Terinspirasi dari pertanyaan seorang teman soal kenapa baca Qur’an rame-rame di pinggir jalan, saya jadi mikir….
Saya pribadi, jujur aja, nggak berani baca Qur’an di pinggir jalan. Kenapa? Malu!
Bacaannya masih banyak salah. Makhraj berantakan. Tajwid on–off macam lampu disko. Waqaf–ibtida kadang kayak hasil lempar koin.
Jadi kalaupun diajakin tadarusan massal di pinggir jalan, saya bakal mundur teratur.
Tapi kalau anak-anak dibolehin ikut?
Wah, saya langsung antarkan si kakak (9 th) dan mas G (12 th). Saya tungguin dari jauh sambil hati kemropok lihat penerus saya lebih lancar Qur’an di usia dini.
Pulangnya tinggal tanya: “Mau jajan apa?” Dan semua masalah hidup selesai dengan es krim lima ribuan di McD. Beres!
Kalau suatu hari ada acara belajar baca Qur’an rame-rame 1000 orang di pinggir jalan, saya malah ikut jadi muridnya.
Saya bakal duduk takzim di depan ustadzah yang bakal nyimak bacaan saya. Malu? Iya. Berani? Juga iya.
Niatnya apa, Fan?
Niatnya simpel:
- Pengen bilang… belajar Qur’an telat itu nggak keren, tapi nggak menyerah belajar Qur’an itu keren banget.
- Pengen bilang ke anak muda… ayo belajar, jangan menyesal nanti kayak saya.
- Pengen bilang ke yang sama-sama tuwek… semangat ya kawan, terlambat bukan alasan berhenti.
- Pengen bilang pada yang merasa belajar Qur’an itu susah… semua hal itu susah sebelum kita bisa.
Lalu ada yang tanya, “Apa nggak baiknya sih baca Qur’an di rumah aja? Kenapa harus rame-rame?”
Ok. Yuk jawab dalam hati beberapa pertanyaan ini:
- Apa nggak baiknya riba itu diam-diam?
Lah, iklan cicilan sekarang lebih heboh dari promo skincare. - Apa nggak baiknya zina itu diam-diam?
Artis remaja liburan bareng pacar ke Bali–Eropa malah diliput, diselipin caption “Harus banget ke sini sama ayanggg”. - Apa nggak baiknya perilaku kaum Nabi Luth itu diam-diam?
Sekarang perusahaan raksasa malah mengendorse dengan campaign glitter di mana-mana. - Apa nggak baiknya rasisme itu diam-diam?
Nyatanya, politisi nasional aja berani ngomong etnis tertentu sambil nyisipin stereotip buruk… dan kita cuma bisa geleng-geleng.
Banyak banget hal buruk yang oleh agama mana pun jelas dilarang, tapi malah dikampanyekan besar-besaran.
Tapi begitu hal baik dilakukan rame-rame… eh kita yang disuruh diam-diam.
- Sedekah jangan di-posting, riya!
- Ngaji rame-rame pamer!
- Jilbab nggak perlu, jilbabin hati dulu!
(Ini gimana ya? Mau jilbabin hati pakai apa? Voal premium dijahit lewat lambung?)
Jadi pertanyaannya sekarang:
Kenapa hal-hal buruk boleh tampil di billboard kota, tapi hal baik disuruh sembunyi-sembunyi?
Why oh why?
Kadang kita hanya perlu ngegas seperlunya untuk membela hal baik — bukan buat gaya-gayaan, tapi buat ngelurusin frame dunia yang makin miring.
Teruskan hal-hal baik.
Kalau perlu rame-rame, ya rame-rame saja.
Yang penting niatnya lurus. Yang penting manfaatnya nyata.

