunia versi paling sederhana namun paling mahal.
Bayangkan:
Kita melakukan sesuatu yang kita suka,
lalu entah bagaimana…
ada orang yang membayar kita untuk itu.
Indah kan?
Tidak semua orang bisa selembut dan sekreatif guru TK—menyambut anak dengan sepenuh hati dan tubuh.
Tidak semua orang bisa menikmati membuat tabel tengah malam—memastikan tiap font dan spasi sempurna.
Saya, jelas bukan termasuk golongan itu. 😅
Tapi menemukan talent & passion itu nggak instan.
Kadang harus muter, jatuh bangun, nyasar profesi, sampai akhirnya tahu jalur mana yang bikin kita mekar, bukan mengerut.
Dan ketika akhirnya ketemu?
Rasanya seperti bunga yang tumbuh di tempatnya: ia mekar tanpa perlu membandingkan siapa yang paling indah.
Jadi…
perjalananmu menemukan talent & passion sudah sampai di titik mana?
Masih mencari? Sedang mencoba? Atau mulai mekar pelan-pelan?

